Sebuah Metafora Kehidupan : Anakku

Pagi itu dengan bangga aku memasang status, “Alhamdulilah lulus no screentime 😍” 

Bagaimana aku tidak bangga, dua minggu aku lalui dengan memutar otak, mencari kegiatan yang menarik untuk si kecil agar dia tidak merengek minta berlama-lama di depan layar tv. 

Berbagai macam mainan aku sediakan, mainan yang aku buat sendiri untuknya. Berbagai macam pekerjaan rumah dengan cepat aku selesaikan, demi menemaninya bermain. Lelah tak lagi aku rasakan, hanya senyuman yang ku pajang leba-lebar, agar nyaman dia bermain bersamaku. 

Bagaimana aku tidak bangga menjalani kehidupan yang begitu heroik ini, dan kini akulah pemenangnya. 

Tapi sayang tropi kemenangan itu tidak lama berada di rumahku. 

Liburan sekolah tiba-tiba, anak-anak tetangga dengan asyik mengisi hari-harinya dengan berlama-lama di depan tv atau handphone milik orang tuanya. 

Anakku? Dengan tekun meneladani kawan-kawannya. 

Oh runtuh sudah kebanggaanku. Aku harus pasang status apa lagi kali ini? Betapa malunya aku rasanya…

Bagaimana bisa secepat ini anakku berubah haluan. 

Sore itu aku beristirahat di dalam kamar, satu-satunya ruangan yang rapi dirumahku pada sore itu. Berusaha menghilangkan penat. Merenungi adegan-adegan demi adegan kehidupanku yang rasanya…sia-sia.

Tuit tuit..

Sebuah pesan masuk k handphone ku, whatshapp pribadi maksudku. 

“Ukhti jangan lupa laporan tilawahnya hari ini ditunggu ya 😇”

Ah, dia tidak tahu aku sedang sedih, lelah, aku sedang ada masalah dia masih saja memintaku…ah astaghfirullah

Ku intip record pribadiku, kadang aku menyelesaikan target tilawah di awal waktu kadang diujung hari, kadang…

Bagaimana bisa aku menuntut seorang anak kecil dengan penuh istiqomah sedangkan aku sendiri…

Aku pun tertunduk malu

(Sebuah Metafora Kehidupan: Anakku, by liya dewi 2018)

Advertisements

Sebuah Metafora Kehidupan

Siang itu dadaku terasa panas, sepanas udara kota pahlawan kebanggaanku ini. Disusul degup jantung yang terasa lebih cepat, nafas mulai tersengal-sengal, disusul kepala yang mulai pening. Arrrrrghhhhh…

Klo digambarkan di komik-komik jepang, bola mataku sudah berubah jadi api yang membara lalu dsri kedua lubang hidungku keluar asap yang mengepul. Orang jawa bilang, kesetanen, sebutan untuk orang yang emosinya meluap-luap.

Jika tidak ingat ada anak yang meneladani tindak tanduk sudah meluncur 1001 kata pamungkas ala kota pahlawan. Jika tidak ingat kalimat thoyyibah sudah kusebut semua jenis hewan di kebun binatang. Dan akhirnya kepalaku makin sakiit, pening, menahan emosi dalam diriku sendiri. Arrrrghhhh, sambil menahan sakit kepala air mata bercucuran.

Tahukah kalian bahwa saptitank, tempat buang terakhir kotaran kamar mandi kalian memiliki lubang udara? Mengapa lubang udara itu dibuat? Ya, karena kotoran ini menghasilkan gas yang jika dalam waktu lama berada dalam ruangan tertutup akan menghasilkan ledakan. Sama seperti emosimu.

Bercerita tentang kehidupan keluarga kita merupakan membuka aib keluarga kita. Tapi apa jadinya jika luka ini di pendam, dan emosi ini terus menerus berada dalam tubuh kita tanpa tersalurkan? Tidak ada yang diajak diskusi, tidak boleh pasang status, tidak cerita dengan orang lain. Apa yang akan terjadi?

Bererita aib keluarga kita kepada orang lain belum tentu mendapatkan tanggapan yang kita harapkan, tapi bermu ajat pada-Nya dalam keadaan emosi meluap-meluap apakah mungkin?

Wah ini pasti gangguan syaithon, pikirku.

Bulan demi bulan pun berlalu.

Hari yang mengerikan itu berakhir dengan aku tidur karena kelelahan.

Tak terasa kini sudah sampai bulan Ramadhan. Dimana syaithan dibelenggu oleh Allah.

Seharusnya di bulan ini aku menjadi orang yang waras sepenuhnya. Karena tak ada satupun syaithan yang menggangguku.

Sampai pada malam itu tiba

Aku bahkan tak bisa mengingatnya persoalan awal tapi yang aku ingat, dadaku mulai panas, lagi, jatungku mulai berdegup kencang, lagi, nafas mulai tersengal-sengal, lagi, persis seperti siang itu.

Tunggu, ini Bulan Ramadhan, maka aku tidak bisa lagi meng kambing hitamkan syaithan atas kelakuanku. Ini adalah aku. Dan ah betapa memalukannya diriku. Ini adalah Ramadhan bulan dimana aku bisa melihat siapa diriku sebenarnya, bulan dimana aku tidak bis menyalahkan siapapun kecuali diriki sendiri atas segala maksiat yang aku lakukan. Ah maluuunya aku.

Aku pun tertunduk malu, tapi disisi diriku ada rasa tak berpuas diri jika tidak menyalurkan emosi dan menyikiti hati orang lain, sebagai balasannya hati ini yang merasa disakiti.

Nah siapa dia? Siapa yang memberikan bisikan jelek itu?

Sekali lagi aku tetunduk malu, itu diriku sendiri yang memberikan bisikan jelek. Karena dibulan ini aku tak bisa menyalahkan siapapun kecuali mengakui ya ini aku, yang hina.

Ini masih Ramadhan, aku masih bernafas, jantu gku masih berdetak, nampaknya Allah masih memberi aku kesempatan untuk mencuci bersih hatiku. Mengurung rapat-rapat diriku yang penuh kebencian itu.

Entah bagaiamana caranya

(Sebuah metafora kehidupan, by liya dewi 2018)

Menjadi Ibu yang Luar Biasa?

Alih-alih menjadi ibu yang luar biasa teryata dia hanya mengejar obsesi eksistensi diri dan menjadikan keluarganya budak dalam roda kehidupannya yang penuh ambisi

Seakan lemah lelah tapi ternyata dia hanya seorang pemalas dan pemarah yang sungguh tidak tahu malu

Dia adalah generasi penonton Cinderella, seorang gadis yang hidup sederhana seketika berubah menjadi serba ada. Ah dia salah mengambil pesan dalam sebuah kisah

Bersembunyi dibalik topeng pengorbanan tapi ternyata dia hanya menyajikan pencitraan-pencitraan di dunia maya

Kehidupannya sekarang hanya berada pada sebuah kotak elektronik bernama handphone 

Hah pantas saja dia merasa tersulut api ketika ditegur terlalu banyak bercengkrama dengan benda kotak itu, dirinya sudah terjebak dalam gelimang apresiasi yang berbalut pencintraan

Dia salah memahami arti dari sebuah keberdayaan seorang ibu. Bukan dia yang eksis di dunia maya tapi remuk di dunia nyata

Karena sejatinya kita ini manusia bukan kode-kode dalam kotak elektronik

Merasa lelah? Paksakan sedikit kalaupun habis sudah dayamu, semoga kau mati dalam keadaan sebaik-baiknya mati. Karena sudah mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga. Bukan setumpuk keluh kesah sampah

Kau, ibu muda, tak terbiasa dengan kata-kata tajam mengiris daun telingamu? menyayat hatimu? Memeras air matamu? Maka jangan kau mengaku sebagai ibu yang hebat

Kau tak terima dengan semua yang disampaikan ini? Maka bangkit! Berubah! Bergerak!

Sungguh tidak ada gunanya kau bersembunyi dibalik ilmu-ilmu parenting sebagai alat untug menuntut kesalahan pola asuh orang tuamu. Untuk apa? Kita tak bisa merubah masa lalu? Kau tahu itu bukan, wahai ibu-ibu muda terdidik nan cerdas

Perubahan itu perlu keringat, keringat yang nyata bukan tulisan-tulisan saja di deretan media sosialmu

Sekarang tidurlah, percayalah esok kau adalah ibu muda baru yang sungguh-sungguh berbeda

Setiap ucapanmu adalah kebaikan. Lelahmu adalah tumpukan amal, karena tak satupun aktivitasmu yang terlepas dari dzikir. Ah indahnya

Percayalah😊

(Prosa: Menjadi Ibu yang Luar Biasa?, by Liya Dewi 2018)

Death Cure

Gimana ya klo Ibu-ibu bikin review film? 

Silahkan simak tulisan ini, kamu akan dapat jawabannya.

Death Cure adalah sekuel terakhir dari film Maze Runner. Film dengan tema zombi adalah film yang nggak banget buat aku. Aku sama sekali nggak pernah mau nonton tapi entag kenapa sekuel Maze Runner ini terasa beda. Sebagai Ibu aku merasa menemukan insight learning yang luar byasa.

Thomas tokoh utama film ini yang berusaha menyelamatkan teman-temannya dari tembok besar WKCD pada akhirnya kembali lagi kesana untuk menyelamatkan Minho temannya yang dijadikan alat percobaan pembuatan obat dsri Virus yang mematikan. 

Aku langsung terbayang gimana perjalananku belajar ilmu parenting, mulai dari awal dulu tahu apa itu innerchild, yang membuat aku marah pada masa kecilku, merasa salah asuhan, tapi saat aku lemah pada akhirnya akupun meminta petuah orang tuaku. Seberapun kita lari akhirnya kita pun akan kembali pulang. 

Setelah pelarian yang jauh, korban berjatuhan, dan sahabatnya Newt pun meninggal karena virus yang bisa membuat orang menjadi zombi itu. Akhirnya dapat ditemukan Oleh Teresa obat dari penyakit itu ada di dalam darah Thomas itu sendiri. 

Setelah merasa ada yang salah dengan pola pengasuhanku di masa kecil, aku mencari tahu ilmu parenting lebih jauh lagi. Selama 4 tahun ini yang aku pelajari ilmu psikologi, parenting nabawiyah, fitrag based eduation, neuro linguistik program, neuroparenting. Pada akhirnya aku menyadari semua ilmu itu adalah jalan untuk menemukan parenting yang terbaik yang ada dalam diriku sendiri. Karena setiap Ibu sudah terinstall kemampuan mengasuh anaknya. Dan ilmu ini tidak akan tertukar.

Peperangan di kota terus berlanjut. Perang merebutkan kekuasaan antara kubu penguasa kota dan pemberontak. Hingga akhirnya seluruh kota hancur.

Benarlah ketika sudah hawa nafsu yang berbicara, bukan hati nurani maka yang ada hanyalah kehancuran dan tak ada sisa tak ada yang menang ataupun kalah, hanyak kita yang sama sakit, sama hancur. Seperti juga membina keluarga ini. Karena membina keluarga bukan tentang menang atau kalah tapi saling mengerti. 

Thomas berusaha menyelamatkam dunia dengan menyelamatkan teman-temannya dsri WKCD tapi akhirnya dia kembali juga ke WKCD. Teresa berusaha menyelamatkan dunia dengan membuat obat dengan bahan percobaan teman-temannya, sehingga mereka tersiksa secara psikologis dan fisik. Namun pada akhirnya yang mengikuti hati nurani lah yang bertahan menuju kehidupan yang lebih. Sorry klo ini spoiler banget ya. Menurut sudut pandang aku Thomas bisa berhasil sampai ke titik terkahir karena mengikuti hati nurani, memanusiakan manusia. 

Fitrah, ita ketika kita menjaga fitrah kita dengan baik. Maka hati ini akan menuntun kita kejalan yang baik bukan hanya untuk kita tapi untuk orang-orang disekitar kita. 

Tapi jika dipikir lagi mana jalan yang benar apakah jalan yang diambil Thomas atau Teresa? Keduanya tidak ada yang salah atau benar, keduanya adalah jalan yang harus dijalani. Seperti pada tulisan surat Newt untuk Thomas. Katanya meski jalan ini panjang menyakitkan, tapi dia pun tidak akan berharap dihidupkan kembali dalam keadaan yang lebih baik, dia memilih untuk tetap menjalani kehidupan yang sama. Karrna perjalanan ini tang membuat hidupnya berarti.

Pada akhirnya ilmu parenting mana yang salah dan yang benar untuk diterapkan di keluarga kita? Kita tidak pernah tahu, yang bisa kita lakukan adalah menjalaninya dengan sebaik mungkin. Ikhlas menerima masa lalu dimana didalamnya ada kebahagiaan dan juga kesedihan. Karena keduanya yang membentuk diri kita pada hari ini.

Death Cure. Hidup ini seperti pencarian obat yang paling pas untuk kita. Kita cari dengan berlari dalam labirin, meghindari sosok yang berusaha menyakiti kita. Yang kita cari kesana kemari akhirnya kita temukan dalam diri kita. 

Yang kita minum obatnya tiap hari tapi kadang kita sakit juga. 

Lalu putus asa?

Jangan

Karena Allah tidak menyuruh kita menjadi seorang Pemenang, tapi menjadi seseorang muslim yang kelak sampai akhir hayat tetap berada di jalan-Nya.

Itu saja. 

Harmonisasi Pasutri

Menikah itu adalah ibadah

Jika bahagia maka disyukuri

Jika penuh tantangan hadapi bersama dengan kesabaran

Ini adalah kalimat yang kami ingat pada seminar Harmonisasi Pasutri bersama Ustadz Bendri Jaisyurrahman. Tiba-tiba jadi inget Buku Duo Sabar Syukur hehe emang bab ini ada disepanjang kita hidup dah 

Kali ini suami saya yang mengikuti seminar full dari jam 08.00 – 15.00 wib. Saya menemani anak saya di kids corner yang ternayata masyaAllah banyak sekali kegiatan disana, pantas saja selama ini anak dan suami saya anteng di kids corner kalau saya lagi ada seminar. Kayaknya setelah ini saya nggak perlu deg-deg an dan khawatir berlebihan klo mereka di kids corner hehe

Kalau selama ini kami belajar bagaimana cara mengasuh anak bagaimana cara memahami anak, kali ini kami memilih untuk belajar

Bagaimana mengasuh dan merawat pernikahan kami serta memahami satu sama lain

Dan benarlah ketika murid siap, guru datang. Ustadz Bendri Jaisyurrahman kebetulan ada agenda kajian yg diadakan Fatma Warta. 

Mengapa kami merasa perlu belajar tentang Harmonisasi Pasutri ini? Apa ada masalah? Sebenernya kita kalau belajar jangan nunggu ada masalah dulu ya. Cukup pemadam kebakaran saja yang bertindak jika sudah ada masalah karena memang itu tugas mereka. Tapi kalau untuk keluarga harus dipersiapkan terus menerus. 

Ustadz Bendri menjelaskan, perceraian terjadi kadang kala bukan karena pelakor atau orang ketiga namun adanya dosa yang diteruskan. Itulah mengapa kita harus senantiasa belajar mengharmonisasikan jalan kita dengan pasangan. Agar jika ada dosa-dosa yang kita lakukan atau pasangan kita lakukan segera diperbaiki bersama-sama. 

Nikah adalah ibadah, senang disyukuri, susah disabari. Karena menikah itu mencari teman ke surga. 

Nah gimana caranya mengingatkan? 

Ustadz Bendri menyampaikan, caranya sebutkan kebaikan-kabaikan pasangan maka dengan sendirinya pasangan akan mengoreksi diri sendiri, apa ya yang kurang dari saya. Sebaliknya jika kita mengkritik terus pasangan akan merasa terganggu. 

Disampaikan juga bahwa pernikahan itu seharusnya tidak hanya halal namun juga thoyib. Ketika hal yang halal namun tidak baik maka akan menimbulkan kesedihan. 

Dan bagi laki-laki sepuluh kata itu terlalu banyak sedangkan seorang wanita butuh banyam kata untuk mengekspresikan dirinya. Itulah perbedaan laki-laki dan wanita. Hal sepele yang kadang membuat permasalahan. 

Sudut pandang wanita itu 180 derajat sehingga seorang wanita bisa melihat satu hal dengan pandangan yang luas. Sedangkan sudut pandang laki-laki itu lurus tapi jauh ke depan. 

Di Al Quran disebutkan istri ibarat ladang maka bercocok tanamlah disana. Nah untuk menghasilkan hasil yang baik maka tugas suami adalah merawat istri nya dengan baik agar bisa menghasilkan anak yang baik. Jika suami di ibarat kan gas oksigen di pesawat maka dia harua diberikan dulu kepada istri nya baru kepada anaknya. Jadi bapak-bapak sebelum menanyakan kabar anak, tanyakan dulu kabar ibunya hehehe

Perbedaan-perbedaan seperti bisa menjadi kendala namun juga bisa menjadi kekuatan sinergi satu sama lain. Ini yang perlu dilatih dipelajari terus menerus. 

By the way, seminar ini diadakan saat long weekend temen-temen dan ternyata liburan sambil datang k seminar apalagi temanya seperti ini itu seruuu banget. Romantis itu ketika kita belajar bareng saling memperbaiki diri bareng demi merawat pernikahan kita.

Oiya ada catatan penting juga, jika kita ingin memiliki kedekatan hati dengan pasangan (suami/istri) maka dekatilah sang pembolak balik hati. Yaitu Allah. 

Alhamdulilah di titik ini, kami tidak hanya berpikir lagi “bagaimana anakku” namun juga “bagaimana pernikahanku?”. 

Semoga semakin banyak kajian dengan tema seperti ini. Dan semakin banyak teman-teman yang ikut merawat pernikahannya dengan lebih baik. 

Polymath

Suatu hari, dirumah, aku jalan-jalan di timeline Facebook. Hehe jalan-jalan zaman now

Ada seorang sahabat yang mengeluhkan tentang mengapa beberapa ulama sekarang mengkhususkan diri pada satu bidang keilmuan padahal dahulu ulama itu dikenal sebagai orang yang menguasai berbagai macam ilmu. 

Anehnya aku merasa kurang setuju dengan yang dia nyatakan, karena nyatanya memang setiap orang harus memilih satu bidang ilmu yang ingin dia kuasai seperti kita memilih jurusan di kampus saat akan masuk perguruan tinggi. Tunggu dulu…jangan-jangan pola pikirku ini terbentuk karena apa yang aku lihat disekelilingku saja. Lingkungan yang berpandangan bahwa gelar dibelakang nama kita adalah satu-satunya cara untuk mengetahui keahlian apa yang dimiliki seseorang. 

Pemikiranku runtuh sampai aku dan keluarga bac komik Al Fatih karya kak Handri Satriya. Disitu digambarkan Muhammad Al Fatih belajar pada gurunya Syaikh Ahmad Al Qurani dimana beliau adalah seorang polymath. Polymath adalah sebutan bagi seseorang yang menguasai lebih dari satu bidang keilmuan. Syaikh Al Qurani menguasai ilmu biologi, kedokteran, astronomi, dan pengobatan herbal. Dari situ aku mulai tertarik mencari tahu tentang orang-orang yang menguasai lebih daru satu bidang keilmuan. 

Dan ternyata orangnya tidak jauh dari kerabat aku sendiri. Seorang guru, coach, dan penulis Canun dan Fufu. Di salah satu postingan Teh Fufu di instagramnya, teh Fufu bercerita bagaimana orang-orang meragukan khasanah keilmuannya tentang parenting karena gelar dibelakang nama. Iya orang-orang sepertiku yang meragukannya. Tapi karena Allah sudah mempertemukan aku dengan Kang Canun dan Teh Fufu sebagai coach-ku di Sakeena Family, aku tahu kemampuan mereka yang nggak sekedar tulisan diatas kertas. 

Dari situ aku sadar, ya memang seharusnya kita tidak membatasi diri untuk belajar ilmu apa dengan terpatok pada satu ilmu saja. Mungkin kita akan mempelajari hal yang masih linear dengan ilmu sebelumnya kita pelajari atau bahkan berbeda sama sekali. 

Pun tidak perlu menilai seseorang dari gelar yang melekat pada namanya saja. Dan tidak ada yang perlu dibanggakan berlebihan dari gelar panjang dibelakang nama kita. 

Menjadi seseorang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar itu lebih baik. 

Pada komunitas Community Based Education aku melihat teman-teman yang mau bersusah payah menggerakkan keluarganya untuk mengajak anak-anak tetangga gemar membaca. Ada yang mengajak anak-anak tetangga mengenal permainan tradisional. Ada yang mengajak Ayah Bundanya membuat mainan sendiri. Dan aku yakin para tetangga itu tidak ada satupun yang menanyakan gelar dibelakang nama mereka. Yang mereka tahu mendidik anak-anak tidak bisa sendiri dan uluran tangan teman-teman CBE seperti pertolongan saat mereka terhanyut arus zaman yang deras yang membawanya jauh dari Allah. 

Mempelajari satu bidang yang digemari atau diperlukan pada saat itu bukanlah hal yang salah. Hanya saja menjadi kurang tepat jika yang tumbuh adalah limiting belief. 

Limiting belief adalah Keyakinan-keyakinan baik mengenai diri kita sendiri maupun diluar diri kita yang menghalangi kita untuk merespons secara luas (Okina dalam Enlightening Parenting)

Membatasi diri kita bahwa kita tidak mampu mempelajari hal yang baru. Membatasi diri kita dengan mengatakan pada diri sendiri, inilah batas kemampuan saya. Membatasi diri dengan mengatakan, saya gaptek, saya sudah lelah bekarja tidak ada waktu untuk mengikuti kajian Islam, dst. 

Limitting belief sangat merugikan kawan membuat kita terjebak pada reaksi yang itu-itu saja dan membuat kita takut melakukan hal baru. 

Rasa takut itu tidak membuat kita maju. Keberanianlah yang membuat kita menemukan hal-hal baru. Belajar dari keselahan dan memperbaiki diri terus menerus.

Aku pernah mengalaminya, limitting belief itu berupa takut jualan, tidak bisa jualan, menganggap remeh orang yang jualan dan enggan belajar marketing. Dan di Sakeena Family bersama Kang Canun dan Teh Fufu lah aku bisa menyingkirkan limitting belief itu. Dan dalam perkembangannya limitting belief yang merugikan yang tumbuh dalam keluarga alhamdulilah aku bisa menggugurkannya. 

Satu hal yang dari dulu aku pegang adalah, Allah mengangjat derajat orang- orang berilmu. Aku percaya nggak ada ilmu yang sia-sia, jangan takut mempelajari hal yang baru.

Family Strategic Planning

Kala itu kami hadir saat sesi tanya jawab terakhir. Hari sudah siang kami sudah cukup lelah karena perjalanan dari Gresik lalu ke Sidoarjo mengunjungi keluarga saya dan sahabat saya yang sedang berbahagia menyambut perkembangan anak perkembangan anak pertamanya. 

Acara yang bertajuk Family Strategic Planning (FSP) ini diadakan oleh Intitut Ibu Profesional Surabaya Raya, yang mengerjakan acara ini dengan betul-betul profesional. Dan saya menyadari profesional disini bukan sekedar tagline belaka. Mungkin lain waktu saya akan ceritakan how profesional they are. 

Semua peserta duduk di meja-meja yang sudah disusun dalam bentuk kelompok. Di sesi sebelumnya semua peserta yang terdiri dari pasangan suami istri didampingi fasilitator diarahkan oleh Ibu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mardianto, selaku pembicara, menyusun FSP step by step. 

Berikut ini adalah cara menyusun FSP. Ringkasan ini disadur dari catatan Bunda Ika Nurmaya, peserta workshop FSP juga

________________________

Punyalah peta dulu untuk menentukan tujuan. Karenanya jika anggota keluarga melakukan kesalahan maka jangan salahkan mereka krn memang tidak punya peta. Peta ini u menyamakan persepsi. Letakkan hati anda pada keluarga anda, sehingga insting akan keluar dibantu Allah

  1. Tuliskan nama peta di tengah kertas posisi mendatar: nama keluarga

  2. Tulis tujuan di pojok kanan atas, tujuan itu baik jika bisa tahu kita sampe di tempat itu. Kita tahu saat mencapai tujuan itu.harus jelas u keluarga kita sendiri

  3. Tulis posisi kita di mana?, tulis titik awal di pojok kiri bawah. Titik awal Yaitu keadaan anggota keluarga kita saat ini.keluarga saya jml 4, anggota ayah ibu salman dan aydin. Tuliskan kekuatan masing2 anggota keluarga, tulis hobby, kapabilitas.

  4. Tuliskan kompas yaitu core value/ nilai keluarga, tentukan mana yg harus dilakukan dan tidak dilakukan. Kata sifat yg mbantu anda memutuskan prioritas dalam hidup. Contoh indonesia adl pancasila. Kalau core value keluarga saya adl iman dan kehormatan. Pas m Ara mau sekolah, apakah sekolah berlawanan iman? Tidak, apakah Allah berlawanan dg kehormatan? Tidak, maka bisa dilakukan, jadi core values adl salah satu cara u pengambilan keputusan. Tulis di pojok kiri atas, tulis dua atau tiga kata saja

  5. Tulis rambu2/ SOP/ aturan dasar/ golden rules tulis di pojok kiri atas yg berfungsi manakala terjadi badai dlm keluarga.contoh: ttetap berkomunikasi walau tjd badai, segala keputusan yg muncul saat marah, maka batal demi hukum, bila terjadi perselisihan kembali pada alquran dan hadis, maka jika msh ada perbedaan maka datang ke ahli yg sdh disepakati. Hasil dari ahli itulah keputusannya

  6. Tuliskan bekal yg hrs disiapkan di tengah bawah, misal biaya dll

  7. Tuliskan support sistem di luar keluarga kita ex: komunitas institut ibu prof, sahabat keluarga, kolega keluarga. Shingga ketika terjadi badai antara ayah dg anak lalu anak pergi, ia akan pergi ke komunitas itu, dll ditulis di kanan bawah

  8. Kapal tidak harus satu, boleh banyak kapal yg berlayar menuju satu tujuan, tiap anggota keluarga boleh mengambil jalannya sendiri, yg penting 1 tujuan

  9. Tuliskan nama keluarga pikirkan nama yg indah, nama itu akan menggambarkan apa, tulis peran hidup jika belum menemukan peran hidup tdk apa2, temukan dg banyak ngobrol, aktivitas dan bermain

  10. Tuliskan tema tahunan/ proyek, setiap proyek dimiliki setiap anggota keluarga, dan yg lain mjd support system, mjd follower jadi harus taat pada pimpro. Dalam proyek ini yg penting adl proses bukan hasil, anak2 yg penting berlatih dan belajar. Tema idenya bisa muncul dari manapun, berbahagia berbuat salah selama masih belajar, jadi berbuat salah maupun berbuat benar tetap dihargai sepanjang mendapat pelajaran

_________________________

Seluruh keluarga yang harga nampak sudah membuat rancangan peta keluarga. Aku hadir di ruangan sendirian setelah, sholat dhuhur dan mengantarkan anakku dan ayahnya di kids corner yang nyaman dengan tenaga profesional juga. 

Saat itu berdiri seorang Bapak sedang mengajukan pertanyaan, nampak bahwa Bapak ini sudah terjun langsung memikirkan akak dibawa kemana masa deoan keluarganya nanti. Tidak sekedar memikirkan pemenuhan nafkah namun peran apa yang akan mereka ambil kelak. Sangat sayang jika di dunia hanya memikirkan perut saya bukan? 

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Saya hadir karena Allah memberikan saya kemudahan untuk hadir. Dan saya manfaatkan bersama keluarga saya mendengar langsung gaasan Ibu Prodesional dari foundernya. 

Bukan karena saya nge fans, kata seorang guru idola bisa diartikan sebagai Tuhan Palsu dan itu salah dalam Islam. Dan manusia adalah tempatnya salah kelak kita bisa kecewa dengan idola kita. Namun merasakan semangatnya, ghirah untuk menjadi pembeda itulah yang saya cari. Saya yakin oanjng perjuangan Bu Septi dan Pak Dodik mensosialisasikan ide Ibu Profesional ini. Hingga saat ini kalimat sumbang pun masih terdengar. 

Pun bukan karena mendewakan gagasan yang ada didalam Ibu Profesional, karena ini adalah hasil pemikiran manusia tentulah tidak sempurna. Namun selama ini sesuai kaidah Al Quran dan sunnah, bagi keluarga kami sudah masuk syarat diterimanya sebuah gagasan sebagai inspirasi keluarga kami. 

Saya lanjutkan pengalaman worshop kemarem ya,,,

Meski sesi tanya jawab terakhir namun aoa yang dijelaskan pak Dodik dan Bu Septi sangat mendalam. Berikut resume tanya jawab yang sudah dihimpun oleh lagi-lagi Bunda Ika Nurmaya

_________________________

Bu Septi

Berikan proyek pada tahap pralatih sebelum 9 th, proyek hanya dlm hitungan hari, semua anggota keluarga ikut berpartisipasi.

Ex: proyek sarapan sehat selama seminggu, adik umur 2 th yg bagian membuang sampah, tidak apa2 berceceran.

Golden rules, cara efektif pak dodik kalau marah dari wajahnya sdh kelihatan, ia diam.

Lalu jika saya/ bu septi marah, saya biasa mengomel, maka biasanya pam dodik berikan air untuk saya kumur.

Untuk monitoring proyek, maka evaluasinya  setiap minggu adalah:

  1. Sdh melakukan apa?

  2. Sdh sukses apa?

  3. Minggu depan mau sukses apa?

Lalu kami melakukan false celebration setiap bulan merayakan kesalahan, harus ada yg mencatat setiap cerita/ bibi titi teliti u membantu mengingatkan ttg rencana2 yg sdh pernah dicanangkan.

Untuk buku yg jadi refferensi literasi keluarga bu septi dan pak dodik, biasanya pak dodik yg membaca buku, lalu bu septi diceritain oleh pak dodik.

Buku pertama adl Toto Chan, lalu berpikir dan berjiwa besar, lalu buku2 ttg pendidikan , pendidikan kaum tertindas, baik model, jenis.

Buku2 yg disukai pak Dodik adalah sosialis agama, biografi moh hatta, sutan syahrir, buku strategic planning for non profit organization, mendidik anak berbakat, buku ttg parenting nabawi 4 khalifah.

Kata umar jika anak berbuat salah tegur dan jangan tulis kesalahan itu. Jika ankmu berbuat benar, puji dan tulis kebaikaannya itu.

Parenting Abu Bakar lebih lembut dlm mendidik anak.

Tujuan umum adalah visi, sdgkan tema adalah jalan u mencapai tujuan tsb.

Contoh: saat elan usia 7 th, proyeknya adl berbagi kartu nama, tiap minggu ditanya sdh berbagi kartu nama berapa, sdh dapat brp

Menentukan tujuan antara anggota keluarga, pilih masing2 tujuan yg bisa dikerjakan bareng2.

Dengan berlatih bermain bareng, ngobrol bareng dan beraktivitas brg, maka akan semakin banyak tujuan kita

Untuk anak 8-12, adalah anak2 yg merasa benar sendiri, maka kita harus mjd pendengar yg baik, jadi sahabat yg baik. Mema g harus mereka spt itu, krn sdg muncul keakuannya.

Harus kita berhasil melatih diri sendiri untuk Bisa mjd sahabat anak.

Pak dodik

Ortu harus bermain peran, yaitu sbg ortu, teman dan adik ( kita yg butuh mereka).

Pada usia 11-14 anak sdh tidak suka dinasehati, maka kita hrs mjd temannya.

Jika ia sdh usia 14-21 maka kita sbg partner saja, ibu bisa bantu apa, ayah bisa bantu apa.

Jadi FSP ini mjd pendidikan pd anak2, shg kita ortu jadi tahu bgmn cara membantu anak2 kita u mencapai cita2 nya. FSP adl doa, krn pengalaman saya apa yg sdh ditulis di saat lalu ternyata dikabulkan/ terwujud. Maka kita akan sering bersyukur, krn tahapan yg kita tulis ternyata Allah wujudkan.

Keinginan kita u mewujudkan yg terbaik u pasangan dan anak2 kita, maka akan tertulis jelas, dan bisa dievaluasi di FSP.

Bu Septi

Yg single, buatlah personal strategic planning, yg punya komunitas buat community strategic planning

_________________________


Sepulang dari workshop FSP rasanya seperti HP yang baru di charge full. Saya langsung mencoba mendiskusikan dengan suami untuk menyusun FSP kami, mulai dari nama, tujuan, posisi kita saat ini. Ternyata suami saya sempat mengikuti materi meski dari luar ruangan sambil menggendong anak saya.

Gambaran peta hidup kami mulai nampak. Namun ternyata memang benar bukan hal yang mudah, bukan sehari atau dua hari kita menyusun FSP mungkin dalam hitungan tahun tergantung seberapa cepat kita mau belajar dan serius. Belom bisa sharing FSP kami karena kami masih menyusunnya. Semoga kelak bisa sharing lebih lanjut. 

Sebagai follow up dari workshop FSP, suami saya membuat WAG yang tentu isinya cuma kami berdua namun isinya adalah hanya untuk membicarakan perkembangan FSP kami, segala ide-ide. Suami saya membuat sebuah kartu kontrol untuk salah satu project family yang dia buat, semoga terus berjalan dan berkembang lebih baik.