Renungan Senin

Ketika SMA dulu dalam kajian di sekolah kami diterangkan perihal ghazwul fikr atau perang pemikiran. Dan bagaimana kita dilenakan dengan adanya hiburan. Food, fashion, film saat itu. 

Bagiku semua informasi itu, ah masak sih! 

Satu dekade terlewati nampaklah wajah-wajah yang terlena. Tak sempat mengkaji Sirah Nabawiyah maka pemain film pemain musik mereka idolakan bagaikan dewa. Atau mungkin sempat mengkaji namun satu dekade adalah waktu yang lama sehingga Rasulullah pun terpinggirkan dari hatinya. 

Film dan film adalah hiburan terbaik. Dan lembaran Qur’an tak lagi menarik hati. Akalnya ingin sekali menggapai kitab suci namun hatinya seakan berat. Ada apa dengan hatinya? 

Kian tahun generasi seperti ini tak berkurang namun kian bertambah. Karena senjata ghazwul fikr kian canggih. Bisa digenggam bahkan dibawa kemana-mana. Smartphone yang tak pernah lepas dari genggaman.

Kali ini mungkin bukan lagi segala macam hiburan mempengaruhi hidupnya namun memperbudak hidupnya. Lahirlah generasi yang bangga disebut sebagai generasi micin. Bangga akan ketidak pedulian kepada sesama. Bangga akan hidupnya yang senang-senang dan senang-senang. Salah satu yang mereka benci adalah orangtua. Karena dianggap nya tidak mengerti keinginan mereka. Yang mereka pedulikan hanya dirinya sendiri. 

Mungkin mereka sudah tidak sempat menyelamatkan diri dari cengkraman si gadget.

Mengembalikan keadaan menjadi sedia kala sungguh tidak mudah. 

Menjadikan kehidupan yang organik (mungkin bisa dibilang begitu) Tidak menggunakan gadget dibilang tidak mungkin, udik, kampungan, muluk-muluk. Dianggapnya terlalu keras pada diri sendiri. Atau mereka lupa dunia luar lebih keras menghantam diri kita secara diam-diam?

Lelah babak belur dan kadang mengeluh ingin menyerah. Sudah lah nasib jadi generasi micin ya sudahlah…begitukah? 

Tapi saat hati ini sakit merintih sendiri, fisik ini lelah tak mampu berdiri. Ada saja tangan-tangan yang menggapai anganku. Yang kata mereka fatamorgana. Menjadi optimisme dalam diri.

Peradaban yang lebih baik bisa terbentuk. Menjadikan anak sholeh dan Sholehah bisa kita lakukan. 

Liya Dewi

Sebuah renungan tentang kehidupan saya dan disekitar saya. Maka klo ada yang perlu tersinggung dgn tulisan ini adalah saya sendiri

Advertisements

Apa itu Me Time?

Ahad ini, jam ini, aku sendiri.

Suami snorkling di Menjangan anak maen dirumah Kung dan Uti nya yang jaraknya 5 menit dari rumahku.

Kata orang ini me time. Waktu untukku sendiri dan aku bisa melakukan apapun sendiri. Waktu yang diharapkan banyak orang. Waktu yang membuat bahagia karena bebas tanpa ada rasa beban. 

Tapi disini aku jadi tau apa makna me time untukku. Jika Me Time adalah waktu dimana kita sendiri dalam arti seorang diri secara fisik mungkin memang bisa dibilang momen ini adalah me timeku. 

Tapi bagiku Me Time adalah waktu dimana aku bisa mengeksplor diriku. Bagiku aku bisa mengeksplor diri ketika suami dan anakku berada di sekelilingku. Tetap belajar dan berkarya dengan tetap menemani mereka adalah eksplorasi yang seutuhnya bagiku. Karena menjadi mampu melakukan semua itu dalam satu waktu atau orang bilang multitasking adalah masalah jam terbang. Maka semakin sering aku berada dalam kondisi yang memaksaku menjadi multitasking adalah cara yang tepat untuk mengeksplorasi diri.

Terlahir sebagai wanita, fitrahku adalah kemampuan mengasuh, maka segala ilmu pengetahuanku di dunia pendidikan dengan cepat melaju mengalir dan mengeluarkan ide-ide baru seputar pengasuhan. Seolah fitrah dan pengetahuan adalah teman akrab yang sudah lama tak bertemu. Jadi Me Time ku adalah mengembangkan diri dengan tetap berada di sekeliling mereka. 

Klo pun aku harus pergi meninggalkan mereka haruslah untuk hal yang amat mendesak dan tidak dalam waktu lama.

Seperti kajian setengah hari jika lebih dari satu hari maka anak suami pun akan aku ajak. Karena Me Time ku adalah belajar. Belajar menjadi diriku yang lebih baik perlu melibatkan anak dan suami karena mendidik itu butuh satu desa, begitu juga dengan mendidik seorang ibu. 

Dan sekarang aku rindu Me Time ku.