Memahami Home Based Education dan Fitrah Based Education

Beberapa teman menanyakan apa itu Fitrah Based Education? Ada juga yg menanyakan apa itu Home Based Education?

Tadi pagi saya coba Googling sudah ada beberapa blog dengan SEO paling atas yang menuliskan kembali materi pokok pertama dari kelas matrikulasi komunitas Home Education Based Akhlak and Talent (HEbAT). Teman-teman bisa Googling dengan keyword “Apa itu Home Education” sesuai dengan judul materi matrikulasi pertama.

Namun disini saya ingin bercerita tentang hasil belajar saya dan keluarga saya tentang Home Based Education (HE) dengan bahasa saya sendiri agar mudah dipahami saya dan pembaca tentunya.

Sedikit cerita dulu ya tentang background keluarga kami hehe. Memiliki teman-teman yang sholeh sungguh suatu anugrah yang perlu disyukuri yang terus memberikan informasi tentang tempat kajian parenting, tempat sekolah yang bagus untuk anak-anak kelak, sekolah parenting yang Islami, kelas tahfidz namun sayang sebagian besar tidak terjangkau lokasinya dari tempat kami tinggal.

Sampai akhirnya Ustadz Harry Santosa mengisi kuliah WhatsApp di grup WhatsApp Diskusi Emak Kekinian memperkenalkan Home Based Education. Beliau menjelaskan bahwasannya pendidikan itu berawal dari rumah, dari orang tua kepada anak, disitu saya baru sadar seharusnya saya tidak perlu bergantung dengan berbagai sekolah diluar sana untuk menjadikan anak saya menjadi anak yang terdidik serta dan sholeh. 
HE ini bukan merupakan pilihan tapi suatu keharusan bagi semua orang tua. Bukan merupakan pilihan seperti memilih Homeschooling atau sekolah formal, sekolah negeri atau swasta.

Nah setelah mengetahui tentang keharusan HE bagi setiap orang tua lalu pertanyaan berikutnya, bagaimana cara memulai nya? Mampukah saya orang tua baru yang ilmunya baru berdasarkan teori-teori parenting saja?

Teman-teman, mungkinkah Allah memberikan amanah diluar kemampuan kita. Allah memberikan kita amanah berupa seorang anak sudah sepaket dengan kemampuan kita untuk mendidik secara syar’i. Maka yang kita lakukan di HE bukahlan hal yang luar byasa karena kita hanya menjalankannya hal yang semestinya orang tua lakukan. Hanya saja menjadi luar biasa karena sekarang ini sudah jarang dilakukan dan para orang tua kehilangan kepercayaan dirinya untuk melakukan hal yang semestinya dilakukan  Hal yang biasa dilakukan orang tua adalah mendidik, mendengarkan, melayani (usia 0-7 thn), menyayangi, bermain, dan berkomunikasi dan semuanya itu dilakukan sebagai perantara HE bukan aktivitas keseharian tanpa tujuan dan makna.

Dan yang penting kita ketahui lagi adalah proses kita mendidik anak bukanlah proses outside in namun inside in.

Nah kita bahas satu-satu
Konsep pendidik outside in maksudnya memasukkan pemahaman pada anak dari orang tua ke anak karena memandang anak sebagai Tabula Rasa atau kertas kosong sehingga harus kita beri berbagai macam pemahaman tentang berbagai macam hal. Tema ini diangkat John Locke seorang filsuf barat pada esai nya yang membahas tentang pemahaman manusia.
Sayangnya ini banyak dijadikan acuan orang tua saat ini. Kenapa sayang? Ayuk kita bahas lebih jauh lagi.

Sebelum membahas tentang konsep mendidik secara inside in, mari kita simak ayat Al Qur’an berikut ini

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٣٠

( 30 ) Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allahyang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS 30:30)

Jadi jelas bagi kita bahwa pendidikan berdasarkan fitrah ini sudah ada sejak lama sejak Al Qur’an ini diturunkan. Dari sini dapat kita pahami bahwa setiap manusia yang diciptakan lahir dengan fitrahnya. Perlu “pendidikan” untuk mengeluarkan fitrahnya tersebut. 
Ketika muncul kata “pendidikan” lalu dibenak kita adalah seorang anak dengan seragam sekolah duduk rapi di kelas maka kita perlu mengkaji awal pemahaman kita tentang pendidikan itu sendiri. Sekali lagi pendidikan ini berawal dari rumah dengan orang tua sebagai pendidik itu yang disebut Home Based Education. Jika sudah ingat mari kita lanjut pembahasan kita.

Tugas kita sebagai orang tua adalah mendampingi dan mengeluarkan fitrah anak-anak kita sehingga berkembang dengan baik hingga dia mencapai aqil dan baligh secara bersamaan.

Nah sekarang masuk kebahasan Fitrah Based Education (FBE). FBE ini adalah pendidikan berdasarkan fitrah seorang anak sehingga potensi dan bakat alamiah anak dapat dikembangkan karena setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda.

Sebuah fakta menarik perhatian saya bahwa pendidikan berbasis fitrah inilah yang dipakai anak-anak Indonesia dahulu sayangnya yang dikembangkan hingga sekarang adalah adopsi dari pendidikan barat.

“Sistem pendidikan dan pengajaran Indonesia harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat, Nusa dan bangsa, kepentingan hidup kebudayaan dan hidup kemasyarakatan dalam arti seluas-luasnya. Maka harus diingat adanya perbedaan bakat dan keadaan hidup antara anak didik yang satu dengan yang lain (daerah pertanian, perdagangan, pelayaran, dan lain-lain). Maka perlu diadakan diferensiasi untuk memperbesar kemanfaatan bagi anak didik, maupun masyarakat dan negara” Ki Hajar Dewantoro (Fitrah Based Education, 105)

Ada berbagai konsep fitrah dari beberapa ulama yang kemudian diformulasikan kembali dalam buku Fitrah Based Education karya Ustadz Harry Santosa menjadi 8 klasifikasi fitrah manusia yaitu:

1. Fitrah Keimanan
2. Fitrah Belajar dan bernalar
3. Fitrah bakat
4. Fitrah perkembangan
5. Fitrah seksualitas dan cinta
6. Fitrah Estetika dan Bahasa
7. Fitrah Individual dan Sosial
8. Fitrah fisik dan Indera

Akan kita bahas bersama-sama satu per satu klasifikasi fitrah dengan santai sambil ngeteh di teras rumah sambil membersamai anak-anak bermain air di taman. Di tulisan berikutnya.

Keep relax, optimis and Happy

Advertisements