Memilih Sekolah Untuk Anak

Hweee judulnya dah nggak usah dibuat heboh tapi topik ini selalu bikin heboh. Beneran gaaaeesss hehe. Liya amati dari jaman belum punya anak sampai punya anak, mulai dari keluarga ngeributin masalah ASI atau sufor sampai akhirnya ribut nanya kapan anakku masuk sekolah mau sekolah dimana diluaran sana emak-emak yang anaknya mau nambah umur selalu ribut “haduh aku bingung anakku sekolah dimana ya?”

Sampai akhirnya, jadilah artikel sampai jadi kuliah WhatsApp tersendiri tentang cari sekolah untuk anak. Dan bersliweran brosur digital tentang beberapa sekolah di berbagai daerah beserta dengan biayanya.

Nah berhubung anak saya masih belum ada tanda-tanda menuju sekolah ney gaes jadi waktu itu adem ayem aja. Tapi ternyata tahun ini MasyaAllah anakku masuk sekolah daaaaan ternyata tetep adem aja hehe alhamdulillah bini’matillah.

Kenapa kami bisa adem ayem nggak pakek heboh? Ibarat kita jalan ney gaes, kok jadi ala youtubers gini hehe, klo kita udah tau mau kemana kita udah nggak bingung apalagi heboh ditengah jalan ya kan. Betul apa betul?

So menurut hasil pengamatan, belajar, dan pengalaman keluarga kami, Sebelum memilih sekolah untuk abang, ada Step by Step berikut yang perlu dilakukan

1. Pahami Visi dan Misi keluarga kita

Sudah pernah buat phylosophy statement belum?

Teman-teman bisa baca tulisan saya tentang phylosophy statement ini dulu supaya membantu teman-teman memahaminya.

Dari phylosophy statement ini kita bisa membangun Visi dan misi keluarga. Namanya membangun bukan berarti satu hari jadi apalagi sekali bikin ya gaes. Karena Visi dan Misi keluarga Ini berkaitan dengan keunikan keluarga kita, yang bisa kita temukan melalui pengamatan. Pengamatan ini bisa dilihat dari portofolio kita. Baca juga artikel saya sebelumnya tentang menyusun portofolio anak. Untuk menemukan keunikan diri ini emang nggak butuh waktu sebentar tapi dinikmati aja gaes, karena kita akan menemukan keajaiban ya Allah berikan ke kita. Keajaiban apa? Dibahas di poin ke 4.

2. Pahami Kebutuhan Anak Kita

Setelah teman-teman amati dan catat perkembangan anak kita di dalam portofolio anak kita jadi tahu anak kita butuh apa yang berkaitan dengan sekolah. Yang berkaitan dengan sekolah tentu kegiatan belajar ya.

Yang perlu dicatat kembali adalah, belajar ini bisa apa saja dan dimana saja, jadi solusi kebutuhan belajar anak kita sebenernya tidak selalu berbentuk sekolah formal, bisa kursus ke lembaga yang profesional, bisa privat atau tetap belajar di rumah bersama Ayah Bunda sehingga hanya butuh tambahan bahan belajar saja dirumah.

3. Buat investasi jangka pendek yang dipersiapkan untuk pendidikan anak untuk 20 tahun yang akan datang.

Ada banyak investasi jangka pendek yang bisa dilakukan. Nah kami memutuskan menggunakan tabungan perencanaan yaitu tabungan yang hanya bisa diambil sebanyak tiga kali yaitu saat anak akan masuk sekolah. Nah meskipun sebenarnya klo dari pandangan orang keuangan ini bukan investasi lebih cocok disebut hedging atau lindung uang saja ya karena menghasilkan nilai lebih yang sangat kecil. Tapi kami memilihnya karena mudah cara mencairkannya dan minim resiko.

Cukup aja yang ngomongin investasinya, khawatir jadi menyimpang dari tema hehe lain kali kita bahan lebih dalam gimana?

4. Ikhlas dan tawakal atas ketetapan Allah

Yaiyalah Liya, pasti ikhlas, pasti tawakal, ngapain dicantumkan segala.

Weits jangan salah, orang suka tiba-tiba mutung emosi tengah jalan karena ternyata yang dilalui tidak sesuai dnegna rencana dan merasa hidupnya sudah berakhir, wedeuu lebay bener kan hehe ya meksi tidak semua setidaknya dulu saya pernah melakukan kesalahan ini jaid sekarang poin No 4 jangan msapai lupa lagi.

Kalau pun ternyata yang kita pikir keunikan keluarga kita adalah sebagai keluarga petani tiba-tiba ada salah satu anak kita gemar berternak ya apa salahnya. Kotoran ternak bisa jadi pupuk untuk tanaman kita kan.

Sebenernya survei sekolah selalu kmai lakukan saat menempati tempat tinggal baru dan sebelum ini selalu berakhir dengan tidak seusai dengan hati. Tapi kami selalu percaya saat semuanya belum pas, dan akhirnya anak kami kembali belajar dirumah bersama Ibunya artinya Allah menghendaki anak kami untuk belajar dulu dirumah adalah pilihan yang tepat. Begitu juga ketika akhirnya anak kami sekolah kelompok bermain, Allah mudahkan jalannya mulai mendaftar sampai mengikuti kegiatan didalamnya artinya Allah berkehendak Bunda Guru di sekolah ini menjadi teman dan pendamping kami untuk mendidik Azzam.

Nah cuma empat Step kaaan, nggak banyak kan jaid nggak usah heboh bin pusing bin bingung. Setelah kita selesai tiga Step ini artinya kita sudah ngantongin peta lengkap kehidupan kita.

Lalu sekolah seperti apa yang kita cari untuk anak kita? Berikut ini adalah kriteria sekolah yang pas untuk anak kita

1. Sekolah yang Visi Misi nya sama dengan keluarga kita dan dapat memenuhi kebutuhan belajar anak kita.

2. Pastikan kita orang tua yakin dapat memenuhi pembayaran biaya pendidikan.

Weits jangan di skip dulu. Ini bukan cuma tentang seberapa banyak duit yang kita punya buat nyekolahin anak kita tapi tentang tentang keyakinan diri kita kepada janji Allah yang akan mencukupi kebutuhan umat-Nya. Jadi berat banget gini ya hehe tapi beneran gaes ini penting untuk selalu ingat Allah dan tidak menuhankan rencana-rencana yang kita buat. Okay

3. Pastikan kita memiliki solusi yang tepat dan aman untuk akses menuju lokasi sekolah.

Emang betul sih, biar jauh tapi kalau sekolahnya bagus nggak papa. Tapi perlu diingat lagi ini sebenernya mencarikan sekolah untuk anak balita ya gaes hehe dimana mereka kadang udah capek duluan klo perjalanan jauh, belum klo yang nganter ikutan rewel kayak yang dianter. Jaraknya lima sampai sepuluh menit dari rumah masih okay lah untuk sekolah anak balita ya kan. Supaya nggak terlalu capek dijalan sama-sama enjoy belajar nya, kan raise your child raise yourself.

Daaaan kita siap belajar bersama anak-anak kita di tempat belajar baru selain di Rumah kita sendiri, yaitu belajar di Sekolah.

Semoga bermanfaat ya gaeeesss

Balikpapan, 19 Desember 2018

Dewi Aprilia Kurniawati

Advertisements

Aku Menulis Karena Aku Ingin Hidup Selamanya

Terakhir tulisan di blog ini di posting bulan Mei 2018 setelah itu penulisnya hibernasi hehe. Itu pun tulisan terakhir yang dibuat dengan gaya bahasa penuh kegalauan, nggak tau itu mau curhat atau mau bikin karya sastra, bingung jadinya galau.

Setelah dibiarkan blog ini tanpa tulisan apapun yang di posting karena khawatir yang ada malah nyampah aja dimari penulisnya ternyata masih ada pembacanya MasyaAllah

Sebagian besar adalah pembaca artikel tentang Fitrah Based Education dan Menghafal dengan Metode Tabarak. Alhamdulillah bersyukur sekali tulisan yang sering dibaca adalah tulisan yang full ilmu yang saya catat kembali dari Pemateri yang juga merupakan sumber pertama dari ilmu tersebut. Alhamdulillah yang dibaca buka tulisan galau yang bikin orang yang baca tambah galau hehe

MasyaAllah, ini grafik bukan sembarang grafik. Ini grafik yang membuat saya semangat lagi menuliskan catatan belajar keluarga kami. Karena lewat tulisan menjadikan pemikiran itu tetap hidup seolah penulisnya hidup selama.

Tapi juga perlu disadari bahwa tulisan kita akan berdampak pada orang lain. Ketika menuliskan hal yang buruk maka orang yang membacanya bisa jadi mengikutinya. Maka menulis harus penuh dengan tanggung jawab.

Saya tetap pada idealisme saya menulis, menulis yang serius tapi santai kayak di pantai , menulis dengan ilmu biar nggak tersesat kayak butiran debu, dan menulis pakai hati, karena yang dari hati akan sampai ke hati. Asyik hehe

Setelah dicuci otak selama setengah tahun belakangan ini akhirnya mentas juga, inilah saatnya mengasah penaku lagi.

Semoga tulisan di blog ini semakin memberikan manfaat buat teman-teman.

Sebuah Metafora Kehidupan : Anakku

Pagi itu dengan bangga aku memasang status, “Alhamdulilah lulus no screentime 😍” 

Bagaimana aku tidak bangga, dua minggu aku lalui dengan memutar otak, mencari kegiatan yang menarik untuk si kecil agar dia tidak merengek minta berlama-lama di depan layar tv. 

Berbagai macam mainan aku sediakan, mainan yang aku buat sendiri untuknya. Berbagai macam pekerjaan rumah dengan cepat aku selesaikan, demi menemaninya bermain. Lelah tak lagi aku rasakan, hanya senyuman yang ku pajang leba-lebar, agar nyaman dia bermain bersamaku. 

Bagaimana aku tidak bangga menjalani kehidupan yang begitu heroik ini, dan kini akulah pemenangnya. 

Tapi sayang tropi kemenangan itu tidak lama berada di rumahku. 

Liburan sekolah tiba-tiba, anak-anak tetangga dengan asyik mengisi hari-harinya dengan berlama-lama di depan tv atau handphone milik orang tuanya. 

Anakku? Dengan tekun meneladani kawan-kawannya. 

Oh runtuh sudah kebanggaanku. Aku harus pasang status apa lagi kali ini? Betapa malunya aku rasanya…

Bagaimana bisa secepat ini anakku berubah haluan. 

Sore itu aku beristirahat di dalam kamar, satu-satunya ruangan yang rapi dirumahku pada sore itu. Berusaha menghilangkan penat. Merenungi adegan-adegan demi adegan kehidupanku yang rasanya…sia-sia.

Tuit tuit..

Sebuah pesan masuk k handphone ku, whatshapp pribadi maksudku. 

“Ukhti jangan lupa laporan tilawahnya hari ini ditunggu ya 😇”

Ah, dia tidak tahu aku sedang sedih, lelah, aku sedang ada masalah dia masih saja memintaku…ah astaghfirullah

Ku intip record pribadiku, kadang aku menyelesaikan target tilawah di awal waktu kadang diujung hari, kadang…

Bagaimana bisa aku menuntut seorang anak kecil dengan penuh istiqomah sedangkan aku sendiri…

Aku pun tertunduk malu

(Sebuah Metafora Kehidupan: Anakku, by liya dewi 2018)

Sebuah Metafora Kehidupan

Siang itu dadaku terasa panas, sepanas udara kota pahlawan kebanggaanku ini. Disusul degup jantung yang terasa lebih cepat, nafas mulai tersengal-sengal, disusul kepala yang mulai pening. Arrrrrghhhhh…

Klo digambarkan di komik-komik jepang, bola mataku sudah berubah jadi api yang membara lalu dsri kedua lubang hidungku keluar asap yang mengepul. Orang jawa bilang, kesetanen, sebutan untuk orang yang emosinya meluap-luap.

Jika tidak ingat ada anak yang meneladani tindak tanduk sudah meluncur 1001 kata pamungkas ala kota pahlawan. Jika tidak ingat kalimat thoyyibah sudah kusebut semua jenis hewan di kebun binatang. Dan akhirnya kepalaku makin sakiit, pening, menahan emosi dalam diriku sendiri. Arrrrghhhh, sambil menahan sakit kepala air mata bercucuran.

Tahukah kalian bahwa saptitank, tempat buang terakhir kotaran kamar mandi kalian memiliki lubang udara? Mengapa lubang udara itu dibuat? Ya, karena kotoran ini menghasilkan gas yang jika dalam waktu lama berada dalam ruangan tertutup akan menghasilkan ledakan. Sama seperti emosimu.

Bercerita tentang kehidupan keluarga kita merupakan membuka aib keluarga kita. Tapi apa jadinya jika luka ini di pendam, dan emosi ini terus menerus berada dalam tubuh kita tanpa tersalurkan? Tidak ada yang diajak diskusi, tidak boleh pasang status, tidak cerita dengan orang lain. Apa yang akan terjadi?

Bererita aib keluarga kita kepada orang lain belum tentu mendapatkan tanggapan yang kita harapkan, tapi bermu ajat pada-Nya dalam keadaan emosi meluap-meluap apakah mungkin?

Wah ini pasti gangguan syaithon, pikirku.

Bulan demi bulan pun berlalu.

Hari yang mengerikan itu berakhir dengan aku tidur karena kelelahan.

Tak terasa kini sudah sampai bulan Ramadhan. Dimana syaithan dibelenggu oleh Allah.

Seharusnya di bulan ini aku menjadi orang yang waras sepenuhnya. Karena tak ada satupun syaithan yang menggangguku.

Sampai pada malam itu tiba

Aku bahkan tak bisa mengingatnya persoalan awal tapi yang aku ingat, dadaku mulai panas, lagi, jatungku mulai berdegup kencang, lagi, nafas mulai tersengal-sengal, lagi, persis seperti siang itu.

Tunggu, ini Bulan Ramadhan, maka aku tidak bisa lagi meng kambing hitamkan syaithan atas kelakuanku. Ini adalah aku. Dan ah betapa memalukannya diriku. Ini adalah Ramadhan bulan dimana aku bisa melihat siapa diriku sebenarnya, bulan dimana aku tidak bis menyalahkan siapapun kecuali diriki sendiri atas segala maksiat yang aku lakukan. Ah maluuunya aku.

Aku pun tertunduk malu, tapi disisi diriku ada rasa tak berpuas diri jika tidak menyalurkan emosi dan menyikiti hati orang lain, sebagai balasannya hati ini yang merasa disakiti.

Nah siapa dia? Siapa yang memberikan bisikan jelek itu?

Sekali lagi aku tetunduk malu, itu diriku sendiri yang memberikan bisikan jelek. Karena dibulan ini aku tak bisa menyalahkan siapapun kecuali mengakui ya ini aku, yang hina.

Ini masih Ramadhan, aku masih bernafas, jantu gku masih berdetak, nampaknya Allah masih memberi aku kesempatan untuk mencuci bersih hatiku. Mengurung rapat-rapat diriku yang penuh kebencian itu.

Entah bagaiamana caranya

(Sebuah metafora kehidupan, by liya dewi 2018)

Menjadi Ibu yang Luar Biasa?

Alih-alih menjadi ibu yang luar biasa teryata dia hanya mengejar obsesi eksistensi diri dan menjadikan keluarganya budak dalam roda kehidupannya yang penuh ambisi

Seakan lemah lelah tapi ternyata dia hanya seorang pemalas dan pemarah yang sungguh tidak tahu malu

Dia adalah generasi penonton Cinderella, seorang gadis yang hidup sederhana seketika berubah menjadi serba ada. Ah dia salah mengambil pesan dalam sebuah kisah

Bersembunyi dibalik topeng pengorbanan tapi ternyata dia hanya menyajikan pencitraan-pencitraan di dunia maya

Kehidupannya sekarang hanya berada pada sebuah kotak elektronik bernama handphone 

Hah pantas saja dia merasa tersulut api ketika ditegur terlalu banyak bercengkrama dengan benda kotak itu, dirinya sudah terjebak dalam gelimang apresiasi yang berbalut pencintraan

Dia salah memahami arti dari sebuah keberdayaan seorang ibu. Bukan dia yang eksis di dunia maya tapi remuk di dunia nyata

Karena sejatinya kita ini manusia bukan kode-kode dalam kotak elektronik

Merasa lelah? Paksakan sedikit kalaupun habis sudah dayamu, semoga kau mati dalam keadaan sebaik-baiknya mati. Karena sudah mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga. Bukan setumpuk keluh kesah sampah

Kau, ibu muda, tak terbiasa dengan kata-kata tajam mengiris daun telingamu? menyayat hatimu? Memeras air matamu? Maka jangan kau mengaku sebagai ibu yang hebat

Kau tak terima dengan semua yang disampaikan ini? Maka bangkit! Berubah! Bergerak!

Sungguh tidak ada gunanya kau bersembunyi dibalik ilmu-ilmu parenting sebagai alat untug menuntut kesalahan pola asuh orang tuamu. Untuk apa? Kita tak bisa merubah masa lalu? Kau tahu itu bukan, wahai ibu-ibu muda terdidik nan cerdas

Perubahan itu perlu keringat, keringat yang nyata bukan tulisan-tulisan saja di deretan media sosialmu

Sekarang tidurlah, percayalah esok kau adalah ibu muda baru yang sungguh-sungguh berbeda

Setiap ucapanmu adalah kebaikan. Lelahmu adalah tumpukan amal, karena tak satupun aktivitasmu yang terlepas dari dzikir. Ah indahnya

Percayalah😊

(Prosa: Menjadi Ibu yang Luar Biasa?, by Liya Dewi 2018)

Death Cure

Gimana ya klo Ibu-ibu bikin review film? 

Silahkan simak tulisan ini, kamu akan dapat jawabannya.

Death Cure adalah sekuel terakhir dari film Maze Runner. Film dengan tema zombi adalah film yang nggak banget buat aku. Aku sama sekali nggak pernah mau nonton tapi entag kenapa sekuel Maze Runner ini terasa beda. Sebagai Ibu aku merasa menemukan insight learning yang luar byasa.

Thomas tokoh utama film ini yang berusaha menyelamatkan teman-temannya dari tembok besar WKCD pada akhirnya kembali lagi kesana untuk menyelamatkan Minho temannya yang dijadikan alat percobaan pembuatan obat dsri Virus yang mematikan. 

Aku langsung terbayang gimana perjalananku belajar ilmu parenting, mulai dari awal dulu tahu apa itu innerchild, yang membuat aku marah pada masa kecilku, merasa salah asuhan, tapi saat aku lemah pada akhirnya akupun meminta petuah orang tuaku. Seberapun kita lari akhirnya kita pun akan kembali pulang. 

Setelah pelarian yang jauh, korban berjatuhan, dan sahabatnya Newt pun meninggal karena virus yang bisa membuat orang menjadi zombi itu. Akhirnya dapat ditemukan Oleh Teresa obat dari penyakit itu ada di dalam darah Thomas itu sendiri. 

Setelah merasa ada yang salah dengan pola pengasuhanku di masa kecil, aku mencari tahu ilmu parenting lebih jauh lagi. Selama 4 tahun ini yang aku pelajari ilmu psikologi, parenting nabawiyah, fitrag based eduation, neuro linguistik program, neuroparenting. Pada akhirnya aku menyadari semua ilmu itu adalah jalan untuk menemukan parenting yang terbaik yang ada dalam diriku sendiri. Karena setiap Ibu sudah terinstall kemampuan mengasuh anaknya. Dan ilmu ini tidak akan tertukar.

Peperangan di kota terus berlanjut. Perang merebutkan kekuasaan antara kubu penguasa kota dan pemberontak. Hingga akhirnya seluruh kota hancur.

Benarlah ketika sudah hawa nafsu yang berbicara, bukan hati nurani maka yang ada hanyalah kehancuran dan tak ada sisa tak ada yang menang ataupun kalah, hanyak kita yang sama sakit, sama hancur. Seperti juga membina keluarga ini. Karena membina keluarga bukan tentang menang atau kalah tapi saling mengerti. 

Thomas berusaha menyelamatkam dunia dengan menyelamatkan teman-temannya dsri WKCD tapi akhirnya dia kembali juga ke WKCD. Teresa berusaha menyelamatkan dunia dengan membuat obat dengan bahan percobaan teman-temannya, sehingga mereka tersiksa secara psikologis dan fisik. Namun pada akhirnya yang mengikuti hati nurani lah yang bertahan menuju kehidupan yang lebih. Sorry klo ini spoiler banget ya. Menurut sudut pandang aku Thomas bisa berhasil sampai ke titik terkahir karena mengikuti hati nurani, memanusiakan manusia. 

Fitrah, ita ketika kita menjaga fitrah kita dengan baik. Maka hati ini akan menuntun kita kejalan yang baik bukan hanya untuk kita tapi untuk orang-orang disekitar kita. 

Tapi jika dipikir lagi mana jalan yang benar apakah jalan yang diambil Thomas atau Teresa? Keduanya tidak ada yang salah atau benar, keduanya adalah jalan yang harus dijalani. Seperti pada tulisan surat Newt untuk Thomas. Katanya meski jalan ini panjang menyakitkan, tapi dia pun tidak akan berharap dihidupkan kembali dalam keadaan yang lebih baik, dia memilih untuk tetap menjalani kehidupan yang sama. Karrna perjalanan ini tang membuat hidupnya berarti.

Pada akhirnya ilmu parenting mana yang salah dan yang benar untuk diterapkan di keluarga kita? Kita tidak pernah tahu, yang bisa kita lakukan adalah menjalaninya dengan sebaik mungkin. Ikhlas menerima masa lalu dimana didalamnya ada kebahagiaan dan juga kesedihan. Karena keduanya yang membentuk diri kita pada hari ini.

Death Cure. Hidup ini seperti pencarian obat yang paling pas untuk kita. Kita cari dengan berlari dalam labirin, meghindari sosok yang berusaha menyakiti kita. Yang kita cari kesana kemari akhirnya kita temukan dalam diri kita. 

Yang kita minum obatnya tiap hari tapi kadang kita sakit juga. 

Lalu putus asa?

Jangan

Karena Allah tidak menyuruh kita menjadi seorang Pemenang, tapi menjadi seseorang muslim yang kelak sampai akhir hayat tetap berada di jalan-Nya.

Itu saja. 

Harmonisasi Pasutri

Menikah itu adalah ibadah

Jika bahagia maka disyukuri

Jika penuh tantangan hadapi bersama dengan kesabaran

Ini adalah kalimat yang kami ingat pada seminar Harmonisasi Pasutri bersama Ustadz Bendri Jaisyurrahman. Tiba-tiba jadi inget Buku Duo Sabar Syukur hehe emang bab ini ada disepanjang kita hidup dah 

Kali ini suami saya yang mengikuti seminar full dari jam 08.00 – 15.00 wib. Saya menemani anak saya di kids corner yang ternayata masyaAllah banyak sekali kegiatan disana, pantas saja selama ini anak dan suami saya anteng di kids corner kalau saya lagi ada seminar. Kayaknya setelah ini saya nggak perlu deg-deg an dan khawatir berlebihan klo mereka di kids corner hehe

Kalau selama ini kami belajar bagaimana cara mengasuh anak bagaimana cara memahami anak, kali ini kami memilih untuk belajar

Bagaimana mengasuh dan merawat pernikahan kami serta memahami satu sama lain

Dan benarlah ketika murid siap, guru datang. Ustadz Bendri Jaisyurrahman kebetulan ada agenda kajian yg diadakan Fatma Warta. 

Mengapa kami merasa perlu belajar tentang Harmonisasi Pasutri ini? Apa ada masalah? Sebenernya kita kalau belajar jangan nunggu ada masalah dulu ya. Cukup pemadam kebakaran saja yang bertindak jika sudah ada masalah karena memang itu tugas mereka. Tapi kalau untuk keluarga harus dipersiapkan terus menerus. 

Ustadz Bendri menjelaskan, perceraian terjadi kadang kala bukan karena pelakor atau orang ketiga namun adanya dosa yang diteruskan. Itulah mengapa kita harus senantiasa belajar mengharmonisasikan jalan kita dengan pasangan. Agar jika ada dosa-dosa yang kita lakukan atau pasangan kita lakukan segera diperbaiki bersama-sama. 

Nikah adalah ibadah, senang disyukuri, susah disabari. Karena menikah itu mencari teman ke surga. 

Nah gimana caranya mengingatkan? 

Ustadz Bendri menyampaikan, caranya sebutkan kebaikan-kabaikan pasangan maka dengan sendirinya pasangan akan mengoreksi diri sendiri, apa ya yang kurang dari saya. Sebaliknya jika kita mengkritik terus pasangan akan merasa terganggu. 

Disampaikan juga bahwa pernikahan itu seharusnya tidak hanya halal namun juga thoyib. Ketika hal yang halal namun tidak baik maka akan menimbulkan kesedihan. 

Dan bagi laki-laki sepuluh kata itu terlalu banyak sedangkan seorang wanita butuh banyam kata untuk mengekspresikan dirinya. Itulah perbedaan laki-laki dan wanita. Hal sepele yang kadang membuat permasalahan. 

Sudut pandang wanita itu 180 derajat sehingga seorang wanita bisa melihat satu hal dengan pandangan yang luas. Sedangkan sudut pandang laki-laki itu lurus tapi jauh ke depan. 

Di Al Quran disebutkan istri ibarat ladang maka bercocok tanamlah disana. Nah untuk menghasilkan hasil yang baik maka tugas suami adalah merawat istri nya dengan baik agar bisa menghasilkan anak yang baik. Jika suami di ibarat kan gas oksigen di pesawat maka dia harua diberikan dulu kepada istri nya baru kepada anaknya. Jadi bapak-bapak sebelum menanyakan kabar anak, tanyakan dulu kabar ibunya hehehe

Perbedaan-perbedaan seperti bisa menjadi kendala namun juga bisa menjadi kekuatan sinergi satu sama lain. Ini yang perlu dilatih dipelajari terus menerus. 

By the way, seminar ini diadakan saat long weekend temen-temen dan ternyata liburan sambil datang k seminar apalagi temanya seperti ini itu seruuu banget. Romantis itu ketika kita belajar bareng saling memperbaiki diri bareng demi merawat pernikahan kita.

Oiya ada catatan penting juga, jika kita ingin memiliki kedekatan hati dengan pasangan (suami/istri) maka dekatilah sang pembolak balik hati. Yaitu Allah. 

Alhamdulilah di titik ini, kami tidak hanya berpikir lagi “bagaimana anakku” namun juga “bagaimana pernikahanku?”. 

Semoga semakin banyak kajian dengan tema seperti ini. Dan semakin banyak teman-teman yang ikut merawat pernikahannya dengan lebih baik.