Anak Milik Zamannya

Dulu perusahaan ini fokus di telepon rumah sekarang sudah jauh berbeda
Klo sekarang kita pengen punya mobil jangan menitipkan cita-cita yg sama kepada anak kita, sapa tahu ntar mobil udah nggak ada. Adanya Pintu Kemana Saja

Perluas pandangan kita bahwa tujuan akhir kita bukan disini tapi akhirat kelak. Maka cita-cita itulah yang kita sambungkan ke anak-anak kita. Perkara dunia? Anak itu milik zamannya bukan zaman kita .

Mengapa Harus Belajar jadi Ibu?

Sumber gambar : Google

Beberapa minggu terakhir ini saya mengikuti kelas tentang bagaimana menjadi ibu yang baik.

Apakah yang tidak mengikuti kelas ini berarti bukan ibu yang baik?

Tentu tidak, mungkin mereka sudah ada skill yang mumpuni untuk melakukan kegiatan seorang ibu yang bejibun. Tidak seperti saya yang masih semrawut, salah sana sini, perbaiki sana sini. Dan ternyata tidak hanya saya banyak sekali ibu-ibu muda yang seperti saya. Ini bukan hal membanggakan sebenarnya.


Klo diperhatikan, ibu-ibu yang mengikuti kelas online ini range usianya hampir sama, kelahiran tahun 80an-90an. Rata-rata mereka well educated, berpendidikan tinggi bahkan berkarir cemerlang, tapi yaaa mereka gagap dirumah, gagap menjalankan kewajiban yang seharusnya mereka jalani. Wegah menyusui, wegah mentatur, wegah menyediakan makanan bergizi dirumah, wegah menjadi manager rumah tangga mereka sendiri dan lebih nyaman dirumah orang tua agar supervisor rumah bisa sub kontrak kan pada orang tua mereka. Puluhan tahun mengurus kita dan sekarang harus mengurus rumah tangga kita juga. Ini tanda-tanda seorang wanita sudah jauh dari fitrahnya. Tentu penilaian ini tidak berlaku mutlak untuk semua (takutnya ada yang protes, nggak terima)


Pendidikan yang pernah saya ikuti dari TK sampai master tidak ada satu pun yang menyelipkan pendidikan mengelola rumah tangga. Saya masih ingat dulu Ibu saya pernah bercerita, dulu saat beliau sekolah pendidikan mengelola rumah tangga ini ada. Ditambah lagi dengan cara mendidik generasi kelahiran 80an-90an yang menitik beratkan pada pendidikan formal. Ada generasi dimana orang tuanya selalu berkata โ€œ yang penting kamu fokus sekolah sajaโ€.

Mungkin para orang tua dari generasi ini sudah mengajarkan bagaimana mengelola rumah tangga saat dirumah. Namun menjejalkan saja tidak cukup menjadikan generasi ini sadar mengapa mereka harus melakukan ini itu dirumah, kan sudah ada asisten rumah tangga. Ditambah lagi banyaknya les ini itu untuk menunjang pendidikan formal. Hampir tidak ada waktu untuk belajar mengelola rumah.


Apa ada yang salah dengan memfokuskan anak perempuan pada pendidikan formal? Apa mereka tidak boleh berpendidikan tinggi? Apa anak-anak perempuan hanya untuk mengurus rumah tangga saja?

Semua ini kesimpulan yang terburu-buru.


Semua orang di dunia ini diciptakan dengan peran peradaban mereka masing-masing. Apa peran peradaban perempuan?


Terbayang olehku bagaimana generasi nenek-nenek kita dulu begitu lincah menjadi manager rumah tangga, tidak semua mereka lakukan sendiri tapi mereka sendiri yang me-manage rumah tangga, segala keperluan rumah dan anak, dan tidak sedikit yang juga berperan diranah publik sebagai tenaga kesehatan, pengajar ataupun pedagang. Semua mereka lakukan tanpa belajar online dan segala informasi lewat internet. Intuisi yang kuat adalah andalan mereka.


Kenapa bisa? Bisa, karena fitrah perempuan memang lah diciptakan untuk menjadi manajer-manajer rumah tangga dengan talent multitasking. Ketika skill sebagai manajer rumah tangga ini diasah dengan baik dan bertemu dengan fitrah kita maka akan cemerlang hasilnya. Dengan terbiasa mengurus berbagai hal dirumah mereka cekatan juga saat harus diranah publik. Inilah yang disebut inside out, bukan menjejalkan atau outside in. Sebaliknya, fitrah pun bisa tertidur, pingsan, bahkan mati jika kita berjalan jauh dari amanah yang seharusnya kita jalani.


“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik” (Dodik Mardiyanto) 


Belum terlambat bagi ibu-ibu muda mengembalikan fitrah kita, tertatihlah dalam mengurus rumah kita sendiri agar terasah skill multitasking kita untuk menjadi manajer rumah tangga yang handal. Jadikan pendidikan pengelolaan rumah tangga sebagai kurikulum yang menyenangkan dan penuh value di rumah agar anak-anak kita tidak menjadi generasi yang jauh dari fitrahnya.  

Learning How to Learn

Sumber foto : Google

Sebuah ilmu baru bagi kami mengenai Learning How to Learn. Pada intinya ilmu ini mengajarkan kami untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan kami.

Ketika diminta membuat Design Pembelajaran bagi keluarga kami maka yang pertama saya lakukan adalah mengamati keluarga kami lalu membuka file portofolio anak kami. Dalam benak saya membuat kurikulum sesuai dengan kami seperti layaknya menyusun Personalized Curiculum yang merupakan hasil akhir dari penyusunan Portofolio Anak. Dan kesimpulan nya adalah kami belum memiliki cukup bahan untuk membuat Design Pembelajaran kami sendiri. Mengingat usia pernikahan kami yang alhamdullilah masih memasuki tahun ketiga.

Jika kami belum memiliki Design Pembelajaran khas keluarga kami bukan berarti tidak ada kurikulum yang berjalan pada keluarga kami selama ini. Sekitar akhir tahun 2016 kami berkesempatan belajar langsung dengan Ustadz Harry Santosa mengenai Fitrah Based Education, dimulai dari situ keluarga kami berproses bersama dengan Framework FBE. Saya rasa framework ini bisa digunakan siapa saja karena framework berisi tentang arahan, goal apa saja yang seharusnya kami capai yang sesuai dengan fitrah diri pada diri kita, sedangkan perkara teknis, yang bisa disebut sebagai Personalized Curiculum/ Kurikulum yang Gue Banget/ Design Pembelajaran (selanjutnya dalam tulisan ini saya sebut sebagai Design Pembelajaran) disesuaikan dengan keunikan keluarga masing-masing.

Berikut ini adalah framework Fitrah Based Education yang berjalan didalam keluarga kami. Sumber gambar FB Ustadz Harry Santosa.

Untuk menyusun Design Pembelajaran butuh waktu pengamatan yang panjang. Dalam pengamatan di kurun waktu yang panjang ini yang kami lakukan adalah Emisol.

EmISol, Empati-Imajinasi-Solusi..ulangi๐Ÿ†
(Menyerap-mengolah-menyajikan…mulai lagi dari menyerap).

EMPATI (menyerap) adalah kegiatan berkehendak (niat tulus) yang dilakukan dengan antusias dan rasa penasaran tinggi untuk mau menyerap semua masukan dari panca indera. Namun  seringnya kita beri kegiatan MENDENGAR.

IMAJINASI (mengolah), merupakan kegiatan berpikir dan membuka wawasan. Bukan berpikir dengan berkerut kening dan menopang dagu seperti yang digambarkan selama ini. Ini adalah kegiatan menghubung-hubungkan hasil serapan dengan keadaan sehari-hari.

Selanjutnya tentu kita akan penasaran untuk mencobanya, inilah tahapan SOLUSI (menyajikan). Tahapan yang didorong rasa penasaran untuk mencoba. Tahapan yang akan membuka pintu-pintu hikmah dan kebijaksanaan.
SOLUSI yang apapun hasilnya kita ulangi lagi masuk ke tahap EMPATI. Terus melingkar dan terus mekar๐ŸŒป.( Oleh Achmad Verzal, dalam EmISol).

Dari proses emisol ini yang kami susun portofolio anak kami dalam bentuk kumpulan foto, video, dan beberapa keterangan nya dalam bentuk slide powerpoint. Dalah satu portofolio anak kami

Sebagian besar masih dalam bentuk file foto dan video yang masih berserakan. Semua catatan aktivitas anak kami menjadi bahan penyusunan Design Pembelajaran keluarga kami. Karena anak adalah cerminan orang tuanya maka cara belajar kami kurang lebih seperti apa yang saya lihat dari anak kami. Sejauh ini yang kami pahami, kami adalah pembelajar tipe visual yang sangat senang belajar melalui pengalaman dan melihat secara langsung.

Proses pengamatan ini akan terus berlangsung hingga kami menemukan rumus unik bagi Design Pembelajaran kami. 

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Sumber foto : Google
โ€œRumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggotanya menuju peran peradabannyaโ€ (NHW#3, IIP)

Kalimat ini menyadarkan saya bahwa betapa besar tanggung jawab saya. Ternyata hidup ini bukan โ€œlet it flowโ€ tapi ada misi yang kita emban. Dimulai dari diri kita lalu melingkar mekar bersama keluarga kecil kita kemudian lingkungan disekitar kita.


Seperti yang sudah dijelaskam di postingan sebelumnya hal yang pertama pwrlu dilakukan adalah kita perlu mengenali diri sendiri. Kemudian kenali pasangan kita, anak-anak kita dan lingkungan kita. Pahami mengapa Allah menganugerahkan kita pasangan, anak dan lingkungan tempat kita tinggal sekarang. Dari situ kita bisa melihat apa misi Allah untuk kita.


Merenungkan setiap poin itu satu persatu dan saya menyadari beberapa hal, tentang…

Aku

Bagi saya untuk bisa menentukan misi peradaban dimulai dari mengenali keunikan diri sendiri. Tapi entah kenapa kali ini rasanya sulit, beda dengan beberapa tahun lalu di sesi wawancara open rekruitmen sebuah instansi. Dulu menggebu-gebu, kata Sheila On 7 โ€œkesombongan dimasa muda yang indahโ€ฆโ€.

Dengan bantuan tools st30 dari www.temubakat.com saya tahu beberapa bakat produktif dan kelemahan saya saat ini. Saya dibantu Bunda Rima Melanie, santri Abah Rama (Founder Temu Bakat), untuk membaca hasil analisa bakat produktif saya. Disitu sebutkan saya orang yang kreatif penuh banyak ide dan bisa mengorganisasikan hal-hal yang ada di sekeliling saya agar bisa merealisisai ide saya. Kedua saya senang menganalisa, teman saya juga pernah mengatakan saya suka mengamati. Ketika saya tidak memiliki waktu untuk mengamati sekitar saya merasa kehilangan peran. Kelemahan saya juga dua tidak konsisten dan susah memulai hal baru karena terlalu senang menganalisa.

Pasangan Hidup

Garwo niku siGARaning nyoWO. Suami itu separuh nyawa kita. Saya yang susah memulai hal yang baru diberikan Allah anugerah suami orang yang pandai memanage waktu, cepat memulai hal baru, rajin memotivasi saya untuk memulai ide-ide baru saya. Itulah kenapa.

Kesamaan kami adalah anak rumahan yang suka traveling. Bukan kegemaran kami berlama-lama nongkrong diluar bersama teman-teman, dirumah bersama keluarga lebih nyaman. Menjelajahi tempat-tempat baru adalah kegemaran kami. Dan hal ini menurun pada anak kami.

Permata hatiku

Anakku permata hatiku. Ada yang bilang dia nangisan, bagiku dia memiliki hati yang peka. Tidak mudah bagi dia berbaur dengan orang baru dia lebih nyaman bersama keluarga dekatnya. Mungkin itu yang disebut buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi dia bisa cepat beradaptasi dengan alam bebas di darat maupun air meskipun dia belom bisa berenang dia tidak pernah takut dengan air.

Memiliki lelaki yang tidak takut banyak hal membuat saya belajar untuk tidak banyak menunjukkan rasa takut saya pada beberapa hal trauma saya saat kecil seperti takut hewan, takut gelap dan takut ketinggian.

Bakat menganalisa atau mengamati orang sekitar dulu sebelum kenal dekat yang menurun pada anak saya membuat saya belajar bagaimana dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan agar bisa memberi tauladan bagi anak saya.

It Take A Vilage to Rise a Child

Ini yang saya liat dari lingkungan saya. Saya harus mengajak lingkungan saya untuk ikut mendidik anak saya.

Alhamdulillah Allah menganugerahkan saya lingkungan baru dengan jumlah penduduk yang masih sedikit dan usianya kebanyakan mayoritas kurang lebih sama dengan saya sehingga saya lebih percaya diri untuk beradaptasi. Belajar mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Harapannya kedepannya saya bisa mengajak mereka belajar bersama, anak-anak nya belajar dan bermain bersama. Setiap orang tua disini memiliki kesadaran yang sama bahwa it takes a vilage to raise a child.


Apakah Anda sudah memahami misi hidup Anda? 

Know, Love, and Raise Yourself

Di pagi yang sendu dimana matahari pun malu-malu untuk menampakkan dirinya, lelah pun menghampiri setelah semalaman begadang menemani permata hatiku yang sedang demam, sebuah tugas rumah pertama menghampiri dari kelas matrikulasi IIP. Barulah saya tahu kenapa disebut Nice Home work, karena bagi saya tidak hanya nice tapi menggairahkan, seperti semangat ditengah lelah, seperti cahaya di pagi yang syahdu.

Tugas ini simpel sebenernya diawali pertanyaan tentang satu ilmu apa yang ingin kita pelajari di universitas kehidupan ini. Entah kenapa bayanganku menuju pada materi belajar di kelas kecilku tentang mengenali diri sendiri. Banyak orang yang bingung akan mengambil peran apa di universitas kehidupan ini karena mereka tidak memahami diri mereka sendiri.

Maka langkah awal yang aku lakukan adalah mencoba menuliskan keinginan atau cita-cita apa saja yang ingin aku capai. Apa saja potensi yang ada dan tidak ada dalam diriku. Hasilnya menjadi sebuah design thinking dan ternyata dari sinilah aku baru memahami kebutuhan ilmu yang perlu ambil di universitas kehidupan ini. 


Ini design thinking yang aku buat sambil menimang anakku yang masih demam. Terdiri dari hobi, yang pertama aku tulis sesuai saran mbak Hepi Risenasari, fasilitator IIP. Lalu cita-cita, passion, ilmu yang dimiliki, weakness atau kelemahan yang dimiliki serta peran yang telah dijalani. Mirip analisa SWOT ya isinya.

Dari sini aku mendapat kesimpulan bahwa kita perlu memahami diri kita (Know Yourself) agar kita bisa menerima diri kita (Love Yourself) lalu berkembang menjadi lebih bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain (Raise Yourself).

Know Yourself

Memahami diri sendiri dengan mengetahui potensi yang kita miliki dan yang tidak kita miliki. Bakat produktif yang bisa dikembangkan. Serta peran yang ingin kita ambil.


Love Yourself

Menerima diri sendiri atas kekurangan yang kita miliki. Fokus pada potensi yang kita punya.


Raise Yourself

Mensinergikan potensi yang kita miliki dan bekerjasama dengan pihak lain untuk membantu kita di bidang yang tidak kita kuasai agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.


Kembali ke tugas yang aku buat. Setelah mengamati design thinking ini aku tidak bisa mengambil satu ilmu yang ingin aku pelajari karena semua sudah dalam proses aku pelajari tapi ada satu ilmu diluar itu semua yang amat penting bagi saya dan belum saya pelajari adalah Ilmu menjadi Ibu Profesional. Itulah kenapa saya ada disini, menimba ilmu yang tidak saya miliki. Ini bukanlah sebuah bualan tapi ini refleksi diriku. Mengingatkanku alasan kenapa aku harus belajar disini.

Ilmu tidak akan masuk kedalam diri seseorang yang penuh dengan kesombongan, ilmu pun tidak akan menyerap pada diri seseorang yang enggan membaca, bersabar menyimak bait-bait ilmu yang disampaikan para guru. Maka kukosongkan gelasku, aku sediakan waktu, pikiran, tenaga dan keluargaku untuk belajar bersama-sama menimba Ilmu Ibu Profesional dengan saya. Saya, Ibu, sebagai project leader dan keluarga , Suami dan anak, adalah suport team. Belajar, disaring dan langsung praktek setelah itu evaluasi. Serta mengikat ilmu tersebut dalam bentuk tulisan.

Pelajarilah adabnya sebelum mempelajari ilmunya. Begitulah ulama mengajarkan. Maka mempelajari adab menuntut ilmu akan memudahkan seseorang dalam menuntut ilmu.

Semoga Allah memudahkan kami menyerap setiap ilmu yang diberikan.

Tazkiyatun Nafs : Makna dan sarana

Resume Kulwap Belajar HE Minggu ke -2

Tema : Tazkiyatun Nafs
Nara sumber : Bunda Rita Riswayati

Rita Riswayati:

*TAZKIYATUN-NAFS*
Dasarnya: Q.S Al Baqoroh: 129,151
An Nazi’at: 18-19
Al Lail : 17-18
Asy-Syams:9-10

Liyadewi: Jadi inget Inner Child klo bahas Tazkiyatun Nafs mbak…

Rita Riswayati:

Dalam Q.S Al Baqoroh ayat 129,  “dan mensucikan mereka” , maksudnya tast pd Alloh dan memurnikan penghambaan kepadaNya.
-Tafsir Ibnu Katsir-

TN itu untuk orang yg sdh aqil baligh, sdh atau belum menikah, punya anak atau tidak.

Kalau saya baca dari kitab tafsir Ibnu Katsir, *membersihkan/mensucikan itu maknanya adalah tunduk dan ta’at*

Jadi *how*nya, apapun yg bisa membuat kita makin tunduk dan ta’at pada Alloh.
Efeknya hati menjadi bening, jernih jiwapun sehat baru bimbingan Alloh, Rosul, orang” sholih dan apapun serta siapapun ‘guru kehidupan’ akan membuat kita dapat mengambil hikmah. Kitapun tambah sholih. Orang sholih itu produktif dalam kebaikan.

Liyadewi: Tazkiyatun nafs klo Qur’an terjemah mensucikan jiwa

Rita Riswayati: TN itu yg termudah wirid. 
Yg tersulit Qiyamul Lail
Artinya mensucikan Jiwa
Maknanya tunduk dan ta’at

Liyadewi: Jadi ibarat kita bersihkan satu ruangan (hati) jadi mudah mendekorasi nya (ilmu, hikmah)
Suka bgt pkek analogi gni aq orgnya 
Analogi g nyalahin syariat kan mbak ๐Ÿ˜

Rita Riswayati: Start dan finish beban penghambaan adalah Tauhid yg membersihkan jiwa dari syirik dan berbagai akibatnya spt ‘ujub, dengki, sombong, kikir , *amarah*, dzolim, cinta dunia, dll.

Tuh ketemu, ternyata obat amarah dan kawan”nya itu cuma dg  ingat dan kembali ingat bahwa kita hamba Alloh yg satu, tak ada tandinganNya, total.

Kita bukan hamba dunia, hamba materi, hamba obsesi, hamba masa lalu, hamba syahwat

B Rita: Obatnya keliatannya simple, tapi usahanya berat ya,,, Semangat, kudu bisa!! 
Sabar,,, sabar,, #ngelusdada 
๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ

Liyadewi: Wah ini ngerubah pola pikirku Lo mbak , sempet terpikir inner child dan tazkiyatun nafs semacam sepaket yg hrus hadir diawal pengasuhan

Tapi ternyata g ya, klo TN jalan dgn baik kelar semua urusan ya

Rita Riswayati: Saya tahu  beratnya hidup seseorang ibu apalagi ditambah beban masa lalu.
Maka kita hrs cerdas, lepaskan beban itu dg cara paling mudah yg kita bisa, gratis pula. TN lagi, TN terus.

Betul mba
Gak perlu teknik yg kudu dicari-cari, kecuali bebannya traumatik banget.
Perlu bantuan.
Tapi pertolongan Alloh lah yang paling membantu. Yakin!
Kalau kita gak bisa lepas beban masa lalu, kita hakan temukan banyak hambatan untuk maju .
Padahal anah gak akan berkurang, nambah terus.
TN itu mensucikan diri plus melepaskan beban, kecuali penghambaan. Jadi apapun amanahNya, termasuk anak,jadikan itu aktualisasi diri dari penghambaan kita kepada Alloh. 
Udah, kelar masalah kita๐Ÿ˜€
Iman pada qodho & qodar

*Pada saat kita berdamai dengan masa lalu, artinya kita sedang mengimani Alloh dan takdir dariNya*

Selamat jalan innerchild, trauma dan apalah yg bikin gak move on

Liyadewi: Iman kepada Qodo dan qodar Ini pelajaran SD tapi ternyata baru paham skrg aq mbak ๐Ÿ˜…
Mgkn krna dlu cuma disuruh nyebutin aja tnpa paham esensinya

Rita Riswayati: Mulai sekarang, pelajaran agama hrs kontekstual.
Guru repot masalah konteks. waktu, tempat dan aktivitas terbatas. HE yg gak ada batas. Anytime, anywhere.

Liyadewi: Wah pas ney buat ngereview materi apa itu HE

Jdi klo diartikan bahwa HE itu kurikulum rumah, dimana grand design pendidikan anak dipegang orang tua, dan sekolah, komunitas atau bimbel sebagai suport sistem aja gitu bener nggak mbak?

Agni Kediri HE: tp realitanya zaman skrg banyak org tua yg memilih menitipkan anak2 di penitipan… (maaf bkn bermaksud memojokkan ibu2 yg bekerja๐Ÿ™๐Ÿผ) krn ada ibu2 yg tdk bekerja di luar rumah pun yg jg lebih suka menitipkan anaknya ketimbang mengasuh sendiri…

Rita Riswayati: Mungkin krn belum memahami dan menikmati aktualisasi diri dalam penghambaan pada Alloh, melalui anak sebagai amanah.

*Induk Sarana TN*:
> Sholat (Al -Ankabut: 25)
> Zakat, infak, shodaqoh ( Al Lail : 18)
> Shaum ( Al Baqoroh: 183)
> Tilawah Al Qur’an:  Al Anfal: 2)
> Dzikir ( Ar- Ra’d: 28 & Al-Fajr: 27-28)
> Tafakkur (Ali Imron: 190-193)
> Mengingat kematian (Al- A’raf: 185)
> Muhasabah harian (Al Hasyr: 18)
> Mujahadah /bersungguh-sungguh ( Al ‘Ankabut: 69)
> Amal Ma’ruf dan nahi munkar (Al Ma’idah: 78; Asy-Syams: 9; Ali Imran: 104)
> Melakukan pelayanan umum dan khusus dan tawadhu’ ( Al Hijr: 88)
> Taubat ( Al Furqon: 70)

*dinukil dari Intisari Kitab Ihya’Ulumuddin, syekh Imam Al Ghazali

Bahasa Kasih

โ€‹Resume Kulwap Minggu Ke-2

Belajar HE

Tema : Bahasa Kasih

Nara Sumber : Bunda Umi Sholihah

Untuk materi bahasa kasih bisa diunduh disini

materi bahasa kasih
Dan untuk mempraktekkan bahasa kasih bersama pasangan sambil minum teh hangat bisa klik link dibawah ini

kuis bahasa kasih
Umi Sholihah: Ada 5 Tipe Bahasa Kasih antara lain;

1.  Kata Pendukung

2. Waktu Berkualitas

3. Pelayanan

4. Menerima Hadiah

5. Sentuhan Fisik
_Bahasa kasih merupakan cara seseorang mengekspresikan & menerima rasa cinta ataupun perhatian dari dan kepada orang lain._
Setiap orang mempunyai kebutuhan emosional utk dihargai, diakui & diperhatikan. Dalam konteks bahasa kasih ini disebut tangki kasih.

Bila tangki kasih seseorang penuh, maka ia menjadi positif & siap memunculkan potensi terbaik dlm dirinya, sebaliknya bila ia kosong maka seringnya relasi antara pasangan mjd kurang harmonis
Liyadewi: Bunda kmren smpet diskusi kn kita g bisa merubah dri mnjdi yg seperti pasangan mau, klo konteks nya bhasa kasih pasangan.

Nah brarti ap c tujuan dri memahami bhasa kasih dan menyikapinya?
Umi Sholihah: Setiap orang punya bahasa kasih yang dominan, pasangan suami istri boleh jadi punya bahasa kasih dominan yg sama, tapi boleh jadi berbeda. Permasalahannya ketika seorang suami bahasa kasihnya *pelayanan* misalnya, dia cenderung mengungkapkan rasa kasihnya terhadap istri dgn cara melayani (contohnya membantu pekerjaan rumah tangga, membuatkan minum, memijit dll) & ia pun cenderung berharap istrinya melakukan hal yg sama pula terhadap dirinya, dgn begitu baru ia merasa dicintai.
Kadang mungkin suami sudah banyak melakukan banyak hal terhadap kita, seperti memberi hadiah, membantu pekerjaan kita, sering mencium kening, sering memuji, namun ia sangat sibuk sehingga tidak ada waktu utk sekedar ngobrol intens atau meluangkan waktu berdua saja, sehingga tetap saja kita merasa tdk mendapat kasih sayang dr suami. Tangki kasih tidak terpenuhi secara maksimal.
Liyadewi: Nah tu gmn bunda ๐Ÿค”
Umi Sholihah: Disinilah pentingnya memahami bahasa kasih diri sendiri  & pasangan, kita bisa secara efektif memenuhi kebutuhan emosionalnya.โœ…
Liyadewi: Klo msih dgn krkter sndri2, susah emg mrubh kebiasaan
Umi Sholihah: Bicara bahasa kasih adalah bicara tentang kesediaan untuk memberi..
Analoginya begini bund..

Misal saya orang indonesia, hanya mengerti bahasa indonesia.

Sedangkan suami orang inggris misalnya; hanya bisa mengerti  bahasa inggris.

Nah, supaya saya merasa benar2 dicintai, suami saya harus belajar mengatakan ‘aku cinta padamu’.

Demikian pula saya, harus belajar mengatakan ‘I love You’ kepada suami agar ia paham.
Klo masing2 kita keukeuh hanya bicara dalam bhs yg kita mengerti maka maksud tdk akan bisa ditangkap dgn baik. Biarpun sehari 100x saya katakan ‘aku cinta padamu’ suami tetep kalem.. ga ngerti soalnya..๐Ÿ˜…
Liyadewi: Wew berat juga ya ๐Ÿ˜…
Umi Sholihah: Nggak bund..

Let it flow aja..๐Ÿ˜Š

Pake hati โค

[10/3 14.00] Umi Sholihah: Kita nyantai aja ya, saya ditaro aja disini kira2 seminggu biar ada kesempatan yg lain mencerna gitu..๐Ÿ˜

Waktu online orang beda2..palagi emak2.. parebut hape ma anak2 ๐Ÿ˜…
Liyadewi: Ok lanjut Bun,

Klo untuk bahasa kasih anak ney gmn Bun?
Umi Sholihah: Untuk anak2 juga bisa diterapkan bahasa kasih ini..

Sama saja seperti orang dewasa, hanya saja bentuknya mgkn disesuaikan

1. Memberi Waktu berkualitas misal dgn menemani mereka jalan2, ngobrol berdua, membacakan dongeng sambil dipangku dll

2. Memberi Pelayanan diwujudkan misal diwujudkan dgn sesekali membuatkan makanan kesukaannya, membantunya mengerjakan PR dll

3. Memberi kata pendukung misal dgn memuji saat dia melakukan hal baik, memberi motivasi saat ia tdk percaya diri dll

4. Jika bahasa kasihnya menerima hadiah sdh jelas ya..

Berikan ia sesuatu sbg hadiah tidak perlu harus mahal. Hadiah jug bisa berwujud kehadiran di saat2 spesial dlm hidupnya; misalnya saat ia tampil di acara2 sekolah.

5. Memberi Sentuhan fisik  bisa berwujud mengelus kepala, memberi pelukan, memegang tangannya dll.
Liyadewi: Anakku sukanya peluk2 ini berarti Bahasa kasihnya sentuhan ya Bun?
Umi Sholihah: Bisa jadi bund..

Karena klo anak2 ga mgkn kita suruh isi kuesioner ya..๐Ÿ˜

Cara mudah utk mengetahui bahasa kasihnya ya dgn melihat gimana dia mengekspresikan sayang ke orang lain.

Seperti anaknya bund Liya tsb.
Umi Sholihah: Klo yg bhs kasihnya menerima hadiah ciri khasnya baik org dewasa maupun anak adalah tetap menganggap pemberian itu berharga walaupun hanya sehelai bulu; ia akan menjaganya baik2, dikasih tempat khusus utk hadiah2 yg dia terima, dan ia ingat diberi hadiah kapan, oleh siapa & dlm rangka apa..
Liyadewi: Dan buat yg bahasa kasihnya pelayanan, ini liatnya gmn ya Bun? Soalnya kan ank kecil sukanya minta tolong
Dan batasannya sama manja gmn?
Umi Sholihah: Ini yg harus kita jeli & mengontrol diri.

Pelayanan bkn berarti selalu kita bantu. Tapi lebih pada berupa pemberian melalui perbuatan. Melakukan satu hal yg sifatnya meringankan bkn mengambil alih.
Umi Sholihah: Misalnya pada kondisi biasa, anak bisa ngambil minum sendiri..

Suatu saat ia kelelahan baru pulang dari camping, boleh lah kita ambilin minum..๐Ÿ˜Š
Liyadewi: Artinya g harus selalu bahasa kasih ini kita lakukan ya Bun
Tapi penting untuk diperhatikan
Misal balik lagi k malah pasangan, klo bhasa kasih pasangan adalah mwmberi pelayanan g harus tiap hari juga kita lakukan, karna g kita bgt ney, tapi sesekali bisa kita lakukan
Betul gitu ato gmn Bun?
Umi Sholihah: Bahasa kasih ini dialeknya macem2..

Klo ke pasangan tinggal kita tanya aja;

” ayah paling suka pelayanan dlm bentuk apa?”

Misal dia jawab “dibikinin minum pas pulang kerja”, maka masukkan dlm ceklist untuk tdk lupa kita lakukan. Tujuannya supaya tangki kasihnya terjaga jangan sampai kosong. Nanti insyaAllah mood beliau lebih baik, lebih adem menerima ‘laporan’ harian kita ๐Ÿ˜…
Rita: ๐Ÿ™‹

Bunda nanya, 

Anakku itu, kalo lg nangis atw ngambek, perlu dipuji2 diajak bicara yg lembut bgt, berarrti bahasa kasihnya kata pendukung y? 

Nah,kalo pas sama aq dianya gampang diatasi, nah ada kalanya pas saya lg riweh masak atw ngapain dan harus suami yg mengamankan si baby, karena papanya emg tipikal yg cenderung cuek dan gk pandai berkata2 manis,pas si anak nangis, malah jdinya malah tambah seru nangisnya, gmn cara biar papanya mw ngerti juga ya, soalnya tiap aq jelasin kalo si anak ini pengennya diginiin, diginiin, papanya jawabnya selalu “hmm sama aja” 

๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“
 Umi Sholihah: Yg perlu diperhatikan, bahasa kasih ini dinamis, bisa berubah seiring waktu..

Jadi komunikasi itu penting antarpasangan.
Nah, ini papanya dipenuhi dulu tangki kasihnya, baru diajak ngobrol soal trik komunikasi ke si kecil ๐Ÿ˜Š

Percaya deh bund, klo tangki kasih penuh bliau lebih jinak ๐Ÿ˜…
Rita: PR nih,, perlu lbh ngerti bahasa si papa dlu,, ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…
Ini, bahasa kasih si papa dinamis nih,,, susah ditebak
Umi Sholihah: Kadang setelah kita ikut kajian parenting, kita berapi2 utk menyampaikan ke suami tanpa lihat pre-kondisi, jadinya mental deh…

Yg ada kita jadi bete๐Ÿ˜…
Rita: Kayaknya emg gini ini yg terjadi padaku bun,, ๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“
Umi Sholihah: Tapi perubahannya ga secepat kilat kok bund..

Biasa dipengaruhi oleh kondisi2 tertentu

Dulu sebelum paham bahasa kasih, saya heran; kok ada ya suami yg mau brbuat sedemikian rupa ke istri, bak ratu..

Kesini2 saya jadi paham, karena udah keambil hatinya; 

Jadi bahasa kasih itu sederhananya juga “ilmu mengambil hati” ๐Ÿ˜Š
Dalam bahasa Home Education bahasa kasih adalah bagian dari langkah *inside out* alias memunculkan sesuatu dr dlm diri bkn memaksakan kehendak.
Ririn Aisyah HE: ๐Ÿ™‹๐Ÿป

Mau tanya bun kalau kita mengajari dan mengontrol anak, tapi ada ibu atau nenek yang menyela dan akhirnya anak jadi manja bagaimana  cara mengkomunikasikan dengan ibu dengan cara yang halus, karena hampir semua tugas anak digantikan dan dibantu oleh nenek nya bahkan sebelum membantu
Umi Sholihah: Jadi alurnya begini bund..

1. Pahami bahwa nenek itu pasti sayang ke cucu & bliau juga manusia yg punya lebutuhan emosional seperti kita org muda

2. Pahami apa bahasa kasih beliau, artinya kita berempati lalu kita berusaha mengisi tangki kasihnya dgn cara itu

3. Bicarakan dgn tutur yg lemah lembut sebagaimana dicontohkan oleh rasulullah. Andaikan bliau menyangkal, kita bantah dgn cara yg baik.

4. Tetap bangun komunikasi yg intens dgn bliau & tetap selalu didoakan.
Pengalaman saya dgn ibu saya membuktikan; perbuatan baik yg tulus  thd orangtua itu bicara lebih lantang daripada kata2 lisan.
Motivasi yang bertahan lama bagi seseorang untuk melakukan sesuatu adalah motivasi dari dalam dirinya sendiri, bkn dari luar dirinya.

Ketika seseorang terbuka hatinya, tak ada satupun yg menghalanginya utk berbuat baik, tidak pun aral yg melintang.

Nah, bahasa kasih ini mendorong munculnya motivasi dr dalam diri seseorang. Ketika seseorang sdh tersentuh hatinya, ia sanggup mendengar, sanggup memahami, sanggup melakukan
Icha Gresik HE: Hm, kadang ingin ikut on pas diskusi tapi seringnya masih belum bisa. Semoga next bisa ikutan jadi bisa diskusi
Kalo saya, agak bermasalah dengan anak saya yang terlalu menurut, plek ketiplek ikut saya. Karena saya terbiasa apa” rapi, dia ikut. Jadi habis nulis” misalnya dia selalu ingat untuk tutup bulpen dulu sebelum pergi. Habis mandi, beresin peralatan mandi. Bagus sih, saya senang sekali ngga terlalu banyak beres”, palingan capek kejar” dia kalo lagi main di luar aja. Tapi saya ngga mau juga kalo dia jadi fotokopi saya. Saya tidak sempurna, saya mau dia ada khas bapaknya juga, yang pemberani, suka aktifitas di luar, suka bersosialisasi dsb. Nah kan masalahnya hampir 24jam anak nempel saya, suami kerja, di rumah pun kalo main sama anak ya di rumah aja, bercanda, tidak melakukan aktifitas yang berarti, karena mungkin capek kerja. Sesungguhnya saya ingin suami bisa menurunkan kelebihan”nya  ke anak. Biar anak ngga plek persis saya, gimana ya. Salah ngga sih kayak gini, anak nurut kayak ngga bersyukur malah mau yg lain” ๐Ÿคฆ๐Ÿผโ€โ™€
Afifah Sidoarjo HE: waah jadi tersadar pentingnya bahasa kasih
berasa plakk selama ini saya kejemm dan bengis suka maksaa
maksa bobok 

maksa beresin mainan  
harus memunculkan bahasa kasih๐Ÿ’•
Terima kasih diskusinya bunda Umi shalihah
anak ke2 saya kayak anaknya mbak liya sukaa peluk2 pangku gendong nempellll dia keliatan nyaman dan sok imut pas adegan itu hihi
kakaknya sukaa bgt kalo dibelikan susu, iqro’, dikasih baju ama kakak2 sepupunya meski preloved hehe 

diinget2 teruss ini baju dikasih siapa.. pernah dibelikan susu siapa 

kalo dipeluk cium ngefek sih tapi ya biasa aja hehe
ikut curhat๐Ÿ˜œ
bun icha…

anak2 dua2nya nempell ama saya

tapi tetep karakter mereka bedaa
kakaknya plek saya.. 

adeknya abinya plek.. nurut.. kalem.. baek.. lebih kerap ngalah.. 
wallahu a’lam..
kita tunggu jawaban ahlinya ibu2 pemateri hehe ga ngebantu yaa
Umi Sholihah: Saya percaya seorang anak itu terdiri dari benih bapak & ibunya. Ibarat benih, mungkin yang sudah tumbuh adalah benih dari ibunya, sedangkan benih dari bapaknya mungkin belum tumbuh karena beberapa hal:

1. Memang belum waktunya tumbuh

2. Belum dilakukan usaha utk menumbuhkan (disirami)

Yang perlu orangtua lakukan adalah menciptakan situasi yg mendukung benih2 potensi baik dari ayah maupun ibunya utk tumbuh (menumbuhkan fitrahnya)

Untuk ayah yg sibuk, seperti yg disampaikan ust. Adriano,  perlu diperhatikan bahwa sblm anak kita baligh prioritas kita adalah pendidikan anak, bkn kesejahteraan; karena anak juga perlu dibesarkan & dididik dgn kesulitan2.

Usahakan ayah ada di waktu2 krusial seperti saat anak bangun tidur, sarapan, menjelang tidur dan sebisa mungkin terlibat dlm rutinitas rumahtangga, meskipun kuantitas & kualitas sama2 sangatlah penting.

Bermain & membersamai anak itu sudah bagus ๐Ÿ‘ Keseimbangan figur ayah & ibu sangat berpengaruh bagi tumbuhnya fitrah anak. ๐Ÿ˜Š

Mari berkhusnudzon & mensyukuri nikmat Allah. Seorang anak tidak boleh dibesarkan dlm kecemasan ibunya. Be happy โค
Dwi Retno Wulandari: Seorang anak tidak boleh dibesarkan dalam kecemasan ibunya๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘
Icha Gresik HE: Menyegarkan banget tulisannya. Makasih ya bun tanggapannya.
Mendidik dengan kesulitan itu bagaimana ya contohnya?
Liyadewi: Mendidik dengan kesulitan mksdnya kondisinya nggak ideal 

Misal tanpa ART jadi dia harus ikut membantu ortu mengerjakan pekerjaan rumah
Rita DEK: Mendidik dg kesulitan: bangun pagi๐Ÿ˜€