Polymath

Suatu hari, dirumah, aku jalan-jalan di timeline Facebook. Hehe jalan-jalan zaman now

Ada seorang sahabat yang mengeluhkan tentang mengapa beberapa ulama sekarang mengkhususkan diri pada satu bidang keilmuan padahal dahulu ulama itu dikenal sebagai orang yang menguasai berbagai macam ilmu. 

Anehnya aku merasa kurang setuju dengan yang dia nyatakan, karena nyatanya memang setiap orang harus memilih satu bidang ilmu yang ingin dia kuasai seperti kita memilih jurusan di kampus saat akan masuk perguruan tinggi. Tunggu dulu…jangan-jangan pola pikirku ini terbentuk karena apa yang aku lihat disekelilingku saja. Lingkungan yang berpandangan bahwa gelar dibelakang nama kita adalah satu-satunya cara untuk mengetahui keahlian apa yang dimiliki seseorang. 

Pemikiranku runtuh sampai aku dan keluarga bac komik Al Fatih karya kak Handri Satriya. Disitu digambarkan Muhammad Al Fatih belajar pada gurunya Syaikh Ahmad Al Qurani dimana beliau adalah seorang polymath. Polymath adalah sebutan bagi seseorang yang menguasai lebih dari satu bidang keilmuan. Syaikh Al Qurani menguasai ilmu biologi, kedokteran, astronomi, dan pengobatan herbal. Dari situ aku mulai tertarik mencari tahu tentang orang-orang yang menguasai lebih daru satu bidang keilmuan. 

Dan ternyata orangnya tidak jauh dari kerabat aku sendiri. Seorang guru, coach, dan penulis Canun dan Fufu. Di salah satu postingan Teh Fufu di instagramnya, teh Fufu bercerita bagaimana orang-orang meragukan khasanah keilmuannya tentang parenting karena gelar dibelakang nama. Iya orang-orang sepertiku yang meragukannya. Tapi karena Allah sudah mempertemukan aku dengan Kang Canun dan Teh Fufu sebagai coach-ku di Sakeena Family, aku tahu kemampuan mereka yang nggak sekedar tulisan diatas kertas. 

Dari situ aku sadar, ya memang seharusnya kita tidak membatasi diri untuk belajar ilmu apa dengan terpatok pada satu ilmu saja. Mungkin kita akan mempelajari hal yang masih linear dengan ilmu sebelumnya kita pelajari atau bahkan berbeda sama sekali. 

Pun tidak perlu menilai seseorang dari gelar yang melekat pada namanya saja. Dan tidak ada yang perlu dibanggakan berlebihan dari gelar panjang dibelakang nama kita. 

Menjadi seseorang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar itu lebih baik. 

Pada komunitas Community Based Education aku melihat teman-teman yang mau bersusah payah menggerakkan keluarganya untuk mengajak anak-anak tetangga gemar membaca. Ada yang mengajak anak-anak tetangga mengenal permainan tradisional. Ada yang mengajak Ayah Bundanya membuat mainan sendiri. Dan aku yakin para tetangga itu tidak ada satupun yang menanyakan gelar dibelakang nama mereka. Yang mereka tahu mendidik anak-anak tidak bisa sendiri dan uluran tangan teman-teman CBE seperti pertolongan saat mereka terhanyut arus zaman yang deras yang membawanya jauh dari Allah. 

Mempelajari satu bidang yang digemari atau diperlukan pada saat itu bukanlah hal yang salah. Hanya saja menjadi kurang tepat jika yang tumbuh adalah limiting belief. 

Limiting belief adalah Keyakinan-keyakinan baik mengenai diri kita sendiri maupun diluar diri kita yang menghalangi kita untuk merespons secara luas (Okina dalam Enlightening Parenting)

Membatasi diri kita bahwa kita tidak mampu mempelajari hal yang baru. Membatasi diri kita dengan mengatakan pada diri sendiri, inilah batas kemampuan saya. Membatasi diri dengan mengatakan, saya gaptek, saya sudah lelah bekarja tidak ada waktu untuk mengikuti kajian Islam, dst. 

Limitting belief sangat merugikan kawan membuat kita terjebak pada reaksi yang itu-itu saja dan membuat kita takut melakukan hal baru. 

Rasa takut itu tidak membuat kita maju. Keberanianlah yang membuat kita menemukan hal-hal baru. Belajar dari keselahan dan memperbaiki diri terus menerus.

Aku pernah mengalaminya, limitting belief itu berupa takut jualan, tidak bisa jualan, menganggap remeh orang yang jualan dan enggan belajar marketing. Dan di Sakeena Family bersama Kang Canun dan Teh Fufu lah aku bisa menyingkirkan limitting belief itu. Dan dalam perkembangannya limitting belief yang merugikan yang tumbuh dalam keluarga alhamdulilah aku bisa menggugurkannya. 

Satu hal yang dari dulu aku pegang adalah, Allah mengangjat derajat orang- orang berilmu. Aku percaya nggak ada ilmu yang sia-sia, jangan takut mempelajari hal yang baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s