Know, Love, and Rise Yourself

Di pagi yang sendu dimana matahari pun malu-malu untuk menampakkan dirinya, lelah pun menghampiri setelah semalaman begadang menemani permata hatiku yang sedang demam, sebuah tugas rumah pertama menghampiri dari kelas matrikulasi IIP. Barulah saya tahu kenapa disebut Nice Home work, karena bagi saya tidak hanya nice tapi menggairahkan, seperti semangat ditengah lelah, seperti cahaya di pagi yang syahdu.

Tugas ini simpel sebenernya diawali pertanyaan tentang satu ilmu apa yang ingin kita pelajari di universitas kehidupan ini. Entah kenapa bayanganku menuju pada materi belajar di kelas kecilku tentang mengenali diri sendiri. Banyak orang yang bingung akan mengambil peran apa di universitas kehidupan ini karena mereka tidak memahami diri mereka sendiri.

Maka langkah awal yang aku lakukan adalah mencoba menuliskan keinginan atau cita-cita apa saja yang ingin aku capai. Apa saja potensi yang ada dan tidak ada dalam diriku. Hasilnya menjadi sebuah design thinking dan ternyata dari sinilah aku baru memahami kebutuhan ilmu yang perlu ambil di universitas kehidupan ini. 


Ini design thinking yang aku buat sambil menimang anakku yang masih demam. Terdiri dari hobi, yang pertama aku tulis sesuai saran mbak Hepi Risenasari, fasilitator IIP. Lalu cita-cita, passion, ilmu yang dimiliki, weakness atau kelemahan yang dimiliki serta peran yang telah dijalani. Mirip analisa SWOT ya isinya.

Dari sini aku mendapat kesimpulan bahwa kita perlu memahami diri kita (Know Yourself) agar kita bisa menerima diri kita (Love Yourself) lalu berkembang menjadi lebih bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain (Rise Yourself).

Know Yourself

Memahami diri sendiri dengan mengetahui potensi yang kita miliki dan yang tidak kita miliki. Bakat produktif yang bisa dikembangkan. Serta peran yang ingin kita ambil.


Love Yourself

Menerima diri sendiri atas kekurangan yang kita miliki. Fokus pada potensi yang kita punya.


Rise Yourself

Mensinergikan potensi yang kita miliki dan bekerjasama dengan pihak lain untuk membantu kita di bidang yang tidak kita kuasai agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.


Kembali ke tugas yang aku buat. Setelah mengamati design thinking ini aku tidak bisa mengambil satu ilmu yang ingin aku pelajari karena semua sudah dalam proses aku pelajari tapi ada satu ilmu diluar itu semua yang amat penting bagi saya dan belum saya pelajari adalah Ilmu menjadi Ibu Profesional. Itulah kenapa saya ada disini, menimba ilmu yang tidak saya miliki. Ini bukanlah sebuah bualan tapi ini refleksi diriku. Mengingatkanku alasan kenapa aku harus belajar disini.

Ilmu tidak akan masuk kedalam diri seseorang yang penuh dengan kesombongan, ilmu pun tidak akan menyerap pada diri seseorang yang enggan membaca, bersabar menyimak bait-bait ilmu yang disampaikan para guru. Maka kukosongkan gelasku, aku sediakan waktu, pikiran, tenaga dan keluargaku untuk belajar bersama-sama menimba Ilmu Ibu Profesional dengan saya. Saya, Ibu, sebagai project leader dan keluarga , Suami dan anak, adalah suport team. Belajar, disaring dan langsung praktek setelah itu evaluasi. Serta mengikat ilmu tersebut dalam bentuk tulisan.

Pelajarilah adabnya sebelum mempelajari ilmunya. Begitulah ulama mengajarkan. Maka mempelajari adab menuntut ilmu akan memudahkan seseorang dalam menuntut ilmu.

Semoga Allah memudahkan kami menyerap setiap ilmu yang diberikan.

Tazkiyatun Nafs : Makna dan sarana

Resume Kulwap Belajar HE Minggu ke -2

Tema : Tazkiyatun Nafs
Nara sumber : Bunda Rita Riswayati

Rita Riswayati:

*TAZKIYATUN-NAFS*
Dasarnya: Q.S Al Baqoroh: 129,151
An Nazi’at: 18-19
Al Lail : 17-18
Asy-Syams:9-10

Liyadewi: Jadi inget Inner Child klo bahas Tazkiyatun Nafs mbak…

Rita Riswayati:

Dalam Q.S Al Baqoroh ayat 129,  “dan mensucikan mereka” , maksudnya tast pd Alloh dan memurnikan penghambaan kepadaNya.
-Tafsir Ibnu Katsir-

TN itu untuk orang yg sdh aqil baligh, sdh atau belum menikah, punya anak atau tidak.

Kalau saya baca dari kitab tafsir Ibnu Katsir, *membersihkan/mensucikan itu maknanya adalah tunduk dan ta’at*

Jadi *how*nya, apapun yg bisa membuat kita makin tunduk dan ta’at pada Alloh.
Efeknya hati menjadi bening, jernih jiwapun sehat baru bimbingan Alloh, Rosul, orang” sholih dan apapun serta siapapun ‘guru kehidupan’ akan membuat kita dapat mengambil hikmah. Kitapun tambah sholih. Orang sholih itu produktif dalam kebaikan.

Liyadewi: Tazkiyatun nafs klo Qur’an terjemah mensucikan jiwa

Rita Riswayati: TN itu yg termudah wirid. 
Yg tersulit Qiyamul Lail
Artinya mensucikan Jiwa
Maknanya tunduk dan ta’at

Liyadewi: Jadi ibarat kita bersihkan satu ruangan (hati) jadi mudah mendekorasi nya (ilmu, hikmah)
Suka bgt pkek analogi gni aq orgnya 
Analogi g nyalahin syariat kan mbak 😁

Rita Riswayati: Start dan finish beban penghambaan adalah Tauhid yg membersihkan jiwa dari syirik dan berbagai akibatnya spt ‘ujub, dengki, sombong, kikir , *amarah*, dzolim, cinta dunia, dll.

Tuh ketemu, ternyata obat amarah dan kawan”nya itu cuma dg  ingat dan kembali ingat bahwa kita hamba Alloh yg satu, tak ada tandinganNya, total.

Kita bukan hamba dunia, hamba materi, hamba obsesi, hamba masa lalu, hamba syahwat

B Rita: Obatnya keliatannya simple, tapi usahanya berat ya,,, Semangat, kudu bisa!! 
Sabar,,, sabar,, #ngelusdada 
😌😌

Liyadewi: Wah ini ngerubah pola pikirku Lo mbak , sempet terpikir inner child dan tazkiyatun nafs semacam sepaket yg hrus hadir diawal pengasuhan

Tapi ternyata g ya, klo TN jalan dgn baik kelar semua urusan ya

Rita Riswayati: Saya tahu  beratnya hidup seseorang ibu apalagi ditambah beban masa lalu.
Maka kita hrs cerdas, lepaskan beban itu dg cara paling mudah yg kita bisa, gratis pula. TN lagi, TN terus.

Betul mba
Gak perlu teknik yg kudu dicari-cari, kecuali bebannya traumatik banget.
Perlu bantuan.
Tapi pertolongan Alloh lah yang paling membantu. Yakin!
Kalau kita gak bisa lepas beban masa lalu, kita hakan temukan banyak hambatan untuk maju .
Padahal anah gak akan berkurang, nambah terus.
TN itu mensucikan diri plus melepaskan beban, kecuali penghambaan. Jadi apapun amanahNya, termasuk anak,jadikan itu aktualisasi diri dari penghambaan kita kepada Alloh. 
Udah, kelar masalah kita😀
Iman pada qodho & qodar

*Pada saat kita berdamai dengan masa lalu, artinya kita sedang mengimani Alloh dan takdir dariNya*

Selamat jalan innerchild, trauma dan apalah yg bikin gak move on

Liyadewi: Iman kepada Qodo dan qodar Ini pelajaran SD tapi ternyata baru paham skrg aq mbak 😅
Mgkn krna dlu cuma disuruh nyebutin aja tnpa paham esensinya

Rita Riswayati: Mulai sekarang, pelajaran agama hrs kontekstual.
Guru repot masalah konteks. waktu, tempat dan aktivitas terbatas. HE yg gak ada batas. Anytime, anywhere.

Liyadewi: Wah pas ney buat ngereview materi apa itu HE

Jdi klo diartikan bahwa HE itu kurikulum rumah, dimana grand design pendidikan anak dipegang orang tua, dan sekolah, komunitas atau bimbel sebagai suport sistem aja gitu bener nggak mbak?

Agni Kediri HE: tp realitanya zaman skrg banyak org tua yg memilih menitipkan anak2 di penitipan… (maaf bkn bermaksud memojokkan ibu2 yg bekerja🙏🏼) krn ada ibu2 yg tdk bekerja di luar rumah pun yg jg lebih suka menitipkan anaknya ketimbang mengasuh sendiri…

Rita Riswayati: Mungkin krn belum memahami dan menikmati aktualisasi diri dalam penghambaan pada Alloh, melalui anak sebagai amanah.

*Induk Sarana TN*:
> Sholat (Al -Ankabut: 25)
> Zakat, infak, shodaqoh ( Al Lail : 18)
> Shaum ( Al Baqoroh: 183)
> Tilawah Al Qur’an:  Al Anfal: 2)
> Dzikir ( Ar- Ra’d: 28 & Al-Fajr: 27-28)
> Tafakkur (Ali Imron: 190-193)
> Mengingat kematian (Al- A’raf: 185)
> Muhasabah harian (Al Hasyr: 18)
> Mujahadah /bersungguh-sungguh ( Al ‘Ankabut: 69)
> Amal Ma’ruf dan nahi munkar (Al Ma’idah: 78; Asy-Syams: 9; Ali Imran: 104)
> Melakukan pelayanan umum dan khusus dan tawadhu’ ( Al Hijr: 88)
> Taubat ( Al Furqon: 70)

*dinukil dari Intisari Kitab Ihya’Ulumuddin, syekh Imam Al Ghazali

Bahasa Kasih

​Resume Kulwap Minggu Ke-2

Belajar HE

Tema : Bahasa Kasih

Nara Sumber : Bunda Umi Sholihah

Untuk materi bahasa kasih bisa diunduh disini

materi bahasa kasih
Dan untuk mempraktekkan bahasa kasih bersama pasangan sambil minum teh hangat bisa klik link dibawah ini

kuis bahasa kasih
Umi Sholihah: Ada 5 Tipe Bahasa Kasih antara lain;

1.  Kata Pendukung

2. Waktu Berkualitas

3. Pelayanan

4. Menerima Hadiah

5. Sentuhan Fisik
_Bahasa kasih merupakan cara seseorang mengekspresikan & menerima rasa cinta ataupun perhatian dari dan kepada orang lain._
Setiap orang mempunyai kebutuhan emosional utk dihargai, diakui & diperhatikan. Dalam konteks bahasa kasih ini disebut tangki kasih.

Bila tangki kasih seseorang penuh, maka ia menjadi positif & siap memunculkan potensi terbaik dlm dirinya, sebaliknya bila ia kosong maka seringnya relasi antara pasangan mjd kurang harmonis
Liyadewi: Bunda kmren smpet diskusi kn kita g bisa merubah dri mnjdi yg seperti pasangan mau, klo konteks nya bhasa kasih pasangan.

Nah brarti ap c tujuan dri memahami bhasa kasih dan menyikapinya?
Umi Sholihah: Setiap orang punya bahasa kasih yang dominan, pasangan suami istri boleh jadi punya bahasa kasih dominan yg sama, tapi boleh jadi berbeda. Permasalahannya ketika seorang suami bahasa kasihnya *pelayanan* misalnya, dia cenderung mengungkapkan rasa kasihnya terhadap istri dgn cara melayani (contohnya membantu pekerjaan rumah tangga, membuatkan minum, memijit dll) & ia pun cenderung berharap istrinya melakukan hal yg sama pula terhadap dirinya, dgn begitu baru ia merasa dicintai.
Kadang mungkin suami sudah banyak melakukan banyak hal terhadap kita, seperti memberi hadiah, membantu pekerjaan kita, sering mencium kening, sering memuji, namun ia sangat sibuk sehingga tidak ada waktu utk sekedar ngobrol intens atau meluangkan waktu berdua saja, sehingga tetap saja kita merasa tdk mendapat kasih sayang dr suami. Tangki kasih tidak terpenuhi secara maksimal.
Liyadewi: Nah tu gmn bunda 🤔
Umi Sholihah: Disinilah pentingnya memahami bahasa kasih diri sendiri  & pasangan, kita bisa secara efektif memenuhi kebutuhan emosionalnya.✅
Liyadewi: Klo msih dgn krkter sndri2, susah emg mrubh kebiasaan
Umi Sholihah: Bicara bahasa kasih adalah bicara tentang kesediaan untuk memberi..
Analoginya begini bund..

Misal saya orang indonesia, hanya mengerti bahasa indonesia.

Sedangkan suami orang inggris misalnya; hanya bisa mengerti  bahasa inggris.

Nah, supaya saya merasa benar2 dicintai, suami saya harus belajar mengatakan ‘aku cinta padamu’.

Demikian pula saya, harus belajar mengatakan ‘I love You’ kepada suami agar ia paham.
Klo masing2 kita keukeuh hanya bicara dalam bhs yg kita mengerti maka maksud tdk akan bisa ditangkap dgn baik. Biarpun sehari 100x saya katakan ‘aku cinta padamu’ suami tetep kalem.. ga ngerti soalnya..😅
Liyadewi: Wew berat juga ya 😅
Umi Sholihah: Nggak bund..

Let it flow aja..😊

Pake hati ❤

[10/3 14.00] Umi Sholihah: Kita nyantai aja ya, saya ditaro aja disini kira2 seminggu biar ada kesempatan yg lain mencerna gitu..😁

Waktu online orang beda2..palagi emak2.. parebut hape ma anak2 😅
Liyadewi: Ok lanjut Bun,

Klo untuk bahasa kasih anak ney gmn Bun?
Umi Sholihah: Untuk anak2 juga bisa diterapkan bahasa kasih ini..

Sama saja seperti orang dewasa, hanya saja bentuknya mgkn disesuaikan

1. Memberi Waktu berkualitas misal dgn menemani mereka jalan2, ngobrol berdua, membacakan dongeng sambil dipangku dll

2. Memberi Pelayanan diwujudkan misal diwujudkan dgn sesekali membuatkan makanan kesukaannya, membantunya mengerjakan PR dll

3. Memberi kata pendukung misal dgn memuji saat dia melakukan hal baik, memberi motivasi saat ia tdk percaya diri dll

4. Jika bahasa kasihnya menerima hadiah sdh jelas ya..

Berikan ia sesuatu sbg hadiah tidak perlu harus mahal. Hadiah jug bisa berwujud kehadiran di saat2 spesial dlm hidupnya; misalnya saat ia tampil di acara2 sekolah.

5. Memberi Sentuhan fisik  bisa berwujud mengelus kepala, memberi pelukan, memegang tangannya dll.
Liyadewi: Anakku sukanya peluk2 ini berarti Bahasa kasihnya sentuhan ya Bun?
Umi Sholihah: Bisa jadi bund..

Karena klo anak2 ga mgkn kita suruh isi kuesioner ya..😁

Cara mudah utk mengetahui bahasa kasihnya ya dgn melihat gimana dia mengekspresikan sayang ke orang lain.

Seperti anaknya bund Liya tsb.
Umi Sholihah: Klo yg bhs kasihnya menerima hadiah ciri khasnya baik org dewasa maupun anak adalah tetap menganggap pemberian itu berharga walaupun hanya sehelai bulu; ia akan menjaganya baik2, dikasih tempat khusus utk hadiah2 yg dia terima, dan ia ingat diberi hadiah kapan, oleh siapa & dlm rangka apa..
Liyadewi: Dan buat yg bahasa kasihnya pelayanan, ini liatnya gmn ya Bun? Soalnya kan ank kecil sukanya minta tolong
Dan batasannya sama manja gmn?
Umi Sholihah: Ini yg harus kita jeli & mengontrol diri.

Pelayanan bkn berarti selalu kita bantu. Tapi lebih pada berupa pemberian melalui perbuatan. Melakukan satu hal yg sifatnya meringankan bkn mengambil alih.
Umi Sholihah: Misalnya pada kondisi biasa, anak bisa ngambil minum sendiri..

Suatu saat ia kelelahan baru pulang dari camping, boleh lah kita ambilin minum..😊
Liyadewi: Artinya g harus selalu bahasa kasih ini kita lakukan ya Bun
Tapi penting untuk diperhatikan
Misal balik lagi k malah pasangan, klo bhasa kasih pasangan adalah mwmberi pelayanan g harus tiap hari juga kita lakukan, karna g kita bgt ney, tapi sesekali bisa kita lakukan
Betul gitu ato gmn Bun?
Umi Sholihah: Bahasa kasih ini dialeknya macem2..

Klo ke pasangan tinggal kita tanya aja;

” ayah paling suka pelayanan dlm bentuk apa?”

Misal dia jawab “dibikinin minum pas pulang kerja”, maka masukkan dlm ceklist untuk tdk lupa kita lakukan. Tujuannya supaya tangki kasihnya terjaga jangan sampai kosong. Nanti insyaAllah mood beliau lebih baik, lebih adem menerima ‘laporan’ harian kita 😅
Rita: 🙋

Bunda nanya, 

Anakku itu, kalo lg nangis atw ngambek, perlu dipuji2 diajak bicara yg lembut bgt, berarrti bahasa kasihnya kata pendukung y? 

Nah,kalo pas sama aq dianya gampang diatasi, nah ada kalanya pas saya lg riweh masak atw ngapain dan harus suami yg mengamankan si baby, karena papanya emg tipikal yg cenderung cuek dan gk pandai berkata2 manis,pas si anak nangis, malah jdinya malah tambah seru nangisnya, gmn cara biar papanya mw ngerti juga ya, soalnya tiap aq jelasin kalo si anak ini pengennya diginiin, diginiin, papanya jawabnya selalu “hmm sama aja” 

😓😓
 Umi Sholihah: Yg perlu diperhatikan, bahasa kasih ini dinamis, bisa berubah seiring waktu..

Jadi komunikasi itu penting antarpasangan.
Nah, ini papanya dipenuhi dulu tangki kasihnya, baru diajak ngobrol soal trik komunikasi ke si kecil 😊

Percaya deh bund, klo tangki kasih penuh bliau lebih jinak 😅
Rita: PR nih,, perlu lbh ngerti bahasa si papa dlu,, 😅😅😅
Ini, bahasa kasih si papa dinamis nih,,, susah ditebak
Umi Sholihah: Kadang setelah kita ikut kajian parenting, kita berapi2 utk menyampaikan ke suami tanpa lihat pre-kondisi, jadinya mental deh…

Yg ada kita jadi bete😅
Rita: Kayaknya emg gini ini yg terjadi padaku bun,, 😓😓
Umi Sholihah: Tapi perubahannya ga secepat kilat kok bund..

Biasa dipengaruhi oleh kondisi2 tertentu

Dulu sebelum paham bahasa kasih, saya heran; kok ada ya suami yg mau brbuat sedemikian rupa ke istri, bak ratu..

Kesini2 saya jadi paham, karena udah keambil hatinya; 

Jadi bahasa kasih itu sederhananya juga “ilmu mengambil hati” 😊
Dalam bahasa Home Education bahasa kasih adalah bagian dari langkah *inside out* alias memunculkan sesuatu dr dlm diri bkn memaksakan kehendak.
Ririn Aisyah HE: 🙋🏻

Mau tanya bun kalau kita mengajari dan mengontrol anak, tapi ada ibu atau nenek yang menyela dan akhirnya anak jadi manja bagaimana  cara mengkomunikasikan dengan ibu dengan cara yang halus, karena hampir semua tugas anak digantikan dan dibantu oleh nenek nya bahkan sebelum membantu
Umi Sholihah: Jadi alurnya begini bund..

1. Pahami bahwa nenek itu pasti sayang ke cucu & bliau juga manusia yg punya lebutuhan emosional seperti kita org muda

2. Pahami apa bahasa kasih beliau, artinya kita berempati lalu kita berusaha mengisi tangki kasihnya dgn cara itu

3. Bicarakan dgn tutur yg lemah lembut sebagaimana dicontohkan oleh rasulullah. Andaikan bliau menyangkal, kita bantah dgn cara yg baik.

4. Tetap bangun komunikasi yg intens dgn bliau & tetap selalu didoakan.
Pengalaman saya dgn ibu saya membuktikan; perbuatan baik yg tulus  thd orangtua itu bicara lebih lantang daripada kata2 lisan.
Motivasi yang bertahan lama bagi seseorang untuk melakukan sesuatu adalah motivasi dari dalam dirinya sendiri, bkn dari luar dirinya.

Ketika seseorang terbuka hatinya, tak ada satupun yg menghalanginya utk berbuat baik, tidak pun aral yg melintang.

Nah, bahasa kasih ini mendorong munculnya motivasi dr dalam diri seseorang. Ketika seseorang sdh tersentuh hatinya, ia sanggup mendengar, sanggup memahami, sanggup melakukan
Icha Gresik HE: Hm, kadang ingin ikut on pas diskusi tapi seringnya masih belum bisa. Semoga next bisa ikutan jadi bisa diskusi
Kalo saya, agak bermasalah dengan anak saya yang terlalu menurut, plek ketiplek ikut saya. Karena saya terbiasa apa” rapi, dia ikut. Jadi habis nulis” misalnya dia selalu ingat untuk tutup bulpen dulu sebelum pergi. Habis mandi, beresin peralatan mandi. Bagus sih, saya senang sekali ngga terlalu banyak beres”, palingan capek kejar” dia kalo lagi main di luar aja. Tapi saya ngga mau juga kalo dia jadi fotokopi saya. Saya tidak sempurna, saya mau dia ada khas bapaknya juga, yang pemberani, suka aktifitas di luar, suka bersosialisasi dsb. Nah kan masalahnya hampir 24jam anak nempel saya, suami kerja, di rumah pun kalo main sama anak ya di rumah aja, bercanda, tidak melakukan aktifitas yang berarti, karena mungkin capek kerja. Sesungguhnya saya ingin suami bisa menurunkan kelebihan”nya  ke anak. Biar anak ngga plek persis saya, gimana ya. Salah ngga sih kayak gini, anak nurut kayak ngga bersyukur malah mau yg lain” 🤦🏼‍♀
Afifah Sidoarjo HE: waah jadi tersadar pentingnya bahasa kasih
berasa plakk selama ini saya kejemm dan bengis suka maksaa
maksa bobok 

maksa beresin mainan  
harus memunculkan bahasa kasih💕
Terima kasih diskusinya bunda Umi shalihah
anak ke2 saya kayak anaknya mbak liya sukaa peluk2 pangku gendong nempellll dia keliatan nyaman dan sok imut pas adegan itu hihi
kakaknya sukaa bgt kalo dibelikan susu, iqro’, dikasih baju ama kakak2 sepupunya meski preloved hehe 

diinget2 teruss ini baju dikasih siapa.. pernah dibelikan susu siapa 

kalo dipeluk cium ngefek sih tapi ya biasa aja hehe
ikut curhat😜
bun icha…

anak2 dua2nya nempell ama saya

tapi tetep karakter mereka bedaa
kakaknya plek saya.. 

adeknya abinya plek.. nurut.. kalem.. baek.. lebih kerap ngalah.. 
wallahu a’lam..
kita tunggu jawaban ahlinya ibu2 pemateri hehe ga ngebantu yaa
Umi Sholihah: Saya percaya seorang anak itu terdiri dari benih bapak & ibunya. Ibarat benih, mungkin yang sudah tumbuh adalah benih dari ibunya, sedangkan benih dari bapaknya mungkin belum tumbuh karena beberapa hal:

1. Memang belum waktunya tumbuh

2. Belum dilakukan usaha utk menumbuhkan (disirami)

Yang perlu orangtua lakukan adalah menciptakan situasi yg mendukung benih2 potensi baik dari ayah maupun ibunya utk tumbuh (menumbuhkan fitrahnya)

Untuk ayah yg sibuk, seperti yg disampaikan ust. Adriano,  perlu diperhatikan bahwa sblm anak kita baligh prioritas kita adalah pendidikan anak, bkn kesejahteraan; karena anak juga perlu dibesarkan & dididik dgn kesulitan2.

Usahakan ayah ada di waktu2 krusial seperti saat anak bangun tidur, sarapan, menjelang tidur dan sebisa mungkin terlibat dlm rutinitas rumahtangga, meskipun kuantitas & kualitas sama2 sangatlah penting.

Bermain & membersamai anak itu sudah bagus 👍 Keseimbangan figur ayah & ibu sangat berpengaruh bagi tumbuhnya fitrah anak. 😊

Mari berkhusnudzon & mensyukuri nikmat Allah. Seorang anak tidak boleh dibesarkan dlm kecemasan ibunya. Be happy ❤
Dwi Retno Wulandari: Seorang anak tidak boleh dibesarkan dalam kecemasan ibunya👍👍👍
Icha Gresik HE: Menyegarkan banget tulisannya. Makasih ya bun tanggapannya.
Mendidik dengan kesulitan itu bagaimana ya contohnya?
Liyadewi: Mendidik dengan kesulitan mksdnya kondisinya nggak ideal 

Misal tanpa ART jadi dia harus ikut membantu ortu mengerjakan pekerjaan rumah
Rita DEK: Mendidik dg kesulitan: bangun pagi😀

Memahami Home Education

Resume Kulwap Belajar HE

Minggu Pertama 

Tema: Memahami Home Education
Sub pembahasan : Tazkiyatun Nafs, Bahasa kasih, Egosentris, perkembangan pola pikir anak
Nara sumber: Bunda Rita Riswayati

🏡 *Home Education, apa dan mengapa*.🏘

by Rita Riswayati

🎯Tujuan materi pengantar ini adalah menyamakan persepsi, agar kita sepakat sejak awal, meski banyak versi tentang apa itu Home Education.

*WHAT’*

🏡Sederhananya, Home Education (HE) adalah *pendidikan  rumah*.
Selanjutnya kita perlu  meletakkan makna Education dengan lebih dalam lagi . Maka yg sepadan dengan makna education adalah *tarbiyah*.

Mengapa *tarbiyah*? 
Karena makna tarbiyah jauh lebih universal, misi tanpa batasan waktu dan tempat bahkan objek yg dipelajari nya.
Berbeda dengan  schooling, ada ikatan terkait waktu, tempat dan terlebih system sehingga objek pun cenderung terbatas pada kebakuan materi ajar, meski materi ajar sebenarnya bukan tujuan.

*WHY*& *WHO*

⛳ *HE adalah kewajiban, bukan pilihan*
Jika sekolah fokus nya ke anak, maka fokus HE adalah untuk kedua orangtuanya, *ayah dan bunda* yg kelak akan  Alloh minta pertanggungjawaban.
Kewajiban orang tua mempersiapkan anak untuk kelak bisa  menjalankan perannya sampai saat Aqil baligh tiba. 
Sebab sejatinya setelah Aqil baligh anak kita bukan kanak-kanak lagi, tapi sosok yg memikul beban syariat yg Alloh tetapkan. Dosa pahala yg dikumpulkan putra-putri kita berbanding lurus dengan seberapa *hikmah* yang dia dapat dalam proses *belajar* yg mampu menguatkan *nilai kehidupannya*, bukan sekedar nilai atau score pelajaran.

*WHERE & WHEN*

➡ *Keluarga Muslim*yang menerapkan HE tidak mengenal batasan waktu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, dirumah dan atau di tempat lain selalu *dimaknai belajar*.

WHEN❓
Mulai 0 yg hingga efektif nya 16 tahun.  Usia 16 adalah usia kematangan biologis (baligh), ditandai dg pertumbuhan anatomi dan fungsi normal organ seksual . Aqil adalah kematangan psikologis. Dan karena dalam Islam *baligh* selalu di sandingkan dg *Aqil*,  semestinya sesuai kehendak Alloh, pada saat usia baligh  maka aqilnya pun sudah cukup matang. Itulah mengapa syariat yg bernilai  ibadah selalu salah satunya mensyaratkan sudah Aqil baligh.  Ibadah mahdoh dan ghoiro mahdoh, seperti jual beli, kepemilikan dll.
Dan beban syariat untuk *pemuda pemudi* Aqil baligh adalah sama dengan orang dewasa/adult, bukan cuma kewajiban sholat, puasa dst, tapi juga nafkah dan jihad fii sabilillah.
Setelah usia 16 tahun, pemuda Aqil baligh semestinya sudah bisa menjadi patner bagi orangtuanya, patner bisnis, manajemen rumah tangga bahkan patner da’wah. 
Itulah out put HE.

Coba tengok masa berabad lampau, kejayaan Islam ditaburi peranan para pemuda. Dari perawi hadist uar biasa; Annas bin Malik yg mengikuti majlis Rosul sejak kecil sampai penakluk konstantinopel di era pasca Khulafaur Rasyidin, mereka gemilang dengan perannya yang masih dibawah usia 20 tahun.

*HOW*

👉🏾 Mulailah dengan Tazkiyyatun-nafs (TN), hingga muncul perasaan tenang dan optimis. TN ini harus kontinyu. Serial kita membutuhkan.
👉🏾 Pahamilah diri dan pasangan hidup kita. Temukan visi misi fiti dan keluarga .
👉🏾 Fokuslah pada kelebihan diri, suami dan anak hingga kegembiraan hadir saat *membersamai*, bukan malah merasa jadi beban. InshaAlloh akan lebih rileks.
👉🏾Setelah paket rileks dan optimis dirasakan, mulailah membuat grand desain bersama suami, mulai menurunkan visi misi sampai ke strategi , sepakati hal-hal non teknis dan teknis. Perencanaan, pelaksanaan sd evaluasi. 
👨🏻‍💼= Konseptor, non teknis, raja tega=> maskulinitas
👩🏻‍💼= Manager, teknis, bawa perasaan==> feminitas
👉🏾 Membersamai anak dengan terarah, meski teknis nya fleksibel. Catat,  dokumentasikan dan maknai dengan hikmah. Seiring usia anak, hikmahnya bertahap biarkan anak yg menemukan nya hingga menjadi karakter. Hikmah adalah proses dan hasil dari bergerak nya jasadi, aqli dan rohani. Peran orang tua yg baik bukan mengintervensi, tapi memfasilitasi, sebab semua anak manusia pada dasarnya sudah dibekali fisik, akal dan hati yg sama besar potensinya.

*Bab Membersamai memerlukan waktu kulwap khusus

Wallohu’alam

🏡🏘🏡🏘🏡🏘🏡🏘🏡🏘

Rita Riswayati: Saya berusaha pakai bahasa sederhana, tapi tetep saja aroma bahasa jiwanya ikut terus😅🙏🏽
Liyadewi: Apa karena kuncinya ya di jiwa ini ya mbak Rita?
Rita Riswayati: Sependek pengalaman saya baik formal non formal, lembaga keluarga atau non keluarga, education memang penggerak utamanya jiwa, hati❤
Mulai dari cinta, lakukan dengan cinta dan berakhir karena cinta💚💛❤
Liyadewi: Nah itu mbak memulai dengan cinta itu gmn c mbak Rita?
Rita Riswayati: Cari alasan terkuat mengapa kita layak dicintai.
Cari alasan terkuat sehingga kita menikah dengan pasangan kita, alasan terkuat untuk selalu mencintainya.
Cari alasan  terkuat mengapa kita mencintai anak kita.
Lihat saja kelebihan diri mereka, lupakan kekurangan dan kelemahan nya.

Menemukan cinta di diri, di suami, di anak, akan membuat kita mudah bersyukur. Kita pun akan makin mudah mencintai dan mendapatkan cinta Alloh💕
bahagia, terharu,menangis saat  Alloh disebut artinya jiwa kita gak sakit. Sehat. Normal😘
Liyadewi: Kenapa harus dimulai dari jiwa mbak Rita?
Rita Riswayati: Ini kita baru pemanasan ya. HE itu parenthood bukan parenting.
Karena jiwa itu raja, otak itu panglima, raga prajurit. Panglima dan prajurit bergerak berdasarkan perintah jiwa. Lurus, sehat kuat jiwanya, perintahpun  tidak akan sesat. Sekalipun sempat tersesat, maka akan jsuh lebih mudah kembali on the track
Lintang: Jiwa apakah sama dg hati?
Rita Riswayati: Ada Ruh ada Qolbun.
Qolbun itu segumpal daging yg menentukan sehat atau sakitkah ruh seseorang. 
Itu dalam hadist. 
Redaksi tepatnya nanti menyusul. Dan sangat senang jika salah saya diluruskan🙏🏽
Kita sepakati saja dulu jiwa dan hati itu satu paket.

Parenthood itu lebih substantif. Mainnya jiwa dulu. Ortu harus sadar sesadar-sadarnya. Tahu What Why- nya sebelum ketahap teknis atau *ing*.

Di kelas parenthood, tujuan narasumbet, instruktur adalah membangunkan jiwa keayahbundaan kita.

Di kelas parenting titik tekannya baru ke cara. 
Dan soal cara, ini tidak baku.
Cara saya boleh jadi bagus untuk anak saya dan keluarga saya, tapi belum tentu pas untuk anak dan keluarga lain.

Sebab secara fitrah setiap orang itu unik, khas. Saya punya 6 anak, beda keunikannya. Pola pendekatannya pun tak sama. Bahkan dalam HE diteknis ada yg di sebut petsonalized curiculum. Kurikulum yg sifatnya sangat personal.

Liyadewi: “Sadar” ini sadar apa ya mbk? Emg ad ortu yg g sadar?

Rita Riswayati: Sadar untuk terlibat *mendidik*. Sadar bahwa amanah itu kelak qkan dimintai pertanggungjawaban.
Sadar bahwa pahala dan dosa itu ladangnya dari hal yg paling dekat dulu

Zhia HE: Terkadang suka ga sadar, marah, kesel, tapi setelah itu yaaa nyesel. Bagaimana supaya sadar sesadar sadarnya itu bisa terbentuk dgn baik ya?

Rita Riswayati: Latihan mba Zhia.
Tazkiyatun-nafs itu latihannya jiwa.
Dari dzikir wirid sampai yang terberat dg qiyamul lail. 
Sadar dan sabat itu efek dr TN tadi.

Zhia HE: Sadar dan sabar efer dr TN.. MasyaAllah, berat kah TN itu😑

Rita Riswayati: Tidak. Dimulai dari kontrol. Kalau marah kan sunnahnya ganti posisi, berdiri jadi duduk, trus ambil wudhu, trus sholat.
Biasanya ditahap ganti posisi pun kita sdh dalam kondisi ‘tersadar’. Lanjut bikin sabar: dzikir dst
TN itu terus dan terus dan teruuus
Kan ujian kenaikan kelasnya juga ada aja😄

Wangi Ningastuti: Jadiii, Home Education ini lebih ke pemahaman orang tua tentang konsep bagaimana mengasuh anak, menghadapi anak, dll yaaa.

Kalau parenting itu lebih ke cara teknis bagaimana menjalankan konsep yang sudah dipahami di parenthood.

Begitu kah?
Rita Riswayati: Betul.
Jika hood nya sdh dapat, ing nya lebih mudah. Karena hood itu bikin rileks dan optimis. 
Kalau ujug” sekonyong-konyong ke *cara*, kita jadi terbebani, stress karena selalu ads celah tdk sesiau ekspektasi
Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus. 
Karena Alloh yg Maha membolak balikan hati.👌🏾
Rita Riswayati: 
Who.
Keluarga inti: ayah bunda, kakek nenek, orang rumah termasuk ART.
Hownya agar keluarga inti sejalan dalam pengasuhan dan pendidikan➡KOMUNIKASI. 
Vertikal: do’a, harap dan curhat ke Alloh
Horizontal: ke keluarga inti sesuaikan dg posisinya.

Termasuk komunikasi adalah NIAT. Sampaikan niat kita pada Alloh, pasangan, anak dan otang terdekat. Bahlan kesananya biarkan teman, tetangga dan sekolah tahu.

Misal soal pola konsumsi tadi: jajanan hala dan  toyyib. Saya siapkan sesuai standar kita. Sebelum kakek nenek oom tante yg beri. 
Ke warung tetangga saya katakan juga: anak saya kalau beli es, kasih saja es mambo kacang ijo buatan teteh atau es yogurt.

Jika menghadapi ujian 
Maka komunikasi vertikal kita pada Alloh juga harus lebih kencang. 
Seperti do’a sebelum berangkat bertemu pihak” penguji jiwa😀
Senjata utama dan pamungkas itu tuh.
Jangan pernah lupa tersadar untuk mohon bimbingan Alloh atas hati, lisan dan ekspresi kita saat mengkomunikasikan ttg pola asuh kita.
Oh iya, prasangka baik itu penting. Alloh mengikuti prasangka ummatnya. Jika sejak sore kita khawatir anak nanti malam rewel, ganggu. Ya kejadian.
Jika kita prasangkakan baik ibu bapak, mertua, inshaAlloh baik. Seiring waktu, ikhtiar dan do’a.
👌🏾

Komunikasi horizontal. 
Suami, senjatanya: kenali bahasa cintanya. 
Ini hrs ada kulwap khusus materi bahasa kasih.
Bahasa cinta anak juga.
Ada 5 bhs cinta:
1. Pujian
2. Quality time
3. Hadiah
4. Pelayanan
5. Sentuhan

Gunakan pendekatan bahasa kasih paling dominan saat memulai komunikasi.

Anak saya ada yg dengan sentuhan. Jadi kalau mengambil hatinya ya dengan di dekap erat sepenuh hati, di puji mah gak mempan. 😅
Liyadewi: Sebelum k pertanyaan sbelumnya
Bahasa Cinta ini bikin kita berubah jdi yg pasangan mau ato ckup memahami aj Mbk? Klo brubh g jd dri sndri kn susah Mbk?
Rita Riswayati: Tidak akan merubah. Itu keunikan personal bawaan. Yg berubah adalah efektivitas komunikasi. Makin jreng lah😀
Anak lain senengnya hadiah. Gak perlu mahal. Cirinya: suka menyimpan barang memerable dg rapi. Yg sulung tuh
Hehe…mempelajari HE mmg banyak cabang ilmu hati yg hrs di cicil tahu dan praktek😄
Eh itu berlaku buat mertua juga ya, kenali bahasa kasihnya.
Almarhum pak mertua suka pelayanan. Jadi menantu paling berkesan buwt beliau adalah yg paling berinisiatif menyuguhi minuman kesukaannya.😍

Fase egosentris pd perkembangan psikologisnya.
O-6 tahun mmg fase egosentris. Puncaknya srkitar usia 4 tahun, nanti perlahan grafik egonya menurun lagi sampai tiba masa latih untuk berbagi di usia 7 tahun.
Fase egosentris ini masa ‘gue banget’. Cara kita menentukan penerimaannya.
Menerima pengetahuan, pemahaman harus sesuai ke-ego-annya (bukan egois).
Ego itu akan merasa terganggu jika kita menggurui, menganggap salah, tidak tahu apalagi mendikte. 
Jika ada berekspresikan penolakannya, itu lebih baik dibanding nurut pasrah. Jika sudah nurut banget, gampang mengalah, bukan berarti indikasi  baik. Bisa jadi malah karena stress, kehilangan ego. 
Maka mulai dari kita merubah cara pandang. Gunakan kacamata anak. Usia 3 tahun belum tahu benar dan salah, kebutuhannya adalah ekplorasi. Maka cara mendampinginya bukan dg penilaian, tapi peneladanan serta imaginasi positive. 
Misal anak kita maksa minta beli mainan. Jadikan itu pelajaran agar kita bisa mengantisipasinya kelak sebelum kejadian, tanpa melukai egonya.

Sahabat saya anaknya gak mau mandi sejak dari Baubau sampsi Makassar. Naik pesawat dan menghadiri seminar tanpa mandi. 
Ya sudahlah.
Prinsif di masa egosentris ini: *tidak membahayakan diri dan orang lain*
Apakah gak mandi berbahaya?
Baju itu lagi itu lagi membahayakan?

Image positive itu: memberi kesan baik. Cerita ttg Alloh yg supet hebat dan baik  orang” sholeh. Berkunjung pd orang baik, inspitatif. Bergaul dg kumpulan orang dan kebaikan. Dll

Batasnya cuma itu tadi: gak membahayakan diri dan orang lain. Untuk menanamkan kebaikan, cukup dg teladan. Karena usia segitu mereka peniru ulung. 
Masalah yg ditirunya benar atau salah, bahaya atau tidak belum dipikirkan.
Maka dalam fitrahnya O-6 tahun masa keemasan fitrah keimanan, bukan fitrah brlajar dll.

Cuek itu salah satu cara agar dia paham. Paham bahwa keinginannya tidak boleh didapat dengan cara marah, ngambek dsj.

Gak perlu di ceramahi. Cukup beri respon yg konsisten.

Jadi lama” dia akan belajar dr sebab akibat yg konsisten itu. 
PR HE mmg bukan dianak, tapi di ortu. Sabar, konsisten dll

Untuk usia anak balita, penilaian kita gak bisa hitam dan putih. Bahkan sampai usia 10 tahu  kebutuhan anak masih pada tahap kepala kebawah. Banyak bergerak, perkaya wawasan dan pengalaman. Perbanyak aktivitas beragam. 
Jadi memang umumnya gak bisa diam. Jadi bukan kekurangan, justru normal.
Rasa ingin tahunya besar, modal untuk perkembangan keemasan fitrah belajarnya di usia 7-10 th. 
Modal itu salah satunya dg kecerewetan.Tinggal  imbangi dg latihan berpikir.

Jika dari mulai bicara sd usia 6 tahu keseruan  inputnya dg beragam pertanyaan yg hrs kita sabar meladeni, menjawabnya. Maka di Usia 6>  perkarya wawasan dengan melihat, mengAlami dan merasakan langsung. Lalu ajak berpikir. 
Menggali hikmah dari apa yg dilihat, didengar, diraba, dirasa, menyimpulkan.

Bangga pada anak sendiri normal bun😀
Yg harus dihindari adalah obsesif. Menitipksm mimpi kita pada anak sehingga menggegas anak tanpa memperhitungkan tahapan tumbuh kembang yg sepantasnya. Untuk itu harus paham kebutuhan anak sejalan usianya. 
Misal: balita itu lebih butuh bisa baca hurup atau membaca alam?
Bergerak atau duduk manis?
Berfikir atau menggerakan fisiknya?

0-10 th itu kepala kebawah, dominan butuh aktivitas fisik.
11 ke atas kepala keatas, memyimak, berpikir

Maka butuh strategi membawa anak usia berapa ke tempat yg bagaimana.
Agar dia cukup sabar untuk dan tidak menampakan perilaku yg tidak doharapkan.

Kepala kebawah itu, tangan kaki terutama. Jadi seneng lari, loncat l, manjat, lempar, nendang,  tangan usil, kaki iseng😀
Biar anak gak ngasal, perlu *ngakal*ortunya. Fasilitasi. Di PG, PAUD, TK bahkan SD yg memahami kebutuhan ini, sekolah dan guru bikin program untuk bantu ortu memfasilitasi.

Makin besar gerak sambil mikir makin berimbang, teruuuus, sampai dewasanya jd terbiasa mikir sebelum bertindak, dan pikir bertindak disertai hati. 
Jadi stepnya perlahan, fokus satu” sampai saatnya tiba utuhlah anak manusia dalam proses alami Home Education🏡❤

Yg ini porsinya sudah kepala keatas. Skill berpikir. Ada kalau di Masjid Salman ITB pelatihannya. 10 sesi kalau gak salah. Trailernya Ustadz Adriano Rusfi. Yg ini dimulai bln Agustus.
Target pelatihannya untuk adult, bukan anak”. Yg di Bandung peluang nih, buat bekal diri dan didik anak minimalnya
Sejak lahir sudah bisa berpikir, tapi belum kompleks. Paling siap usia 7 tahun. Makanya keemasan  fitrah belajar itu ada di fase 7-10 y
Ciri sdh ada proses kompleks berpikir, bisa menangkap makna. Jadi kalau baca rangkaian hurup dia tahu makanya, kalau bingung, abstrak, tak dikenal, maka biasanya (normalnya) dia akan tanya, cari tahu.
Jadi anak balita bisa baca boleh saja, tapi dia belum menangkap makna. Maka cocoknya balita itu diberi story reading, atau story telling. Kalaupun buku.
Saat itulah ortu menggunakan ‘bahasa ibu’ itu menyampaikan makna, bukan sekedar membaca kata. 
*Bahasa ibu ada materi khususnya. Beda sama bahasa kasih.
Fasilitasi saja dengan tools. Tendang bola, dan sejenisnya yg aman. Intinya disalurkan. Ikut club’ bola, beladiri, berenang. Bikin energinya tersalurkan jadi gak ‘lapar gerak’

Bahasa Kasih dan Menyapih


Hari ini adalah hari ketiga anakku telah melalui proses sapihnya. Hari pertama berlangsung cukup melelahkan bagi kami bertiga. Hari kedua di siang hari anakku masih belom rela melepas ibunya, masih terjadi nangis-nangis sampai sore dan terjadi lagi menjelang pagi hari.

Pada dasarnya hal ini memang wajar terjadi untuk anak yang baru disapih tapi bukan berarti tidak perlu dicari jalan keluarnya kan. Karena konsep boleh jadi sama tapi “cara” setiap keluarga bahkan setiap anak itu berbeda dan harus dicari “cara” nya ini.

Kebetulan Jumat ini saya ada kuliah WhatsApp bersama Bunda Umi Sholihah tentang Bahasa Kasih bersama teman-teman Belajar HE, grup yang saya buat untuk memfasilitasi teman-teman saya belajar memahami HE

“Setiap orang mempunyai kebutuhan emosional utk dihargai, diakui & diperhatikan. Dalam konteks bahasa kasih ini disebut tangki kasih.
Bila tangki kasih seseorang penuh, maka ia menjadi positif & siap memunculkan potensi terbaik dlm dirinya, sebaliknya bila ia kosong maka seringnya relasi antara pasangan mjd kurang harmonis” bunda Umi Sholihah dalam kulwap Memahami HE.

Dua hari ini dia tidak tidur bersama ibu, maka kurang sudah waktu bersama ibu. Mungkin tangki kasih anakku mulai kosong.

“Ada 5 Tipe Bahasa Kasih antara lain;
1.  Kata Pendukung
2. Waktu Berkualitas
3. Pelayanan
4. Menerima Hadiah
5. Sentuhan Fisik

_Bahasa kasih merupakan cara seseorang mengekspresikan & menerima rasa cinta ataupun perhatian dari dan kepada orang lain._” Bunda Umi Sholihah dalam kulwap Memahami HE.

Anakku adalah anak yang bahasa kasihnya adalah sentuhan. Biasanya dia suka memeluk ayah dan ibu. Maka hari ini ibu yang memeluk duluan, memangku sambil nonton filmn sampai dia tertidur, jalan-jalan sambil digendong dan berpegangan tangan, diusap kepalanya. 
Dengan tetap berusaha positif thinking kami bisa melewati semua ini dengan baik.

MasyaAllah malam ini, tanpa perlu nangis-nangis lagi, dia cuma minta diantar kekamar dan tertidurlah dia. Alhamdullilah ilmu hari ini langsung dipraktekkan dan bermanfaat. Selanjutnya tantangan konsistensi kami sebagai orang tua.

Semoga sharing ini juga bermanfaat untuk teman-teman.

Menyapih dengan Cinta

Ini kisah kami bertiga.

Malam ini 8 Maret 2017 anakku genap usia 2 tahun. Seolah tahu inilah hari terakhir dia menyusu sejak kemaren hampir 24 jam dia menyusu. Iya, aku sampai kesulitan mandi, makan dan sholat, menangis dan menyusu.

Sore tadi badan sudah kepayahan dan sempoyongan “Ayah Ibu sudah nggak sanggup, please pulang sekarang” WhatsApp message sent.
Kondisi di rumah benar-benar sudah kacau, tidak ada yang beres dan aku kepayahan.

Sampainya Ayah dirumah, serangkaian bunga sedikit mengobati jiwa dan raga yang mulai tidak waras, alhamdullilah besok tepat tiga tahun kami menikah. Kami memutuskan untuk keluar membeli sedikit cemilan pelipur lara.

Jalanan sepi diiringi murrotal dari salah satu stasiun radio kami putuskan ini saatnya anakku harus benar-benar disapih. Sebelumnya kami sudah diskusikan, bagaimana itu menyapih dengan cinta, sounding kepada anak dari berbulan-bulan yang lalu tapi anak seolah belum mau melepas ibunya malah puncaknya begini hari ini. Kami memutuskan membeli gelas cup yang lucu dan nyaman untuk anak persediaan di kamar sebagai pengganti menyusu ASI.

Diperjalanan pulang murrotal masih mengalun kami berdua masing-masing berzikir meminta kemudahan pada Allah. Perjalanan begitu hening dan nikmat. Sesampainya dirumah murrotal langsung kami perdengarkan, agar hati dan pikiran tetap tenang. Kami siapkan susu dan air putih dengan gelas cup lucu yang sudah dibersihkan dengan air hangat. Semua siap anak tidur dengan Ayah. Ibu tidur sendiri di kamar lain dan masing-masing pintu dikunci.

Terdengar tangisan anakku, menggedor-gedor pintu, hati ibu mana yang tidak teriris-iris. Kubuka mushaf dan kupilih Al Baqarah ayat  terakhir sebagai dzikirku malam ini,
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
(QS Al Baqarah ayat 286)

sampai lelah dan tak sengaja mushaf tertutup, kubuka lagi dan Allah menunjukkan ku pada satu ayat

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS Al Baqarah ayat 233)

Allahuakbar, benar ya Allah aku yakin dan aku tahu tapi anakku menangis sudah hampir satu jam salahkah aku…

“….Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian…” (QS Al Baqarah ayat 233)

Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya. Teringat kondisiku hari ini yang kepayahan luar byasa. Diluar sana terdengar anakku yang masih saja menangis, dan aku sedih. Tapi ya Allah, bukankah memang ini tugas kami, salahkah kami menyapihnya sekarang.

“…Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS Al Baqarah ayat 233)

Allahuakbar, tidak ada satu hal pun yang tidak kita temui jawabannya di Al Qur’an. Aku yakin ya Allah, Engkau tuntun aku maka Engkau pula yang menuntun anakku.

Malam semakin hening tidak lagi ada suara tangisan, aku mengendap-endap ke kamar sebelah dan anakku tidur pulas dengan ayahnya. Basah air mata ini. Dalam sujudku di malam ini ya Allah, aku tidak tahu apa yang terjadi esok apakah anakku akan minta menyusu lagi pada ibunya atau tidak tapi kami bertiga belajar banyak hal malam ini. Sekarang kami paham arti dari menyapih dengan cinta.

Bahwa cinta adalah ketaatan Allah. Cinta adalah penghambaan kepada Allah. Cinta adalah bentuk keberserah diri kepada Allah. Menyapih dengan cinta adalah menyapih dengan mengajarkan anak atas ketaatan kepada Allah. Bentuk taat kepada Allah adalah mematuhk perintahnya bahwa sesuai perintah Allah didalam Al Qur’an, menyusu adalah selama dua tahun. Dan melibatkan Allah dalam setiap usaha termasuk dalam menyapih anak.

Kami tahu ini baru awal tapi ini awal yang luar biasa untuk kami bertiga. Alhamdulilahirabbilalamin.

My Parents and Me

Beberapa hal aku paham setelah hal itu lamaaa sekali dilewati.
Seperti saat-saat orang tua dan aku menjadi dua kubu yang saling berseberangan.

Pernah dengar teori generasi? Teori yang membagi generasi menjadi 4 kelompok.
Baby boomers, generasi Y, generasi X dan generasi C. Anak-anak seumuran aku itu termasuk generasi Y jadi orang tuanya rata-rata termasuk generasi baby boomers. Karakteristik generasi baby boomers yang menyukai harmony dan kedisiplinan bertemu dengan anak-anak penuh inovasi, ide-ide baru dan futuristik dimana dimasanya belum populer. Dari sini bisa kita lihat gap cara berpikir anak dan orang tua.

Meskipun berbeda cara berpikir, anak tetaplah cerminan dari orang tuanya. Cara bersikap, berperilaku dalam keseharian, berbicara, karena orang tuanya yang menjadi role model mereka. Sayangnya hal ini bisa mempertajam gap antara orang tua dan anak. 
Jika ada perbedaan pendapat tentang suatu hal orang tua berargumen dan sang anak dimana cerminan orang tuanya juga berargumen, begitu terus sampai muter-muter nggak ada habisnya hahaha.

Maka dari sini menurut saya gap antara anak dan orang tua itu wajar dan pasti pernah dialami siapa saja bahkan pada keluarga paling harmonis di dunia. Namun yang berbeda adalah cara kita menghadapinya.

Karena hal ini wajar maka tidak perlu yang namanya terlalu sedih berkepanjangan melihat kondisi ini jika kita sedang mengalaminya. 
Meskipun wajar bukan berarti tidak ada yang bisa mempersempit gap antara orang tua dan anak, mempersatukan keduanya sehingga menjadi harmonisasi yang indah. 
Hal itu bernama “Adab”.

Bukan kapasitas saya berbicara hal seberat tema adab ini, tapi ya anggap saja kita bercerita dari hati ke hati tsaah

Kita diajarkan tentang adab kepada orang tua. Dimana kita tetap diwajibkan berbakti kepada orang tua apapun kondisi mereka. Entah mereka berperangai baik ataupun buruk. Cocok nggak cocok pemikiran mereka dengan pendapat kita, dahulukan adab. 
Adab kita kepada orang tua itu dengan tidak berkata buruk atau tidak meninggikan suara, tidak melihat dengan tatapan tajam, tidak duduk ketika beliau berdiri, dan mendahulukan orang tua daripada diri sendiri untuk urusan duniawi. Cari sendiri sumber haditsnya ya…

Fitrah orang tua adalah mencintai anak-anak nya maka dengan menjalankan adab kepada orang tua sebaik-baiknya tentu bisa mencairkan setinggi-tingginya gunung es diantara orang tua dan anak.

Dan yang terakhir tapi perlu kita lakukan diawal, selalu dan terus menerus adalah tazkiyatun nafs. Si tazkiyatun nafs ini emang muncul terus-terusan ya. Karena ini benteng kita from bad demon. Biar syaitan yang nggak suka liat orang tua dan anak akur syuu syuuu go away.