Family Strategic Planning

Kala itu kami hadir saat sesi tanya jawab terakhir. Hari sudah siang kami sudah cukup lelah karena perjalanan dari Gresik lalu ke Sidoarjo mengunjungi keluarga saya dan sahabat saya yang sedang berbahagia menyambut perkembangan anak perkembangan anak pertamanya. 

Acara yang bertajuk Family Strategic Planning (FSP) ini diadakan oleh Intitut Ibu Profesional Surabaya Raya, yang mengerjakan acara ini dengan betul-betul profesional. Dan saya menyadari profesional disini bukan sekedar tagline belaka. Mungkin lain waktu saya akan ceritakan how profesional they are. 

Semua peserta duduk di meja-meja yang sudah disusun dalam bentuk kelompok. Di sesi sebelumnya semua peserta yang terdiri dari pasangan suami istri didampingi fasilitator diarahkan oleh Ibu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mardianto, selaku pembicara, menyusun FSP step by step. 

Berikut ini adalah cara menyusun FSP. Ringkasan ini disadur dari catatan Bunda Ika Nurmaya, peserta workshop FSP juga

________________________

Punyalah peta dulu untuk menentukan tujuan. Karenanya jika anggota keluarga melakukan kesalahan maka jangan salahkan mereka krn memang tidak punya peta. Peta ini u menyamakan persepsi. Letakkan hati anda pada keluarga anda, sehingga insting akan keluar dibantu Allah

  1. Tuliskan nama peta di tengah kertas posisi mendatar: nama keluarga

  2. Tulis tujuan di pojok kanan atas, tujuan itu baik jika bisa tahu kita sampe di tempat itu. Kita tahu saat mencapai tujuan itu.harus jelas u keluarga kita sendiri

  3. Tulis posisi kita di mana?, tulis titik awal di pojok kiri bawah. Titik awal Yaitu keadaan anggota keluarga kita saat ini.keluarga saya jml 4, anggota ayah ibu salman dan aydin. Tuliskan kekuatan masing2 anggota keluarga, tulis hobby, kapabilitas.

  4. Tuliskan kompas yaitu core value/ nilai keluarga, tentukan mana yg harus dilakukan dan tidak dilakukan. Kata sifat yg mbantu anda memutuskan prioritas dalam hidup. Contoh indonesia adl pancasila. Kalau core value keluarga saya adl iman dan kehormatan. Pas m Ara mau sekolah, apakah sekolah berlawanan iman? Tidak, apakah Allah berlawanan dg kehormatan? Tidak, maka bisa dilakukan, jadi core values adl salah satu cara u pengambilan keputusan. Tulis di pojok kiri atas, tulis dua atau tiga kata saja

  5. Tulis rambu2/ SOP/ aturan dasar/ golden rules tulis di pojok kiri atas yg berfungsi manakala terjadi badai dlm keluarga.contoh: ttetap berkomunikasi walau tjd badai, segala keputusan yg muncul saat marah, maka batal demi hukum, bila terjadi perselisihan kembali pada alquran dan hadis, maka jika msh ada perbedaan maka datang ke ahli yg sdh disepakati. Hasil dari ahli itulah keputusannya

  6. Tuliskan bekal yg hrs disiapkan di tengah bawah, misal biaya dll

  7. Tuliskan support sistem di luar keluarga kita ex: komunitas institut ibu prof, sahabat keluarga, kolega keluarga. Shingga ketika terjadi badai antara ayah dg anak lalu anak pergi, ia akan pergi ke komunitas itu, dll ditulis di kanan bawah

  8. Kapal tidak harus satu, boleh banyak kapal yg berlayar menuju satu tujuan, tiap anggota keluarga boleh mengambil jalannya sendiri, yg penting 1 tujuan

  9. Tuliskan nama keluarga pikirkan nama yg indah, nama itu akan menggambarkan apa, tulis peran hidup jika belum menemukan peran hidup tdk apa2, temukan dg banyak ngobrol, aktivitas dan bermain

  10. Tuliskan tema tahunan/ proyek, setiap proyek dimiliki setiap anggota keluarga, dan yg lain mjd support system, mjd follower jadi harus taat pada pimpro. Dalam proyek ini yg penting adl proses bukan hasil, anak2 yg penting berlatih dan belajar. Tema idenya bisa muncul dari manapun, berbahagia berbuat salah selama masih belajar, jadi berbuat salah maupun berbuat benar tetap dihargai sepanjang mendapat pelajaran

_________________________

Seluruh keluarga yang harga nampak sudah membuat rancangan peta keluarga. Aku hadir di ruangan sendirian setelah, sholat dhuhur dan mengantarkan anakku dan ayahnya di kids corner yang nyaman dengan tenaga profesional juga. 

Saat itu berdiri seorang Bapak sedang mengajukan pertanyaan, nampak bahwa Bapak ini sudah terjun langsung memikirkan akak dibawa kemana masa deoan keluarganya nanti. Tidak sekedar memikirkan pemenuhan nafkah namun peran apa yang akan mereka ambil kelak. Sangat sayang jika di dunia hanya memikirkan perut saya bukan? 

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Saya hadir karena Allah memberikan saya kemudahan untuk hadir. Dan saya manfaatkan bersama keluarga saya mendengar langsung gaasan Ibu Prodesional dari foundernya. 

Bukan karena saya nge fans, kata seorang guru idola bisa diartikan sebagai Tuhan Palsu dan itu salah dalam Islam. Dan manusia adalah tempatnya salah kelak kita bisa kecewa dengan idola kita. Namun merasakan semangatnya, ghirah untuk menjadi pembeda itulah yang saya cari. Saya yakin oanjng perjuangan Bu Septi dan Pak Dodik mensosialisasikan ide Ibu Profesional ini. Hingga saat ini kalimat sumbang pun masih terdengar. 

Pun bukan karena mendewakan gagasan yang ada didalam Ibu Profesional, karena ini adalah hasil pemikiran manusia tentulah tidak sempurna. Namun selama ini sesuai kaidah Al Quran dan sunnah, bagi keluarga kami sudah masuk syarat diterimanya sebuah gagasan sebagai inspirasi keluarga kami. 

Saya lanjutkan pengalaman worshop kemarem ya,,,

Meski sesi tanya jawab terakhir namun aoa yang dijelaskan pak Dodik dan Bu Septi sangat mendalam. Berikut resume tanya jawab yang sudah dihimpun oleh lagi-lagi Bunda Ika Nurmaya

_________________________

Bu Septi

Berikan proyek pada tahap pralatih sebelum 9 th, proyek hanya dlm hitungan hari, semua anggota keluarga ikut berpartisipasi.

Ex: proyek sarapan sehat selama seminggu, adik umur 2 th yg bagian membuang sampah, tidak apa2 berceceran.

Golden rules, cara efektif pak dodik kalau marah dari wajahnya sdh kelihatan, ia diam.

Lalu jika saya/ bu septi marah, saya biasa mengomel, maka biasanya pam dodik berikan air untuk saya kumur.

Untuk monitoring proyek, maka evaluasinya  setiap minggu adalah:

  1. Sdh melakukan apa?

  2. Sdh sukses apa?

  3. Minggu depan mau sukses apa?

Lalu kami melakukan false celebration setiap bulan merayakan kesalahan, harus ada yg mencatat setiap cerita/ bibi titi teliti u membantu mengingatkan ttg rencana2 yg sdh pernah dicanangkan.

Untuk buku yg jadi refferensi literasi keluarga bu septi dan pak dodik, biasanya pak dodik yg membaca buku, lalu bu septi diceritain oleh pak dodik.

Buku pertama adl Toto Chan, lalu berpikir dan berjiwa besar, lalu buku2 ttg pendidikan , pendidikan kaum tertindas, baik model, jenis.

Buku2 yg disukai pak Dodik adalah sosialis agama, biografi moh hatta, sutan syahrir, buku strategic planning for non profit organization, mendidik anak berbakat, buku ttg parenting nabawi 4 khalifah.

Kata umar jika anak berbuat salah tegur dan jangan tulis kesalahan itu. Jika ankmu berbuat benar, puji dan tulis kebaikaannya itu.

Parenting Abu Bakar lebih lembut dlm mendidik anak.

Tujuan umum adalah visi, sdgkan tema adalah jalan u mencapai tujuan tsb.

Contoh: saat elan usia 7 th, proyeknya adl berbagi kartu nama, tiap minggu ditanya sdh berbagi kartu nama berapa, sdh dapat brp

Menentukan tujuan antara anggota keluarga, pilih masing2 tujuan yg bisa dikerjakan bareng2.

Dengan berlatih bermain bareng, ngobrol bareng dan beraktivitas brg, maka akan semakin banyak tujuan kita

Untuk anak 8-12, adalah anak2 yg merasa benar sendiri, maka kita harus mjd pendengar yg baik, jadi sahabat yg baik. Mema g harus mereka spt itu, krn sdg muncul keakuannya.

Harus kita berhasil melatih diri sendiri untuk Bisa mjd sahabat anak.

Pak dodik

Ortu harus bermain peran, yaitu sbg ortu, teman dan adik ( kita yg butuh mereka).

Pada usia 11-14 anak sdh tidak suka dinasehati, maka kita hrs mjd temannya.

Jika ia sdh usia 14-21 maka kita sbg partner saja, ibu bisa bantu apa, ayah bisa bantu apa.

Jadi FSP ini mjd pendidikan pd anak2, shg kita ortu jadi tahu bgmn cara membantu anak2 kita u mencapai cita2 nya. FSP adl doa, krn pengalaman saya apa yg sdh ditulis di saat lalu ternyata dikabulkan/ terwujud. Maka kita akan sering bersyukur, krn tahapan yg kita tulis ternyata Allah wujudkan.

Keinginan kita u mewujudkan yg terbaik u pasangan dan anak2 kita, maka akan tertulis jelas, dan bisa dievaluasi di FSP.

Bu Septi

Yg single, buatlah personal strategic planning, yg punya komunitas buat community strategic planning

_________________________


Sepulang dari workshop FSP rasanya seperti HP yang baru di charge full. Saya langsung mencoba mendiskusikan dengan suami untuk menyusun FSP kami, mulai dari nama, tujuan, posisi kita saat ini. Ternyata suami saya sempat mengikuti materi meski dari luar ruangan sambil menggendong anak saya.

Gambaran peta hidup kami mulai nampak. Namun ternyata memang benar bukan hal yang mudah, bukan sehari atau dua hari kita menyusun FSP mungkin dalam hitungan tahun tergantung seberapa cepat kita mau belajar dan serius. Belom bisa sharing FSP kami karena kami masih menyusunnya. Semoga kelak bisa sharing lebih lanjut. 

Sebagai follow up dari workshop FSP, suami saya membuat WAG yang tentu isinya cuma kami berdua namun isinya adalah hanya untuk membicarakan perkembangan FSP kami, segala ide-ide. Suami saya membuat sebuah kartu kontrol untuk salah satu project family yang dia buat, semoga terus berjalan dan berkembang lebih baik. 

Advertisements

Learning How to Learn

Sumber foto : Google

Sebuah ilmu baru bagi kami mengenai Learning How to Learn. Pada intinya ilmu ini mengajarkan kami untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan kami.

Ketika diminta membuat Design Pembelajaran bagi keluarga kami maka yang pertama saya lakukan adalah mengamati keluarga kami lalu membuka file portofolio anak kami. Dalam benak saya membuat kurikulum sesuai dengan kami seperti layaknya menyusun Personalized Curiculum yang merupakan hasil akhir dari penyusunan Portofolio Anak. Dan kesimpulan nya adalah kami belum memiliki cukup bahan untuk membuat Design Pembelajaran kami sendiri. Mengingat usia pernikahan kami yang alhamdullilah masih memasuki tahun ketiga.

Jika kami belum memiliki Design Pembelajaran khas keluarga kami bukan berarti tidak ada kurikulum yang berjalan pada keluarga kami selama ini. Sekitar akhir tahun 2016 kami berkesempatan belajar langsung dengan Ustadz Harry Santosa mengenai Fitrah Based Education, dimulai dari situ keluarga kami berproses bersama dengan Framework FBE. Saya rasa framework ini bisa digunakan siapa saja karena framework berisi tentang arahan, goal apa saja yang seharusnya kami capai yang sesuai dengan fitrah diri pada diri kita, sedangkan perkara teknis, yang bisa disebut sebagai Personalized Curiculum/ Kurikulum yang Gue Banget/ Design Pembelajaran (selanjutnya dalam tulisan ini saya sebut sebagai Design Pembelajaran) disesuaikan dengan keunikan keluarga masing-masing.

Berikut ini adalah framework Fitrah Based Education yang berjalan didalam keluarga kami. Sumber gambar FB Ustadz Harry Santosa.

Untuk menyusun Design Pembelajaran butuh waktu pengamatan yang panjang. Dalam pengamatan di kurun waktu yang panjang ini yang kami lakukan adalah Emisol.

EmISol, Empati-Imajinasi-Solusi..ulangi🏆
(Menyerap-mengolah-menyajikan…mulai lagi dari menyerap).

EMPATI (menyerap) adalah kegiatan berkehendak (niat tulus) yang dilakukan dengan antusias dan rasa penasaran tinggi untuk mau menyerap semua masukan dari panca indera. Namun  seringnya kita beri kegiatan MENDENGAR.

IMAJINASI (mengolah), merupakan kegiatan berpikir dan membuka wawasan. Bukan berpikir dengan berkerut kening dan menopang dagu seperti yang digambarkan selama ini. Ini adalah kegiatan menghubung-hubungkan hasil serapan dengan keadaan sehari-hari.

Selanjutnya tentu kita akan penasaran untuk mencobanya, inilah tahapan SOLUSI (menyajikan). Tahapan yang didorong rasa penasaran untuk mencoba. Tahapan yang akan membuka pintu-pintu hikmah dan kebijaksanaan.
SOLUSI yang apapun hasilnya kita ulangi lagi masuk ke tahap EMPATI. Terus melingkar dan terus mekar🌻.( Oleh Achmad Verzal, dalam EmISol).

Dari proses emisol ini yang kami susun portofolio anak kami dalam bentuk kumpulan foto, video, dan beberapa keterangan nya dalam bentuk slide powerpoint. Dalah satu portofolio anak kami

Sebagian besar masih dalam bentuk file foto dan video yang masih berserakan. Semua catatan aktivitas anak kami menjadi bahan penyusunan Design Pembelajaran keluarga kami. Karena anak adalah cerminan orang tuanya maka cara belajar kami kurang lebih seperti apa yang saya lihat dari anak kami. Sejauh ini yang kami pahami, kami adalah pembelajar tipe visual yang sangat senang belajar melalui pengalaman dan melihat secara langsung.

Proses pengamatan ini akan terus berlangsung hingga kami menemukan rumus unik bagi Design Pembelajaran kami. 

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Sumber foto : Google
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggotanya menuju peran peradabannya” (NHW#3, IIP)

Kalimat ini menyadarkan saya bahwa betapa besar tanggung jawab saya. Ternyata hidup ini bukan “let it flow” tapi ada misi yang kita emban. Dimulai dari diri kita lalu melingkar mekar bersama keluarga kecil kita kemudian lingkungan disekitar kita.


Seperti yang sudah dijelaskam di postingan sebelumnya hal yang pertama pwrlu dilakukan adalah kita perlu mengenali diri sendiri. Kemudian kenali pasangan kita, anak-anak kita dan lingkungan kita. Pahami mengapa Allah menganugerahkan kita pasangan, anak dan lingkungan tempat kita tinggal sekarang. Dari situ kita bisa melihat apa misi Allah untuk kita.


Merenungkan setiap poin itu satu persatu dan saya menyadari beberapa hal, tentang…

Aku

Bagi saya untuk bisa menentukan misi peradaban dimulai dari mengenali keunikan diri sendiri. Tapi entah kenapa kali ini rasanya sulit, beda dengan beberapa tahun lalu di sesi wawancara open rekruitmen sebuah instansi. Dulu menggebu-gebu, kata Sheila On 7 “kesombongan dimasa muda yang indah…”.

Dengan bantuan tools st30 dari www.temubakat.com saya tahu beberapa bakat produktif dan kelemahan saya saat ini. Saya dibantu Bunda Rima Melanie, santri Abah Rama (Founder Temu Bakat), untuk membaca hasil analisa bakat produktif saya. Disitu sebutkan saya orang yang kreatif penuh banyak ide dan bisa mengorganisasikan hal-hal yang ada di sekeliling saya agar bisa merealisisai ide saya. Kedua saya senang menganalisa, teman saya juga pernah mengatakan saya suka mengamati. Ketika saya tidak memiliki waktu untuk mengamati sekitar saya merasa kehilangan peran. Kelemahan saya juga dua tidak konsisten dan susah memulai hal baru karena terlalu senang menganalisa.

Pasangan Hidup

Garwo niku siGARaning nyoWO. Suami itu separuh nyawa kita. Saya yang susah memulai hal yang baru diberikan Allah anugerah suami orang yang pandai memanage waktu, cepat memulai hal baru, rajin memotivasi saya untuk memulai ide-ide baru saya. Itulah kenapa.

Kesamaan kami adalah anak rumahan yang suka traveling. Bukan kegemaran kami berlama-lama nongkrong diluar bersama teman-teman, dirumah bersama keluarga lebih nyaman. Menjelajahi tempat-tempat baru adalah kegemaran kami. Dan hal ini menurun pada anak kami.

Permata hatiku

Anakku permata hatiku. Ada yang bilang dia nangisan, bagiku dia memiliki hati yang peka. Tidak mudah bagi dia berbaur dengan orang baru dia lebih nyaman bersama keluarga dekatnya. Mungkin itu yang disebut buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi dia bisa cepat beradaptasi dengan alam bebas di darat maupun air meskipun dia belom bisa berenang dia tidak pernah takut dengan air.

Memiliki lelaki yang tidak takut banyak hal membuat saya belajar untuk tidak banyak menunjukkan rasa takut saya pada beberapa hal trauma saya saat kecil seperti takut hewan, takut gelap dan takut ketinggian.

Bakat menganalisa atau mengamati orang sekitar dulu sebelum kenal dekat yang menurun pada anak saya membuat saya belajar bagaimana dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan agar bisa memberi tauladan bagi anak saya.

It Take A Vilage to Rise a Child

Ini yang saya liat dari lingkungan saya. Saya harus mengajak lingkungan saya untuk ikut mendidik anak saya.

Alhamdulillah Allah menganugerahkan saya lingkungan baru dengan jumlah penduduk yang masih sedikit dan usianya kebanyakan mayoritas kurang lebih sama dengan saya sehingga saya lebih percaya diri untuk beradaptasi. Belajar mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Harapannya kedepannya saya bisa mengajak mereka belajar bersama, anak-anak nya belajar dan bermain bersama. Setiap orang tua disini memiliki kesadaran yang sama bahwa it takes a vilage to raise a child.


Apakah Anda sudah memahami misi hidup Anda? 

Know, Love, and Raise Yourself

Di pagi yang sendu dimana matahari pun malu-malu untuk menampakkan dirinya, lelah pun menghampiri setelah semalaman begadang menemani permata hatiku yang sedang demam, sebuah tugas rumah pertama menghampiri dari kelas matrikulasi IIP. Barulah saya tahu kenapa disebut Nice Home work, karena bagi saya tidak hanya nice tapi menggairahkan, seperti semangat ditengah lelah, seperti cahaya di pagi yang syahdu.

Tugas ini simpel sebenernya diawali pertanyaan tentang satu ilmu apa yang ingin kita pelajari di universitas kehidupan ini. Entah kenapa bayanganku menuju pada materi belajar di kelas kecilku tentang mengenali diri sendiri. Banyak orang yang bingung akan mengambil peran apa di universitas kehidupan ini karena mereka tidak memahami diri mereka sendiri.

Maka langkah awal yang aku lakukan adalah mencoba menuliskan keinginan atau cita-cita apa saja yang ingin aku capai. Apa saja potensi yang ada dan tidak ada dalam diriku. Hasilnya menjadi sebuah design thinking dan ternyata dari sinilah aku baru memahami kebutuhan ilmu yang perlu ambil di universitas kehidupan ini. 


Ini design thinking yang aku buat sambil menimang anakku yang masih demam. Terdiri dari hobi, yang pertama aku tulis sesuai saran mbak Hepi Risenasari, fasilitator IIP. Lalu cita-cita, passion, ilmu yang dimiliki, weakness atau kelemahan yang dimiliki serta peran yang telah dijalani. Mirip analisa SWOT ya isinya.

Dari sini aku mendapat kesimpulan bahwa kita perlu memahami diri kita (Know Yourself) agar kita bisa menerima diri kita (Love Yourself) lalu berkembang menjadi lebih bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain (Raise Yourself).

Know Yourself

Memahami diri sendiri dengan mengetahui potensi yang kita miliki dan yang tidak kita miliki. Bakat produktif yang bisa dikembangkan. Serta peran yang ingin kita ambil.


Love Yourself

Menerima diri sendiri atas kekurangan yang kita miliki. Fokus pada potensi yang kita punya.


Raise Yourself

Mensinergikan potensi yang kita miliki dan bekerjasama dengan pihak lain untuk membantu kita di bidang yang tidak kita kuasai agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.


Kembali ke tugas yang aku buat. Setelah mengamati design thinking ini aku tidak bisa mengambil satu ilmu yang ingin aku pelajari karena semua sudah dalam proses aku pelajari tapi ada satu ilmu diluar itu semua yang amat penting bagi saya dan belum saya pelajari adalah Ilmu menjadi Ibu Profesional. Itulah kenapa saya ada disini, menimba ilmu yang tidak saya miliki. Ini bukanlah sebuah bualan tapi ini refleksi diriku. Mengingatkanku alasan kenapa aku harus belajar disini.

Ilmu tidak akan masuk kedalam diri seseorang yang penuh dengan kesombongan, ilmu pun tidak akan menyerap pada diri seseorang yang enggan membaca, bersabar menyimak bait-bait ilmu yang disampaikan para guru. Maka kukosongkan gelasku, aku sediakan waktu, pikiran, tenaga dan keluargaku untuk belajar bersama-sama menimba Ilmu Ibu Profesional dengan saya. Saya, Ibu, sebagai project leader dan keluarga , Suami dan anak, adalah suport team. Belajar, disaring dan langsung praktek setelah itu evaluasi. Serta mengikat ilmu tersebut dalam bentuk tulisan.

Pelajarilah adabnya sebelum mempelajari ilmunya. Begitulah ulama mengajarkan. Maka mempelajari adab menuntut ilmu akan memudahkan seseorang dalam menuntut ilmu.

Semoga Allah memudahkan kami menyerap setiap ilmu yang diberikan.