Harmonisasi Pasutri

Menikah itu adalah ibadah

Jika bahagia maka disyukuri

Jika penuh tantangan hadapi bersama dengan kesabaran

Ini adalah kalimat yang kami ingat pada seminar Harmonisasi Pasutri bersama Ustadz Bendri Jaisyurrahman. Tiba-tiba jadi inget Buku Duo Sabar Syukur hehe emang bab ini ada disepanjang kita hidup dah 

Kali ini suami saya yang mengikuti seminar full dari jam 08.00 – 15.00 wib. Saya menemani anak saya di kids corner yang ternayata masyaAllah banyak sekali kegiatan disana, pantas saja selama ini anak dan suami saya anteng di kids corner kalau saya lagi ada seminar. Kayaknya setelah ini saya nggak perlu deg-deg an dan khawatir berlebihan klo mereka di kids corner hehe

Kalau selama ini kami belajar bagaimana cara mengasuh anak bagaimana cara memahami anak, kali ini kami memilih untuk belajar

Bagaimana mengasuh dan merawat pernikahan kami serta memahami satu sama lain

Dan benarlah ketika murid siap, guru datang. Ustadz Bendri Jaisyurrahman kebetulan ada agenda kajian yg diadakan Fatma Warta. 

Mengapa kami merasa perlu belajar tentang Harmonisasi Pasutri ini? Apa ada masalah? Sebenernya kita kalau belajar jangan nunggu ada masalah dulu ya. Cukup pemadam kebakaran saja yang bertindak jika sudah ada masalah karena memang itu tugas mereka. Tapi kalau untuk keluarga harus dipersiapkan terus menerus. 

Ustadz Bendri menjelaskan, perceraian terjadi kadang kala bukan karena pelakor atau orang ketiga namun adanya dosa yang diteruskan. Itulah mengapa kita harus senantiasa belajar mengharmonisasikan jalan kita dengan pasangan. Agar jika ada dosa-dosa yang kita lakukan atau pasangan kita lakukan segera diperbaiki bersama-sama. 

Nikah adalah ibadah, senang disyukuri, susah disabari. Karena menikah itu mencari teman ke surga. 

Nah gimana caranya mengingatkan? 

Ustadz Bendri menyampaikan, caranya sebutkan kebaikan-kabaikan pasangan maka dengan sendirinya pasangan akan mengoreksi diri sendiri, apa ya yang kurang dari saya. Sebaliknya jika kita mengkritik terus pasangan akan merasa terganggu. 

Disampaikan juga bahwa pernikahan itu seharusnya tidak hanya halal namun juga thoyib. Ketika hal yang halal namun tidak baik maka akan menimbulkan kesedihan. 

Dan bagi laki-laki sepuluh kata itu terlalu banyak sedangkan seorang wanita butuh banyam kata untuk mengekspresikan dirinya. Itulah perbedaan laki-laki dan wanita. Hal sepele yang kadang membuat permasalahan. 

Sudut pandang wanita itu 180 derajat sehingga seorang wanita bisa melihat satu hal dengan pandangan yang luas. Sedangkan sudut pandang laki-laki itu lurus tapi jauh ke depan. 

Di Al Quran disebutkan istri ibarat ladang maka bercocok tanamlah disana. Nah untuk menghasilkan hasil yang baik maka tugas suami adalah merawat istri nya dengan baik agar bisa menghasilkan anak yang baik. Jika suami di ibarat kan gas oksigen di pesawat maka dia harua diberikan dulu kepada istri nya baru kepada anaknya. Jadi bapak-bapak sebelum menanyakan kabar anak, tanyakan dulu kabar ibunya hehehe

Perbedaan-perbedaan seperti bisa menjadi kendala namun juga bisa menjadi kekuatan sinergi satu sama lain. Ini yang perlu dilatih dipelajari terus menerus. 

By the way, seminar ini diadakan saat long weekend temen-temen dan ternyata liburan sambil datang k seminar apalagi temanya seperti ini itu seruuu banget. Romantis itu ketika kita belajar bareng saling memperbaiki diri bareng demi merawat pernikahan kita.

Oiya ada catatan penting juga, jika kita ingin memiliki kedekatan hati dengan pasangan (suami/istri) maka dekatilah sang pembolak balik hati. Yaitu Allah. 

Alhamdulilah di titik ini, kami tidak hanya berpikir lagi “bagaimana anakku” namun juga “bagaimana pernikahanku?”. 

Semoga semakin banyak kajian dengan tema seperti ini. Dan semakin banyak teman-teman yang ikut merawat pernikahannya dengan lebih baik. 

Advertisements

Polymath

Suatu hari, dirumah, aku jalan-jalan di timeline Facebook. Hehe jalan-jalan zaman now

Ada seorang sahabat yang mengeluhkan tentang mengapa beberapa ulama sekarang mengkhususkan diri pada satu bidang keilmuan padahal dahulu ulama itu dikenal sebagai orang yang menguasai berbagai macam ilmu. 

Anehnya aku merasa kurang setuju dengan yang dia nyatakan, karena nyatanya memang setiap orang harus memilih satu bidang ilmu yang ingin dia kuasai seperti kita memilih jurusan di kampus saat akan masuk perguruan tinggi. Tunggu dulu…jangan-jangan pola pikirku ini terbentuk karena apa yang aku lihat disekelilingku saja. Lingkungan yang berpandangan bahwa gelar dibelakang nama kita adalah satu-satunya cara untuk mengetahui keahlian apa yang dimiliki seseorang. 

Pemikiranku runtuh sampai aku dan keluarga bac komik Al Fatih karya kak Handri Satriya. Disitu digambarkan Muhammad Al Fatih belajar pada gurunya Syaikh Ahmad Al Qurani dimana beliau adalah seorang polymath. Polymath adalah sebutan bagi seseorang yang menguasai lebih dari satu bidang keilmuan. Syaikh Al Qurani menguasai ilmu biologi, kedokteran, astronomi, dan pengobatan herbal. Dari situ aku mulai tertarik mencari tahu tentang orang-orang yang menguasai lebih daru satu bidang keilmuan. 

Dan ternyata orangnya tidak jauh dari kerabat aku sendiri. Seorang guru, coach, dan penulis Canun dan Fufu. Di salah satu postingan Teh Fufu di instagramnya, teh Fufu bercerita bagaimana orang-orang meragukan khasanah keilmuannya tentang parenting karena gelar dibelakang nama. Iya orang-orang sepertiku yang meragukannya. Tapi karena Allah sudah mempertemukan aku dengan Kang Canun dan Teh Fufu sebagai coach-ku di Sakeena Family, aku tahu kemampuan mereka yang nggak sekedar tulisan diatas kertas. 

Dari situ aku sadar, ya memang seharusnya kita tidak membatasi diri untuk belajar ilmu apa dengan terpatok pada satu ilmu saja. Mungkin kita akan mempelajari hal yang masih linear dengan ilmu sebelumnya kita pelajari atau bahkan berbeda sama sekali. 

Pun tidak perlu menilai seseorang dari gelar yang melekat pada namanya saja. Dan tidak ada yang perlu dibanggakan berlebihan dari gelar panjang dibelakang nama kita. 

Menjadi seseorang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar itu lebih baik. 

Pada komunitas Community Based Education aku melihat teman-teman yang mau bersusah payah menggerakkan keluarganya untuk mengajak anak-anak tetangga gemar membaca. Ada yang mengajak anak-anak tetangga mengenal permainan tradisional. Ada yang mengajak Ayah Bundanya membuat mainan sendiri. Dan aku yakin para tetangga itu tidak ada satupun yang menanyakan gelar dibelakang nama mereka. Yang mereka tahu mendidik anak-anak tidak bisa sendiri dan uluran tangan teman-teman CBE seperti pertolongan saat mereka terhanyut arus zaman yang deras yang membawanya jauh dari Allah. 

Mempelajari satu bidang yang digemari atau diperlukan pada saat itu bukanlah hal yang salah. Hanya saja menjadi kurang tepat jika yang tumbuh adalah limiting belief. 

Limiting belief adalah Keyakinan-keyakinan baik mengenai diri kita sendiri maupun diluar diri kita yang menghalangi kita untuk merespons secara luas (Okina dalam Enlightening Parenting)

Membatasi diri kita bahwa kita tidak mampu mempelajari hal yang baru. Membatasi diri kita dengan mengatakan pada diri sendiri, inilah batas kemampuan saya. Membatasi diri dengan mengatakan, saya gaptek, saya sudah lelah bekarja tidak ada waktu untuk mengikuti kajian Islam, dst. 

Limitting belief sangat merugikan kawan membuat kita terjebak pada reaksi yang itu-itu saja dan membuat kita takut melakukan hal baru. 

Rasa takut itu tidak membuat kita maju. Keberanianlah yang membuat kita menemukan hal-hal baru. Belajar dari keselahan dan memperbaiki diri terus menerus.

Aku pernah mengalaminya, limitting belief itu berupa takut jualan, tidak bisa jualan, menganggap remeh orang yang jualan dan enggan belajar marketing. Dan di Sakeena Family bersama Kang Canun dan Teh Fufu lah aku bisa menyingkirkan limitting belief itu. Dan dalam perkembangannya limitting belief yang merugikan yang tumbuh dalam keluarga alhamdulilah aku bisa menggugurkannya. 

Satu hal yang dari dulu aku pegang adalah, Allah mengangjat derajat orang- orang berilmu. Aku percaya nggak ada ilmu yang sia-sia, jangan takut mempelajari hal yang baru.

Family Strategic Planning

Kala itu kami hadir saat sesi tanya jawab terakhir. Hari sudah siang kami sudah cukup lelah karena perjalanan dari Gresik lalu ke Sidoarjo mengunjungi keluarga saya dan sahabat saya yang sedang berbahagia menyambut perkembangan anak perkembangan anak pertamanya. 

Acara yang bertajuk Family Strategic Planning (FSP) ini diadakan oleh Intitut Ibu Profesional Surabaya Raya, yang mengerjakan acara ini dengan betul-betul profesional. Dan saya menyadari profesional disini bukan sekedar tagline belaka. Mungkin lain waktu saya akan ceritakan how profesional they are. 

Semua peserta duduk di meja-meja yang sudah disusun dalam bentuk kelompok. Di sesi sebelumnya semua peserta yang terdiri dari pasangan suami istri didampingi fasilitator diarahkan oleh Ibu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mardianto, selaku pembicara, menyusun FSP step by step. 

Berikut ini adalah cara menyusun FSP. Ringkasan ini disadur dari catatan Bunda Ika Nurmaya, peserta workshop FSP juga

________________________

Punyalah peta dulu untuk menentukan tujuan. Karenanya jika anggota keluarga melakukan kesalahan maka jangan salahkan mereka krn memang tidak punya peta. Peta ini u menyamakan persepsi. Letakkan hati anda pada keluarga anda, sehingga insting akan keluar dibantu Allah

  1. Tuliskan nama peta di tengah kertas posisi mendatar: nama keluarga

  2. Tulis tujuan di pojok kanan atas, tujuan itu baik jika bisa tahu kita sampe di tempat itu. Kita tahu saat mencapai tujuan itu.harus jelas u keluarga kita sendiri

  3. Tulis posisi kita di mana?, tulis titik awal di pojok kiri bawah. Titik awal Yaitu keadaan anggota keluarga kita saat ini.keluarga saya jml 4, anggota ayah ibu salman dan aydin. Tuliskan kekuatan masing2 anggota keluarga, tulis hobby, kapabilitas.

  4. Tuliskan kompas yaitu core value/ nilai keluarga, tentukan mana yg harus dilakukan dan tidak dilakukan. Kata sifat yg mbantu anda memutuskan prioritas dalam hidup. Contoh indonesia adl pancasila. Kalau core value keluarga saya adl iman dan kehormatan. Pas m Ara mau sekolah, apakah sekolah berlawanan iman? Tidak, apakah Allah berlawanan dg kehormatan? Tidak, maka bisa dilakukan, jadi core values adl salah satu cara u pengambilan keputusan. Tulis di pojok kiri atas, tulis dua atau tiga kata saja

  5. Tulis rambu2/ SOP/ aturan dasar/ golden rules tulis di pojok kiri atas yg berfungsi manakala terjadi badai dlm keluarga.contoh: ttetap berkomunikasi walau tjd badai, segala keputusan yg muncul saat marah, maka batal demi hukum, bila terjadi perselisihan kembali pada alquran dan hadis, maka jika msh ada perbedaan maka datang ke ahli yg sdh disepakati. Hasil dari ahli itulah keputusannya

  6. Tuliskan bekal yg hrs disiapkan di tengah bawah, misal biaya dll

  7. Tuliskan support sistem di luar keluarga kita ex: komunitas institut ibu prof, sahabat keluarga, kolega keluarga. Shingga ketika terjadi badai antara ayah dg anak lalu anak pergi, ia akan pergi ke komunitas itu, dll ditulis di kanan bawah

  8. Kapal tidak harus satu, boleh banyak kapal yg berlayar menuju satu tujuan, tiap anggota keluarga boleh mengambil jalannya sendiri, yg penting 1 tujuan

  9. Tuliskan nama keluarga pikirkan nama yg indah, nama itu akan menggambarkan apa, tulis peran hidup jika belum menemukan peran hidup tdk apa2, temukan dg banyak ngobrol, aktivitas dan bermain

  10. Tuliskan tema tahunan/ proyek, setiap proyek dimiliki setiap anggota keluarga, dan yg lain mjd support system, mjd follower jadi harus taat pada pimpro. Dalam proyek ini yg penting adl proses bukan hasil, anak2 yg penting berlatih dan belajar. Tema idenya bisa muncul dari manapun, berbahagia berbuat salah selama masih belajar, jadi berbuat salah maupun berbuat benar tetap dihargai sepanjang mendapat pelajaran

_________________________

Seluruh keluarga yang harga nampak sudah membuat rancangan peta keluarga. Aku hadir di ruangan sendirian setelah, sholat dhuhur dan mengantarkan anakku dan ayahnya di kids corner yang nyaman dengan tenaga profesional juga. 

Saat itu berdiri seorang Bapak sedang mengajukan pertanyaan, nampak bahwa Bapak ini sudah terjun langsung memikirkan akak dibawa kemana masa deoan keluarganya nanti. Tidak sekedar memikirkan pemenuhan nafkah namun peran apa yang akan mereka ambil kelak. Sangat sayang jika di dunia hanya memikirkan perut saya bukan? 

Dari Umar radhiyallahu โ€˜anhu, bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œAmal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.โ€ (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Saya hadir karena Allah memberikan saya kemudahan untuk hadir. Dan saya manfaatkan bersama keluarga saya mendengar langsung gaasan Ibu Prodesional dari foundernya. 

Bukan karena saya nge fans, kata seorang guru idola bisa diartikan sebagai Tuhan Palsu dan itu salah dalam Islam. Dan manusia adalah tempatnya salah kelak kita bisa kecewa dengan idola kita. Namun merasakan semangatnya, ghirah untuk menjadi pembeda itulah yang saya cari. Saya yakin oanjng perjuangan Bu Septi dan Pak Dodik mensosialisasikan ide Ibu Profesional ini. Hingga saat ini kalimat sumbang pun masih terdengar. 

Pun bukan karena mendewakan gagasan yang ada didalam Ibu Profesional, karena ini adalah hasil pemikiran manusia tentulah tidak sempurna. Namun selama ini sesuai kaidah Al Quran dan sunnah, bagi keluarga kami sudah masuk syarat diterimanya sebuah gagasan sebagai inspirasi keluarga kami. 

Saya lanjutkan pengalaman worshop kemarem ya,,,

Meski sesi tanya jawab terakhir namun aoa yang dijelaskan pak Dodik dan Bu Septi sangat mendalam. Berikut resume tanya jawab yang sudah dihimpun oleh lagi-lagi Bunda Ika Nurmaya

_________________________

Bu Septi

Berikan proyek pada tahap pralatih sebelum 9 th, proyek hanya dlm hitungan hari, semua anggota keluarga ikut berpartisipasi.

Ex: proyek sarapan sehat selama seminggu, adik umur 2 th yg bagian membuang sampah, tidak apa2 berceceran.

Golden rules, cara efektif pak dodik kalau marah dari wajahnya sdh kelihatan, ia diam.

Lalu jika saya/ bu septi marah, saya biasa mengomel, maka biasanya pam dodik berikan air untuk saya kumur.

Untuk monitoring proyek, maka evaluasinya  setiap minggu adalah:

  1. Sdh melakukan apa?

  2. Sdh sukses apa?

  3. Minggu depan mau sukses apa?

Lalu kami melakukan false celebration setiap bulan merayakan kesalahan, harus ada yg mencatat setiap cerita/ bibi titi teliti u membantu mengingatkan ttg rencana2 yg sdh pernah dicanangkan.

Untuk buku yg jadi refferensi literasi keluarga bu septi dan pak dodik, biasanya pak dodik yg membaca buku, lalu bu septi diceritain oleh pak dodik.

Buku pertama adl Toto Chan, lalu berpikir dan berjiwa besar, lalu buku2 ttg pendidikan , pendidikan kaum tertindas, baik model, jenis.

Buku2 yg disukai pak Dodik adalah sosialis agama, biografi moh hatta, sutan syahrir, buku strategic planning for non profit organization, mendidik anak berbakat, buku ttg parenting nabawi 4 khalifah.

Kata umar jika anak berbuat salah tegur dan jangan tulis kesalahan itu. Jika ankmu berbuat benar, puji dan tulis kebaikaannya itu.

Parenting Abu Bakar lebih lembut dlm mendidik anak.

Tujuan umum adalah visi, sdgkan tema adalah jalan u mencapai tujuan tsb.

Contoh: saat elan usia 7 th, proyeknya adl berbagi kartu nama, tiap minggu ditanya sdh berbagi kartu nama berapa, sdh dapat brp

Menentukan tujuan antara anggota keluarga, pilih masing2 tujuan yg bisa dikerjakan bareng2.

Dengan berlatih bermain bareng, ngobrol bareng dan beraktivitas brg, maka akan semakin banyak tujuan kita

Untuk anak 8-12, adalah anak2 yg merasa benar sendiri, maka kita harus mjd pendengar yg baik, jadi sahabat yg baik. Mema g harus mereka spt itu, krn sdg muncul keakuannya.

Harus kita berhasil melatih diri sendiri untuk Bisa mjd sahabat anak.

Pak dodik

Ortu harus bermain peran, yaitu sbg ortu, teman dan adik ( kita yg butuh mereka).

Pada usia 11-14 anak sdh tidak suka dinasehati, maka kita hrs mjd temannya.

Jika ia sdh usia 14-21 maka kita sbg partner saja, ibu bisa bantu apa, ayah bisa bantu apa.

Jadi FSP ini mjd pendidikan pd anak2, shg kita ortu jadi tahu bgmn cara membantu anak2 kita u mencapai cita2 nya. FSP adl doa, krn pengalaman saya apa yg sdh ditulis di saat lalu ternyata dikabulkan/ terwujud. Maka kita akan sering bersyukur, krn tahapan yg kita tulis ternyata Allah wujudkan.

Keinginan kita u mewujudkan yg terbaik u pasangan dan anak2 kita, maka akan tertulis jelas, dan bisa dievaluasi di FSP.

Bu Septi

Yg single, buatlah personal strategic planning, yg punya komunitas buat community strategic planning

_________________________


Sepulang dari workshop FSP rasanya seperti HP yang baru di charge full. Saya langsung mencoba mendiskusikan dengan suami untuk menyusun FSP kami, mulai dari nama, tujuan, posisi kita saat ini. Ternyata suami saya sempat mengikuti materi meski dari luar ruangan sambil menggendong anak saya.

Gambaran peta hidup kami mulai nampak. Namun ternyata memang benar bukan hal yang mudah, bukan sehari atau dua hari kita menyusun FSP mungkin dalam hitungan tahun tergantung seberapa cepat kita mau belajar dan serius. Belom bisa sharing FSP kami karena kami masih menyusunnya. Semoga kelak bisa sharing lebih lanjut. 

Sebagai follow up dari workshop FSP, suami saya membuat WAG yang tentu isinya cuma kami berdua namun isinya adalah hanya untuk membicarakan perkembangan FSP kami, segala ide-ide. Suami saya membuat sebuah kartu kontrol untuk salah satu project family yang dia buat, semoga terus berjalan dan berkembang lebih baik. 

Tempat Parkir, Penutup Pintu Rejeki


Ini bukan analogi, ini tulisan memang tentang tempat parkir yang ternyata bisa jadi penutup dan pembuka pintu rejeki

Sering nggak, kita mengalami kesulitan mencari tempat parkir, di daerah padat pertokoan? Sering pakek banget ya.

Sering nggak, kita parkir kendaraan di depan toko yang bukan tempat tujuan kita? Sering juga kan ya? Sama kalau begitu ๐Ÿ˜Š

Sering nggak, ada perasaan sungkan sudah parkir di depan toko yang tidak menjadi tempat kunjungan kita? Sering kan ya, nggak enak gitu rasanya. 

Sering nggak, pada akhirnya meluangkan waktu untuk beli di toko dimana kita memarkirkan kendaraan, padahal sebelumnya tidak ada rencana untuk beli barang di toko itu? Sering ya, itung-itung bagi rejeki, rasa terimakasih, menutupi rasa sungkan kita tadi. 

Sayangnya tidak semua orang menyadari hal ini.

Siang ini, saya dan anak saya membeli jus buah di toko langganan. Letaknya didaerah pertokoan kecamatan Kebomas yang tidak pernah sepi. 

Mula-mula saya parkir di depan toko tambal ban yang selang satu toko dari toko jus buah, karena mau sekalian pompa ban motor saya. Hehe masih enak bikers saya. Ternyata tutup tokonya, yasudah saya berdoa ban motor aman sampai dirumah. 

Agar tidak terlalu jauh saya geser sedikit tempat saya memarkir motor. Saya perhatikan toko di depan tempat saya parkir, rupanya toko ini jual plastik dan gula, karena tokonya gelap dan meletakkan dagangan agak masuk jadi tidak nampak dari luar. Sepertinya, nanti mampir beli gula disini. Wah enak ney bisa dapat toko langganan gula disini, bisa belanja sambil beli jus, pikir saya begitu.

Seorang bapak-bapak mengamati saya memarkir motor, dan menyapa saya “arep tuku opo mbak?” (Mau beli apa mbak)

“Beli jus pak” balas saya senang karena sudah disapa. Kemudian bapak ini mengibaskan tangannya memberi isyarat agar saya memindahkan motor saya sambil memalingkan muka. 

Sempat saya berpikir beberapa detik, o saya disuruh pindah, aka diusir rupanya. Wah sudah geer disapa pemilik toko ternyata disuruh pindah hehe. Akhirnya saya pindah motor ke depan toko jus dengan berdesakan dengan motor yang lain. 

Singkat cerita saya sudah selesai dan beli jus di toko tersebut. Diperjalanan pulang saya baru ingat tadi seharusnya saya beli gula di toko sebelah toko jus tadi. 

Saya berpikir, seandainya si bapak dengan legowo meminjamkan parkiran barang beberapa menit mungkin ada rejeki yang mampir padanya lewat saya. Wah saya jadi perasaan enggan mendekati toko tersebut. 

Lalu saya amati toko-toko di sepanjang jalan ternyata memang ada beberapa toko yang memasang pembatas parkir untuk tokonya. Saya mencoba menggunakan pola pikir penjual toko. Mungkin mereka berpikir jika tidak ada lahan parkir maka orang enggan untuk datang dan membeli. Saya setuju dengan hal ini.

Namun saya berpikir kembali menggunakan pola pikir konsumen. Seorang konsumen ketika membutuhkan sesuatu dan dia tahu dimana mendapatkan barang tersebut, meskipun harus parkir lebih jauh dia tidak akan keberatan, bahkan sampai parkir di toko sebelah nya membayar parkir plus ongkos sungkan, dengan membeli barang tempat dia parkir. 

Nah ketika seseorang parkir di depan toko kita, mereka melihat etalase kita, barang apa saja yang ada disana, ini adalah proses edukasi kepada konsumen mengenai barang yang kita jual. Konsumen yang berdiri di depan toko kita jaraknya sangat dekat dengan etalase kita dan besar kemungkinan mereka mengamati apa yang kita jual. 

Lalu bagaimana membuat mereka yang numpang parkir ini akhirnya membeli? Salah satunya dengan kesungkanan hehe. Alih-alih kita mengusirnya dan berdampak seperti saya tadi enggan mampir dan artinya tidak mau beli, apalagi kalau tokonya ditulis di medsos hehe but I won’t, kenapa tidak kita sapa. “Mau cari apa mbak?” Dengan senyum ๐Ÿ˜Š. Jika dia tidak mau membeli barang ditempat kita saat itu mungkin saat lain saat dia membutuhkan. Atau tawarkan new arrival atau barang yang sedang promo saat ini. “Lagi diskon pasmina mbak, mungkin mbaknya perlu untuk kondangan” klo lagi musim kondangan ๐Ÿ˜Š. Sepertinya menyapa seperti itu lebih baik ya, untuk kesehatan jiwa kita kesehatan jiwa calon pelanggan, dan siapa tahu tiba-tiba Allah menitipkan rejeki kita pada pelanggan yang tidak kita duga. 

Renungan Senin

Ketika SMA dulu dalam kajian di sekolah kami diterangkan perihal ghazwul fikr atau perang pemikiran. Dan bagaimana kita dilenakan dengan adanya hiburan. Food, fashion, film saat itu. 

Bagiku semua informasi itu, ah masak sih! 

Satu dekade terlewati nampaklah wajah-wajah yang terlena. Tak sempat mengkaji Sirah Nabawiyah maka pemain film pemain musik mereka idolakan bagaikan dewa. Atau mungkin sempat mengkaji namun satu dekade adalah waktu yang lama sehingga Rasulullah pun terpinggirkan dari hatinya. 

Film dan film adalah hiburan terbaik. Dan lembaran Qur’an tak lagi menarik hati. Akalnya ingin sekali menggapai kitab suci namun hatinya seakan berat. Ada apa dengan hatinya? 

Kian tahun generasi seperti ini tak berkurang namun kian bertambah. Karena senjata ghazwul fikr kian canggih. Bisa digenggam bahkan dibawa kemana-mana. Smartphone yang tak pernah lepas dari genggaman.

Kali ini mungkin bukan lagi segala macam hiburan mempengaruhi hidupnya namun memperbudak hidupnya. Lahirlah generasi yang bangga disebut sebagai generasi micin. Bangga akan ketidak pedulian kepada sesama. Bangga akan hidupnya yang senang-senang dan senang-senang. Salah satu yang mereka benci adalah orangtua. Karena dianggap nya tidak mengerti keinginan mereka. Yang mereka pedulikan hanya dirinya sendiri. 

Mungkin mereka sudah tidak sempat menyelamatkan diri dari cengkraman si gadget.

Mengembalikan keadaan menjadi sedia kala sungguh tidak mudah. 

Menjadikan kehidupan yang organik (mungkin bisa dibilang begitu) Tidak menggunakan gadget dibilang tidak mungkin, udik, kampungan, muluk-muluk. Dianggapnya terlalu keras pada diri sendiri. Atau mereka lupa dunia luar lebih keras menghantam diri kita secara diam-diam?

Lelah babak belur dan kadang mengeluh ingin menyerah. Sudah lah nasib jadi generasi micin ya sudahlah…begitukah? 

Tapi saat hati ini sakit merintih sendiri, fisik ini lelah tak mampu berdiri. Ada saja tangan-tangan yang menggapai anganku. Yang kata mereka fatamorgana. Menjadi optimisme dalam diri.

Peradaban yang lebih baik bisa terbentuk. Menjadikan anak sholeh dan Sholehah bisa kita lakukan. 

Liya Dewi

Sebuah renungan tentang kehidupan saya dan disekitar saya. Maka klo ada yang perlu tersinggung dgn tulisan ini adalah saya sendiri

Apa itu Me Time?

Ahad ini, jam ini, aku sendiri.

Suami snorkling di Menjangan anak maen dirumah Kung dan Uti nya yang jaraknya 5 menit dari rumahku.

Kata orang ini me time. Waktu untukku sendiri dan aku bisa melakukan apapun sendiri. Waktu yang diharapkan banyak orang. Waktu yang membuat bahagia karena bebas tanpa ada rasa beban. 

Tapi disini aku jadi tau apa makna me time untukku. Jika Me Time adalah waktu dimana kita sendiri dalam arti seorang diri secara fisik mungkin memang bisa dibilang momen ini adalah me timeku. 

Tapi bagiku Me Time adalah waktu dimana aku bisa mengeksplor diriku. Bagiku aku bisa mengeksplor diri ketika suami dan anakku berada di sekelilingku. Tetap belajar dan berkarya dengan tetap menemani mereka adalah eksplorasi yang seutuhnya bagiku. Karena menjadi mampu melakukan semua itu dalam satu waktu atau orang bilang multitasking adalah masalah jam terbang. Maka semakin sering aku berada dalam kondisi yang memaksaku menjadi multitasking adalah cara yang tepat untuk mengeksplorasi diri.

Terlahir sebagai wanita, fitrahku adalah kemampuan mengasuh, maka segala ilmu pengetahuanku di dunia pendidikan dengan cepat melaju mengalir dan mengeluarkan ide-ide baru seputar pengasuhan. Seolah fitrah dan pengetahuan adalah teman akrab yang sudah lama tak bertemu. Jadi Me Time ku adalah mengembangkan diri dengan tetap berada di sekeliling mereka. 

Klo pun aku harus pergi meninggalkan mereka haruslah untuk hal yang amat mendesak dan tidak dalam waktu lama.

Seperti kajian setengah hari jika lebih dari satu hari maka anak suami pun akan aku ajak. Karena Me Time ku adalah belajar. Belajar menjadi diriku yang lebih baik perlu melibatkan anak dan suami karena mendidik itu butuh satu desa, begitu juga dengan mendidik seorang ibu. 

Dan sekarang aku rindu Me Time ku. 

Trimester Awal

Trimester awalku kini nggak jauh beda sama yang dulu. Semakin hari semakin mual. Mualnya semakin nggak kenal waktu, nggak kenal ketemu makanan enak atau nggak, nggak kenal orang baik wangi atau kecut. Tapi aku bersyukur karena sekarang aku punya banyaaak waktu untuk  throwback….

Tiga tahun yang lalu waktu aku mengandung Azzam, aku masih kerja dan nyambi kuliah pascasarjana. Aku tinggal di kos bareng temen-temen kantor. Suamiku di Cilacap. Yes, long distance marriage dan alhamdulillah dititipin Azzam di perut. Dan yah trimester awal dengan keadaan seperti itu sungguh AMAZING DUDE!

Di trimester awal aku nggak bisa makan apa-apa. Iya semua keluar lagi, byasanya setelah pulang kantor sekitar jam setengah enam sore. Padahal pulang jam segitu adalah aib buat tempat kerja aku dulu. Aku pulang dan muntah-muntah. Muntah sampai nggak ada yang dimuntahkan dan lemes sendiri di kamar, secara temen-temen masih pada di kantor. 

Semakin hari aku nggak bisa ngebauk aroma orang dewasa. Padahal di kantor ketemu banyak orang. Padahal mbak dan mas nya wangi-wangi dan cantik mbak-mbak nya, tetep aku muntah bisa pagi siang atau sore. Betapa berisiknya aku di kantor ya. Semoga Allah membalas kesabaran temen-temen sekantor aku dulu dengan hal yang lebih baik dari Allah. 

Makan. Aku nggak bisa makan apa-apa kecuali susu hamil yang aku muntahin cuma itu. Byasanya tiap jumat, pas cowok-cowok kita cewek-cewek main ke mall sebelah buat jajan. Temen-temen aku pada jajan dan aku cuma ngliatin dengan tatapan ngeri nggak tahan baiknya makanan. Karena saran temen-temen akhirnya aku beli ice cream. Finally sebelum balik ke kantor mereka nungguin aku yang lagi di kamar mandi. Ngapain lagi klo bukan… Ya ice cream aja kluar semua. 

Aku nggak ada waktu buat screening gizi yang aku makan. Waktu itu yang pikirkan, yang penting aku makan meski akhirnya kluar lagi. Sampai trimester awal terlewati. Ini bukanlah cara yang terbaik tentu! Tapi itu yang terbaik yang bisa aku lakukan dengan kondisi seperti itu. 

Dan sekarang aku dirumah, bisa selonjoran waktu mual. Sambil liat tingkah anakku yang lucu yang adaaa aja. Aku nggak pernah muntah cuma sebatas mual. Aku bisa screening gizi yang masuk dalam tubuhku. Fokus tidak terpecah belah. Seberat apapun hari ini, aku merasa beruntung karena ini sudah lebih baik dari hariku yang kemarin. 

Dan karena aku tau berat menjadi ibu sekaligus bekerja maka aku sangat senang klo ada temen-temen yang memilih fokus dirumah bersama keluarga. Dan karena hal yang sama juga, aku sangat menghargai temen-temen yang masih bekerja sekaligus menjadi ibu. 

Dan karena hal yang sama juga, aku merasa sangat sakit hati klo ada yang bilang “menjadi ibu rumah tangga lebih mulia dari ibu bekerja”. Kebayang nggak sih susah payah mengandung sambil kerja, dan menyusui sambil kerja terus ada yang bilang kayak gitu. 

Kita nggak tahu perjuangan yang mereka hadapi dan kita nggak tahu apa yang Allah kehendaki.

QS Al-Baqarah : 119 – Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Bashiran wa nadhiran, berita gembira dan peringatan. 

Itulah yang seharusnya kau gunakan jika ingin mengajak seseorang ke jalan Allah. Berikan peringatan tentu boleh, jangan lupa dengan kabar gembira. Karena secara fitrah itulah tugas manusia di bumi.