Trimester Awal

Trimester awalku kini nggak jauh beda sama yang dulu. Semakin hari semakin mual. Mualnya semakin nggak kenal waktu, nggak kenal ketemu makanan enak atau nggak, nggak kenal orang baik wangi atau kecut. Tapi aku bersyukur karena sekarang aku punya banyaaak waktu untuk  throwback….

Tiga tahun yang lalu waktu aku mengandung Azzam, aku masih kerja dan nyambi kuliah pascasarjana. Aku tinggal di kos bareng temen-temen kantor. Suamiku di Cilacap. Yes, long distance marriage dan alhamdulillah dititipin Azzam di perut. Dan yah trimester awal dengan keadaan seperti itu sungguh AMAZING DUDE!

Di trimester awal aku nggak bisa makan apa-apa. Iya semua keluar lagi, byasanya setelah pulang kantor sekitar jam setengah enam sore. Padahal pulang jam segitu adalah aib buat tempat kerja aku dulu. Aku pulang dan muntah-muntah. Muntah sampai nggak ada yang dimuntahkan dan lemes sendiri di kamar, secara temen-temen masih pada di kantor. 

Semakin hari aku nggak bisa ngebauk aroma orang dewasa. Padahal di kantor ketemu banyak orang. Padahal mbak dan mas nya wangi-wangi dan cantik mbak-mbak nya, tetep aku muntah bisa pagi siang atau sore. Betapa berisiknya aku di kantor ya. Semoga Allah membalas kesabaran temen-temen sekantor aku dulu dengan hal yang lebih baik dari Allah. 

Makan. Aku nggak bisa makan apa-apa kecuali susu hamil yang aku muntahin cuma itu. Byasanya tiap jumat, pas cowok-cowok kita cewek-cewek main ke mall sebelah buat jajan. Temen-temen aku pada jajan dan aku cuma ngliatin dengan tatapan ngeri nggak tahan baiknya makanan. Karena saran temen-temen akhirnya aku beli ice cream. Finally sebelum balik ke kantor mereka nungguin aku yang lagi di kamar mandi. Ngapain lagi klo bukan… Ya ice cream aja kluar semua. 

Aku nggak ada waktu buat screening gizi yang aku makan. Waktu itu yang pikirkan, yang penting aku makan meski akhirnya kluar lagi. Sampai trimester awal terlewati. Ini bukanlah cara yang terbaik tentu! Tapi itu yang terbaik yang bisa aku lakukan dengan kondisi seperti itu. 

Dan sekarang aku dirumah, bisa selonjoran waktu mual. Sambil liat tingkah anakku yang lucu yang adaaa aja. Aku nggak pernah muntah cuma sebatas mual. Aku bisa screening gizi yang masuk dalam tubuhku. Fokus tidak terpecah belah. Seberat apapun hari ini, aku merasa beruntung karena ini sudah lebih baik dari hariku yang kemarin. 

Dan karena aku tau berat menjadi ibu sekaligus bekerja maka aku sangat senang klo ada temen-temen yang memilih fokus dirumah bersama keluarga. Dan karena hal yang sama juga, aku sangat menghargai temen-temen yang masih bekerja sekaligus menjadi ibu. 

Dan karena hal yang sama juga, aku merasa sangat sakit hati klo ada yang bilang “menjadi ibu rumah tangga lebih mulia dari ibu bekerja”. Kebayang nggak sih susah payah mengandung sambil kerja, dan menyusui sambil kerja terus ada yang bilang kayak gitu. 

Kita nggak tahu perjuangan yang mereka hadapi dan kita nggak tahu apa yang Allah kehendaki.

QS Al-Baqarah : 119 – Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Bashiran wa nadhiran, berita gembira dan peringatan. 

Itulah yang seharusnya kau gunakan jika ingin mengajak seseorang ke jalan Allah. Berikan peringatan tentu boleh, jangan lupa dengan kabar gembira. Karena secara fitrah itulah tugas manusia di bumi. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s