Trimester Awal

Trimester awalku kini nggak jauh beda sama yang dulu. Semakin hari semakin mual. Mualnya semakin nggak kenal waktu, nggak kenal ketemu makanan enak atau nggak, nggak kenal orang baik wangi atau kecut. Tapi aku bersyukur karena sekarang aku punya banyaaak waktu untuk  throwback….

Tiga tahun yang lalu waktu aku mengandung Azzam, aku masih kerja dan nyambi kuliah pascasarjana. Aku tinggal di kos bareng temen-temen kantor. Suamiku di Cilacap. Yes, long distance marriage dan alhamdulillah dititipin Azzam di perut. Dan yah trimester awal dengan keadaan seperti itu sungguh AMAZING DUDE!

Di trimester awal aku nggak bisa makan apa-apa. Iya semua keluar lagi, byasanya setelah pulang kantor sekitar jam setengah enam sore. Padahal pulang jam segitu adalah aib buat tempat kerja aku dulu. Aku pulang dan muntah-muntah. Muntah sampai nggak ada yang dimuntahkan dan lemes sendiri di kamar, secara temen-temen masih pada di kantor. 

Semakin hari aku nggak bisa ngebauk aroma orang dewasa. Padahal di kantor ketemu banyak orang. Padahal mbak dan mas nya wangi-wangi dan cantik mbak-mbak nya, tetep aku muntah bisa pagi siang atau sore. Betapa berisiknya aku di kantor ya. Semoga Allah membalas kesabaran temen-temen sekantor aku dulu dengan hal yang lebih baik dari Allah. 

Makan. Aku nggak bisa makan apa-apa kecuali susu hamil yang aku muntahin cuma itu. Byasanya tiap jumat, pas cowok-cowok kita cewek-cewek main ke mall sebelah buat jajan. Temen-temen aku pada jajan dan aku cuma ngliatin dengan tatapan ngeri nggak tahan baiknya makanan. Karena saran temen-temen akhirnya aku beli ice cream. Finally sebelum balik ke kantor mereka nungguin aku yang lagi di kamar mandi. Ngapain lagi klo bukan… Ya ice cream aja kluar semua. 

Aku nggak ada waktu buat screening gizi yang aku makan. Waktu itu yang pikirkan, yang penting aku makan meski akhirnya kluar lagi. Sampai trimester awal terlewati. Ini bukanlah cara yang terbaik tentu! Tapi itu yang terbaik yang bisa aku lakukan dengan kondisi seperti itu. 

Dan sekarang aku dirumah, bisa selonjoran waktu mual. Sambil liat tingkah anakku yang lucu yang adaaa aja. Aku nggak pernah muntah cuma sebatas mual. Aku bisa screening gizi yang masuk dalam tubuhku. Fokus tidak terpecah belah. Seberat apapun hari ini, aku merasa beruntung karena ini sudah lebih baik dari hariku yang kemarin. 

Dan karena aku tau berat menjadi ibu sekaligus bekerja maka aku sangat senang klo ada temen-temen yang memilih fokus dirumah bersama keluarga. Dan karena hal yang sama juga, aku sangat menghargai temen-temen yang masih bekerja sekaligus menjadi ibu. 

Dan karena hal yang sama juga, aku merasa sangat sakit hati klo ada yang bilang “menjadi ibu rumah tangga lebih mulia dari ibu bekerja”. Kebayang nggak sih susah payah mengandung sambil kerja, dan menyusui sambil kerja terus ada yang bilang kayak gitu. 

Kita nggak tahu perjuangan yang mereka hadapi dan kita nggak tahu apa yang Allah kehendaki.

QS Al-Baqarah : 119 – Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Bashiran wa nadhiran, berita gembira dan peringatan. 

Itulah yang seharusnya kau gunakan jika ingin mengajak seseorang ke jalan Allah. Berikan peringatan tentu boleh, jangan lupa dengan kabar gembira. Karena secara fitrah itulah tugas manusia di bumi. 

Advertisements

Pelaksanaan Kopdar HEbAT Community Surabaya Raya

Ahad, 23 Juli 2017

Kopdar HEbAT Community Surabaya Raya di Gedung BPPNFI, Surabaya

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an secara hafalan oleh putri Bunda Tina yang sudah menghafal 5 juz daei Al Qur’an. Pembukaan oleh ketua panitia acara kopdar Bapak Yasser kemudian dilanjutkan pengenalan HEbAT Community Surabaya Raya oleh ketua HEbAT Surabaya Raya, Bapak Nur Yahya. Aku pun baru tahu ketuanya Pak Yahya hahaha

Pak Yasser, Ketua Panitia Kopdar

Bapak Nur Yahya, Ketua HEbAT Community Surabaya Raya

Pengurus Pusat HEbAT Community Pusat

Visi HEbAT Community

Kegiatan HEbAT Community

Dokumentasi kegiatan HEbAT Community

Pengurus HEbAT Community Surabaya Raya

Dijelaskan siapa saja pengurus HEbAT Community Surabaya Raya dan apa saja kegiatannya. Klo yang ini aku nggak ikut full lagi ngejar anak keliling gedung. 
Intinya kegiatan HEbAT Community ada belajar online dan offline ada juga CBE, Community Based Education, sarana offline tiap daerah, bisa dijadikan sarana belajar Home Education ataupun sarana bertemu maestro. Saling memberi ruang untuk belajar. Kenapa bisa seperti itu? Ilallah, karena Allah kami bergerak. 

Selanjutnya pemaparan dari Nara sumber kami Ibu Deasy, yang menyempatkan diri berbagi disela-sela agenda mudiknya. Nggak tahu kenapa ya aku klo ketemu inspirator suka grogi, langsung nggak tahu mau ngomong, padahal banyak kesempatan ngobrol huaaa.

Pada intinya beliau menjelaskan bahwa memulai home Education ini tidaklah sulit kita hanya perlu memberikan ruang untang anak-anak untuk berkreasi. Lebih bersabar menghadapi kreatifitas mereka. Beliau pernah bercerita bagaimana anak2 nya pernah jatuh dan bangun kembali lagi berkreatifitas lagi. Dan semu itu memberikan hasil yang bagus berupa berkembangnya fitrah mereka. 

Selain itu para orang tua perlu memahami bahwa anak-anak yang dititipkan pada kita adalah spesial lengkap dengan fitrah kita, dan kita sebagai orang tuanya juga memiliki fitrah yang siap untuk mendidik mereka. Tinggal kita mengembangkan fitrah itu seiring membersamai anak-anak.

Bunda Deasy ini pembawaan nya sabar dan ramah, sama dengan Ayah bunda lainnya yang hadir. Menjalani Home Education membuat kita lebih rileks dan optimis efeknya kita nampak sebagai pribadi yang lebih rileks dan selalu optimis. 

Bunda Deasy, nara sumber

Selanjutnya adalah penampilan member HEbAT Community Surabaya Raya yang memiliki kemampuan lebih dalam bidang menciptakan lagu anak-anak. Anak-anak yang tadinya berada di ruang kids corner diajak masuk kedalam ruang seminar dan bernyanyi bersama. Lagu ciptaan Bunda Upik yang sebelumnya sudah pernah di share di grup WhatsApp sehingga anak-anak member HEbAT Community Surabaya Raya sudah hafal. 
Semoga bunda Upik bisa rekaman dan menyebarkan lagu anak-anak yang bagus dan mendidik yang beliau ciptakan. Aku sudah rinduuuu sekali lagu anak-anak yang baru. Selanjutnya untuk pertama kali seluruh member menyanyikan Swing HEbAT Community ciptaan bunda Upik. 

Selanjutnya seluruh peserta praktek langsung menuliskan potensi anak di kertas Manila besar dengan kertas lipat warna warni. Disini kita tidak hanya diakui tapi juga praktek membuat portfolio anak, merekam aktivitas mereka selama kita membersamai mereka. Sambil tanya jawab dengan Bunda Deasy. 

Beberapa peserta yang sudah selesai menuliskan membacakan hasil tulisannya dan sharing hasil membersamai anak-anak mereka. Salah satu yang berkesan adalah ketika ada member yang bercerita anaknya suka sekali memaksa orang tuanya sholat subuh di masjid secara berjamaah diusianya yang masih dini. Ketika fitrah keimanan yang berkembang dengan baik maka beginilah hasilnya. 

Bunda Deasy juga menjelaskan mudahnya membuat portfolio anak. Beliau menggunakan buku notes saja. Tentu ada beberapa keluarga yang suka mencatat secara online, itupun tidak masalah, yang penting mulai mencatat dan terus mencatat perkembangan anak. 
Acara terakhir adalah halal bihalal, kami bersalaman, ibu-ibu dan bapak-bapak dengan barisan yang berbeda, lalu foto bersama dan makan tumpeng bersama ibu-ibu dan bapak-bapak dengan kelompok tumpengan yang berbeda juga. 
Diluar ruangan utama ada kids corner yang kuas dan ramai dengan berbagai macam mainan anak-anak yang dibawa sendiri. Ditambah game yang sudah disediakan tim KC. Aku melihat bagaimana orang-orang yang paham bagaimana menjaga hati anak-anak, tidak ada nampak lelah apalagi kesal mendampingi anak-anak yang bukan anak-anak mereka dan tanpa bayaran selain harapan besar dengan peradaban yang lebih baik.

Aktivitas anak-anak di kids corner

Aktivitas anak-anak di kids corner

Alhamduliah kami berkesempatan jadi panitia. Jadi kami lihat bagaimana kerja oanitia dibakik layar. Saling menyokong, mendukung, suport, tidak ada saling menyalahkan, semua gercep.

InsyaAllah selanjutnya panitia akan dapat kesempatan belajar secara online dengan Bunda Deasy, karena panitia sibuk sendiri kemaren. 

Dalam acara kopdar seluruh yang hadir menyanyikan Swing HEbAT Community ciptaan Bunda Upik. Klik link dibawah.

Swing HEbAT Community 

Kesan Kopdar HEbAT Community Surabaya Raya


MasyaAllah…buat kami ini adalah momen berharga karena di Kopdar ini saya bertemu langsung guru-guru kami. Ayah Bunda yang selama ini menginspirasi kami. Yang membalikan berbagai ilmu yang saya tulis disini selama ini.

Di Kopdar HEbAT Community Surabaya Raya, anakku aktif berekspresi dengan ceria tanpa henti. Padahal biasanya dia butuh waktu untuk adaptasi.
Ada yang beda memang. 
Ada atmosfer kebebasan.
Bebas dari persaingan tak kasat mata para ibu-ibu
Bebas dari perasaan takut di judge ini itu
Bebas dari perasaan takut salah ini itu
Karena semua paham bahwa setiap keluarga adalah unik dan memiliki keunikan tersendiri
Saling suport, menghargai, saling menyokong kekurangan yang satu dengan yang lain, saling menjaga anak yang satu dengan yang lain
Karena semangat yang sama
Menyebarkan atmosfer keluarga bebas galau 
Membangun peradaban yang lebih baik


Mengamati Kopdar kami semakin yakin dan positif thinking bahwa membangun peradaban dengan para orang tua yang menjalankan home education bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Dan kami semakin semangat untuk menyebarkan virus home education. 

Di tulisan berikutnya akan saya bahas apa aja yang dipelajari disana. 



Melingkar Mekar Bersama Tetangga

Tetangga, melingkar mekar bersama tetangga, home education
Tinggal dilingkungan baru dimana penghuninya masih amat sedikit, fasum dan perangkat desanya belum ada kadang membuat keluarga bertanya-tanya apakah hal ini membuat kami nyaman tapi ternyata banyak berkah dan hikmah yang kami dapat.

Mayoritas warga disini keluarga baru dengan anak-anak yang masih balita tanpa asisten rumah tangga. Para bapak sudah memiliki grup WhatsApp dan beberapa pertemuan untuk rapat koordinasi. Beberapa bulan berikutnya para ibu punya grup sendiri tapi amatlah susah mempertemukan emak rempong disini. Ini yang membuat suami saya gemes dan mengusulkan buka bersama sederhana.
Awalnya sulit mengarahkan para ibu untuk mau mengurus buka bersama, penyebabnya tidak lain tidak bukan karena title dibelakang nama kami *rempong*. Namun keinginan kuat saling mengenal saudara terdekat alias tetangga lebih besar, 4 hari pun cukup untuk menyiapkan buka bersama sekaligus acara warga pertama kalinya.
Untuk makanan biar nggak rempong nasi kotakan saja, cuma minuman yang bikin sendiri  Warga yang sudah pasang kanopi dan dapurnya sudah jadi memberikan sumbang tempat. Karena yang ketempatan rumahnya belum ditempati prabot masih belum lengkap maka peralatan untuk bikin es disumbang warga lain. Karena yang punya peralatan bikin es anaknya masih batita bikin esnya dibantu warga lain yang anaknya sudah lebih besar. Awalnya hanya warga yg menetap disini yang akan hadir namun H-1 warga yang belum menetap mau ikutan hadir. Begitulah cara kami, tidak mengada-ada, tidak menunggu semua ada, yang ada saja.
Kebetulan saya kebagian menampung dana iuran buka bersama. Meski sebenarnya dana ini bisa mereka salurkan lewat transfer namun mereka semua menyempatkan diri untuk mampir kerumah saya untuk bayar iuran dan tidak jarang sambil curhat colongan. Ada yang masih hamil tua jadi masih tinggal dirumah mertua, ada yang sudah menetap tapi kembali lagi menemani mertua karena bapak mertua meninggal, dan ibu bekerja yang juga harus ngurus rumah sendiri. Semakin jelas definisi rempong emak-emak disini.
Tapi satu hal yang sama adalah semangat membangun peradaban dilingkungan kami yang baru ini. Kebahagiaan yang sama ketika mengetahui mushola di lingkungan baru kami ini akan selesai pembangunannya. Semoga bisa menjadi pusat aktivitas pembangunan peradaban kelak.

Mengapa Harus Belajar jadi Ibu?

Sumber gambar : Google

Beberapa minggu terakhir ini saya mengikuti kelas tentang bagaimana menjadi ibu yang baik.

Apakah yang tidak mengikuti kelas ini berarti bukan ibu yang baik?

Tentu tidak, mungkin mereka sudah ada skill yang mumpuni untuk melakukan kegiatan seorang ibu yang bejibun. Tidak seperti saya yang masih semrawut, salah sana sini, perbaiki sana sini. Dan ternyata tidak hanya saya banyak sekali ibu-ibu muda yang seperti saya. Ini bukan hal membanggakan sebenarnya.


Klo diperhatikan, ibu-ibu yang mengikuti kelas online ini range usianya hampir sama, kelahiran tahun 80an-90an. Rata-rata mereka well educated, berpendidikan tinggi bahkan berkarir cemerlang, tapi yaaa mereka gagap dirumah, gagap menjalankan kewajiban yang seharusnya mereka jalani. Wegah menyusui, wegah mentatur, wegah menyediakan makanan bergizi dirumah, wegah menjadi manager rumah tangga mereka sendiri dan lebih nyaman dirumah orang tua agar supervisor rumah bisa sub kontrak kan pada orang tua mereka. Puluhan tahun mengurus kita dan sekarang harus mengurus rumah tangga kita juga. Ini tanda-tanda seorang wanita sudah jauh dari fitrahnya. Tentu penilaian ini tidak berlaku mutlak untuk semua (takutnya ada yang protes, nggak terima)


Pendidikan yang pernah saya ikuti dari TK sampai master tidak ada satu pun yang menyelipkan pendidikan mengelola rumah tangga. Saya masih ingat dulu Ibu saya pernah bercerita, dulu saat beliau sekolah pendidikan mengelola rumah tangga ini ada. Ditambah lagi dengan cara mendidik generasi kelahiran 80an-90an yang menitik beratkan pada pendidikan formal. Ada generasi dimana orang tuanya selalu berkata “ yang penting kamu fokus sekolah saja”.

Mungkin para orang tua dari generasi ini sudah mengajarkan bagaimana mengelola rumah tangga saat dirumah. Namun menjejalkan saja tidak cukup menjadikan generasi ini sadar mengapa mereka harus melakukan ini itu dirumah, kan sudah ada asisten rumah tangga. Ditambah lagi banyaknya les ini itu untuk menunjang pendidikan formal. Hampir tidak ada waktu untuk belajar mengelola rumah.


Apa ada yang salah dengan memfokuskan anak perempuan pada pendidikan formal? Apa mereka tidak boleh berpendidikan tinggi? Apa anak-anak perempuan hanya untuk mengurus rumah tangga saja?

Semua ini kesimpulan yang terburu-buru.


Semua orang di dunia ini diciptakan dengan peran peradaban mereka masing-masing. Apa peran peradaban perempuan?


Terbayang olehku bagaimana generasi nenek-nenek kita dulu begitu lincah menjadi manager rumah tangga, tidak semua mereka lakukan sendiri tapi mereka sendiri yang me-manage rumah tangga, segala keperluan rumah dan anak, dan tidak sedikit yang juga berperan diranah publik sebagai tenaga kesehatan, pengajar ataupun pedagang. Semua mereka lakukan tanpa belajar online dan segala informasi lewat internet. Intuisi yang kuat adalah andalan mereka.


Kenapa bisa? Bisa, karena fitrah perempuan memang lah diciptakan untuk menjadi manajer-manajer rumah tangga dengan talent multitasking. Ketika skill sebagai manajer rumah tangga ini diasah dengan baik dan bertemu dengan fitrah kita maka akan cemerlang hasilnya. Dengan terbiasa mengurus berbagai hal dirumah mereka cekatan juga saat harus diranah publik. Inilah yang disebut inside out, bukan menjejalkan atau outside in. Sebaliknya, fitrah pun bisa tertidur, pingsan, bahkan mati jika kita berjalan jauh dari amanah yang seharusnya kita jalani.


“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik” (Dodik Mardiyanto) 


Belum terlambat bagi ibu-ibu muda mengembalikan fitrah kita, tertatihlah dalam mengurus rumah kita sendiri agar terasah skill multitasking kita untuk menjadi manajer rumah tangga yang handal. Jadikan pendidikan pengelolaan rumah tangga sebagai kurikulum yang menyenangkan dan penuh value di rumah agar anak-anak kita tidak menjadi generasi yang jauh dari fitrahnya.  

Learning How to Learn

Sumber foto : Google

Sebuah ilmu baru bagi kami mengenai Learning How to Learn. Pada intinya ilmu ini mengajarkan kami untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan kami.

Ketika diminta membuat Design Pembelajaran bagi keluarga kami maka yang pertama saya lakukan adalah mengamati keluarga kami lalu membuka file portofolio anak kami. Dalam benak saya membuat kurikulum sesuai dengan kami seperti layaknya menyusun Personalized Curiculum yang merupakan hasil akhir dari penyusunan Portofolio Anak. Dan kesimpulan nya adalah kami belum memiliki cukup bahan untuk membuat Design Pembelajaran kami sendiri. Mengingat usia pernikahan kami yang alhamdullilah masih memasuki tahun ketiga.

Jika kami belum memiliki Design Pembelajaran khas keluarga kami bukan berarti tidak ada kurikulum yang berjalan pada keluarga kami selama ini. Sekitar akhir tahun 2016 kami berkesempatan belajar langsung dengan Ustadz Harry Santosa mengenai Fitrah Based Education, dimulai dari situ keluarga kami berproses bersama dengan Framework FBE. Saya rasa framework ini bisa digunakan siapa saja karena framework berisi tentang arahan, goal apa saja yang seharusnya kami capai yang sesuai dengan fitrah diri pada diri kita, sedangkan perkara teknis, yang bisa disebut sebagai Personalized Curiculum/ Kurikulum yang Gue Banget/ Design Pembelajaran (selanjutnya dalam tulisan ini saya sebut sebagai Design Pembelajaran) disesuaikan dengan keunikan keluarga masing-masing.

Berikut ini adalah framework Fitrah Based Education yang berjalan didalam keluarga kami. Sumber gambar FB Ustadz Harry Santosa.

Untuk menyusun Design Pembelajaran butuh waktu pengamatan yang panjang. Dalam pengamatan di kurun waktu yang panjang ini yang kami lakukan adalah Emisol.

EmISol, Empati-Imajinasi-Solusi..ulangi🏆
(Menyerap-mengolah-menyajikan…mulai lagi dari menyerap).

EMPATI (menyerap) adalah kegiatan berkehendak (niat tulus) yang dilakukan dengan antusias dan rasa penasaran tinggi untuk mau menyerap semua masukan dari panca indera. Namun  seringnya kita beri kegiatan MENDENGAR.

IMAJINASI (mengolah), merupakan kegiatan berpikir dan membuka wawasan. Bukan berpikir dengan berkerut kening dan menopang dagu seperti yang digambarkan selama ini. Ini adalah kegiatan menghubung-hubungkan hasil serapan dengan keadaan sehari-hari.

Selanjutnya tentu kita akan penasaran untuk mencobanya, inilah tahapan SOLUSI (menyajikan). Tahapan yang didorong rasa penasaran untuk mencoba. Tahapan yang akan membuka pintu-pintu hikmah dan kebijaksanaan.
SOLUSI yang apapun hasilnya kita ulangi lagi masuk ke tahap EMPATI. Terus melingkar dan terus mekar🌻.( Oleh Achmad Verzal, dalam EmISol).

Dari proses emisol ini yang kami susun portofolio anak kami dalam bentuk kumpulan foto, video, dan beberapa keterangan nya dalam bentuk slide powerpoint. Dalah satu portofolio anak kami

Sebagian besar masih dalam bentuk file foto dan video yang masih berserakan. Semua catatan aktivitas anak kami menjadi bahan penyusunan Design Pembelajaran keluarga kami. Karena anak adalah cerminan orang tuanya maka cara belajar kami kurang lebih seperti apa yang saya lihat dari anak kami. Sejauh ini yang kami pahami, kami adalah pembelajar tipe visual yang sangat senang belajar melalui pengalaman dan melihat secara langsung.

Proses pengamatan ini akan terus berlangsung hingga kami menemukan rumus unik bagi Design Pembelajaran kami. 

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Sumber foto : Google
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggotanya menuju peran peradabannya” (NHW#3, IIP)

Kalimat ini menyadarkan saya bahwa betapa besar tanggung jawab saya. Ternyata hidup ini bukan “let it flow” tapi ada misi yang kita emban. Dimulai dari diri kita lalu melingkar mekar bersama keluarga kecil kita kemudian lingkungan disekitar kita.


Seperti yang sudah dijelaskam di postingan sebelumnya hal yang pertama pwrlu dilakukan adalah kita perlu mengenali diri sendiri. Kemudian kenali pasangan kita, anak-anak kita dan lingkungan kita. Pahami mengapa Allah menganugerahkan kita pasangan, anak dan lingkungan tempat kita tinggal sekarang. Dari situ kita bisa melihat apa misi Allah untuk kita.


Merenungkan setiap poin itu satu persatu dan saya menyadari beberapa hal, tentang…

Aku

Bagi saya untuk bisa menentukan misi peradaban dimulai dari mengenali keunikan diri sendiri. Tapi entah kenapa kali ini rasanya sulit, beda dengan beberapa tahun lalu di sesi wawancara open rekruitmen sebuah instansi. Dulu menggebu-gebu, kata Sheila On 7 “kesombongan dimasa muda yang indah…”.

Dengan bantuan tools st30 dari www.temubakat.com saya tahu beberapa bakat produktif dan kelemahan saya saat ini. Saya dibantu Bunda Rima Melanie, santri Abah Rama (Founder Temu Bakat), untuk membaca hasil analisa bakat produktif saya. Disitu sebutkan saya orang yang kreatif penuh banyak ide dan bisa mengorganisasikan hal-hal yang ada di sekeliling saya agar bisa merealisisai ide saya. Kedua saya senang menganalisa, teman saya juga pernah mengatakan saya suka mengamati. Ketika saya tidak memiliki waktu untuk mengamati sekitar saya merasa kehilangan peran. Kelemahan saya juga dua tidak konsisten dan susah memulai hal baru karena terlalu senang menganalisa.

Pasangan Hidup

Garwo niku siGARaning nyoWO. Suami itu separuh nyawa kita. Saya yang susah memulai hal yang baru diberikan Allah anugerah suami orang yang pandai memanage waktu, cepat memulai hal baru, rajin memotivasi saya untuk memulai ide-ide baru saya. Itulah kenapa.

Kesamaan kami adalah anak rumahan yang suka traveling. Bukan kegemaran kami berlama-lama nongkrong diluar bersama teman-teman, dirumah bersama keluarga lebih nyaman. Menjelajahi tempat-tempat baru adalah kegemaran kami. Dan hal ini menurun pada anak kami.

Permata hatiku

Anakku permata hatiku. Ada yang bilang dia nangisan, bagiku dia memiliki hati yang peka. Tidak mudah bagi dia berbaur dengan orang baru dia lebih nyaman bersama keluarga dekatnya. Mungkin itu yang disebut buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi dia bisa cepat beradaptasi dengan alam bebas di darat maupun air meskipun dia belom bisa berenang dia tidak pernah takut dengan air.

Memiliki lelaki yang tidak takut banyak hal membuat saya belajar untuk tidak banyak menunjukkan rasa takut saya pada beberapa hal trauma saya saat kecil seperti takut hewan, takut gelap dan takut ketinggian.

Bakat menganalisa atau mengamati orang sekitar dulu sebelum kenal dekat yang menurun pada anak saya membuat saya belajar bagaimana dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan agar bisa memberi tauladan bagi anak saya.

It Take A Vilage to Rise a Child

Ini yang saya liat dari lingkungan saya. Saya harus mengajak lingkungan saya untuk ikut mendidik anak saya.

Alhamdulillah Allah menganugerahkan saya lingkungan baru dengan jumlah penduduk yang masih sedikit dan usianya kebanyakan mayoritas kurang lebih sama dengan saya sehingga saya lebih percaya diri untuk beradaptasi. Belajar mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Harapannya kedepannya saya bisa mengajak mereka belajar bersama, anak-anak nya belajar dan bermain bersama. Setiap orang tua disini memiliki kesadaran yang sama bahwa it takes a vilage to raise a child.


Apakah Anda sudah memahami misi hidup Anda?