Bahasa Kasih dan Menyapih


Hari ini adalah hari ketiga anakku telah melalui proses sapihnya. Hari pertama berlangsung cukup melelahkan bagi kami bertiga. Hari kedua di siang hari anakku masih belom rela melepas ibunya, masih terjadi nangis-nangis sampai sore dan terjadi lagi menjelang pagi hari.

Pada dasarnya hal ini memang wajar terjadi untuk anak yang baru disapih tapi bukan berarti tidak perlu dicari jalan keluarnya kan. Karena konsep boleh jadi sama tapi “cara” setiap keluarga bahkan setiap anak itu berbeda dan harus dicari “cara” nya ini.

Kebetulan Jumat ini saya ada kuliah WhatsApp bersama Bunda Umi Sholihah tentang Bahasa Kasih bersama teman-teman Belajar HE, grup yang saya buat untuk memfasilitasi teman-teman saya belajar memahami HE

“Setiap orang mempunyai kebutuhan emosional utk dihargai, diakui & diperhatikan. Dalam konteks bahasa kasih ini disebut tangki kasih.
Bila tangki kasih seseorang penuh, maka ia menjadi positif & siap memunculkan potensi terbaik dlm dirinya, sebaliknya bila ia kosong maka seringnya relasi antara pasangan mjd kurang harmonis” bunda Umi Sholihah dalam kulwap Memahami HE.

Dua hari ini dia tidak tidur bersama ibu, maka kurang sudah waktu bersama ibu. Mungkin tangki kasih anakku mulai kosong.

“Ada 5 Tipe Bahasa Kasih antara lain;
1.  Kata Pendukung
2. Waktu Berkualitas
3. Pelayanan
4. Menerima Hadiah
5. Sentuhan Fisik

_Bahasa kasih merupakan cara seseorang mengekspresikan & menerima rasa cinta ataupun perhatian dari dan kepada orang lain._” Bunda Umi Sholihah dalam kulwap Memahami HE.

Anakku adalah anak yang bahasa kasihnya adalah sentuhan. Biasanya dia suka memeluk ayah dan ibu. Maka hari ini ibu yang memeluk duluan, memangku sambil nonton filmn sampai dia tertidur, jalan-jalan sambil digendong dan berpegangan tangan, diusap kepalanya. 
Dengan tetap berusaha positif thinking kami bisa melewati semua ini dengan baik.

MasyaAllah malam ini, tanpa perlu nangis-nangis lagi, dia cuma minta diantar kekamar dan tertidurlah dia. Alhamdullilah ilmu hari ini langsung dipraktekkan dan bermanfaat. Selanjutnya tantangan konsistensi kami sebagai orang tua.

Semoga sharing ini juga bermanfaat untuk teman-teman.

Menyapih dengan Cinta

Ini kisah kami bertiga.

Malam ini 8 Maret 2017 anakku genap usia 2 tahun. Seolah tahu inilah hari terakhir dia menyusu sejak kemaren hampir 24 jam dia menyusu. Iya, aku sampai kesulitan mandi, makan dan sholat, menangis dan menyusu.

Sore tadi badan sudah kepayahan dan sempoyongan “Ayah Ibu sudah nggak sanggup, please pulang sekarang” WhatsApp message sent.
Kondisi di rumah benar-benar sudah kacau, tidak ada yang beres dan aku kepayahan.

Sampainya Ayah dirumah, serangkaian bunga sedikit mengobati jiwa dan raga yang mulai tidak waras, alhamdullilah besok tepat tiga tahun kami menikah. Kami memutuskan untuk keluar membeli sedikit cemilan pelipur lara.

Jalanan sepi diiringi murrotal dari salah satu stasiun radio kami putuskan ini saatnya anakku harus benar-benar disapih. Sebelumnya kami sudah diskusikan, bagaimana itu menyapih dengan cinta, sounding kepada anak dari berbulan-bulan yang lalu tapi anak seolah belum mau melepas ibunya malah puncaknya begini hari ini. Kami memutuskan membeli gelas cup yang lucu dan nyaman untuk anak persediaan di kamar sebagai pengganti menyusu ASI.

Diperjalanan pulang murrotal masih mengalun kami berdua masing-masing berzikir meminta kemudahan pada Allah. Perjalanan begitu hening dan nikmat. Sesampainya dirumah murrotal langsung kami perdengarkan, agar hati dan pikiran tetap tenang. Kami siapkan susu dan air putih dengan gelas cup lucu yang sudah dibersihkan dengan air hangat. Semua siap anak tidur dengan Ayah. Ibu tidur sendiri di kamar lain dan masing-masing pintu dikunci.

Terdengar tangisan anakku, menggedor-gedor pintu, hati ibu mana yang tidak teriris-iris. Kubuka mushaf dan kupilih Al Baqarah ayat  terakhir sebagai dzikirku malam ini,
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
(QS Al Baqarah ayat 286)

sampai lelah dan tak sengaja mushaf tertutup, kubuka lagi dan Allah menunjukkan ku pada satu ayat

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS Al Baqarah ayat 233)

Allahuakbar, benar ya Allah aku yakin dan aku tahu tapi anakku menangis sudah hampir satu jam salahkah aku…

“….Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian…” (QS Al Baqarah ayat 233)

Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya. Teringat kondisiku hari ini yang kepayahan luar byasa. Diluar sana terdengar anakku yang masih saja menangis, dan aku sedih. Tapi ya Allah, bukankah memang ini tugas kami, salahkah kami menyapihnya sekarang.

“…Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS Al Baqarah ayat 233)

Allahuakbar, tidak ada satu hal pun yang tidak kita temui jawabannya di Al Qur’an. Aku yakin ya Allah, Engkau tuntun aku maka Engkau pula yang menuntun anakku.

Malam semakin hening tidak lagi ada suara tangisan, aku mengendap-endap ke kamar sebelah dan anakku tidur pulas dengan ayahnya. Basah air mata ini. Dalam sujudku di malam ini ya Allah, aku tidak tahu apa yang terjadi esok apakah anakku akan minta menyusu lagi pada ibunya atau tidak tapi kami bertiga belajar banyak hal malam ini. Sekarang kami paham arti dari menyapih dengan cinta.

Bahwa cinta adalah ketaatan Allah. Cinta adalah penghambaan kepada Allah. Cinta adalah bentuk keberserah diri kepada Allah. Menyapih dengan cinta adalah menyapih dengan mengajarkan anak atas ketaatan kepada Allah. Bentuk taat kepada Allah adalah mematuhk perintahnya bahwa sesuai perintah Allah didalam Al Qur’an, menyusu adalah selama dua tahun. Dan melibatkan Allah dalam setiap usaha termasuk dalam menyapih anak.

Kami tahu ini baru awal tapi ini awal yang luar biasa untuk kami bertiga. Alhamdulilahirabbilalamin.