Learning How to Learn

Sumber foto : Google

Sebuah ilmu baru bagi kami mengenai Learning How to Learn. Pada intinya ilmu ini mengajarkan kami untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan kami.

Ketika diminta membuat Design Pembelajaran bagi keluarga kami maka yang pertama saya lakukan adalah mengamati keluarga kami lalu membuka file portofolio anak kami. Dalam benak saya membuat kurikulum sesuai dengan kami seperti layaknya menyusun Personalized Curiculum yang merupakan hasil akhir dari penyusunan Portofolio Anak. Dan kesimpulan nya adalah kami belum memiliki cukup bahan untuk membuat Design Pembelajaran kami sendiri. Mengingat usia pernikahan kami yang alhamdullilah masih memasuki tahun ketiga.

Jika kami belum memiliki Design Pembelajaran khas keluarga kami bukan berarti tidak ada kurikulum yang berjalan pada keluarga kami selama ini. Sekitar akhir tahun 2016 kami berkesempatan belajar langsung dengan Ustadz Harry Santosa mengenai Fitrah Based Education, dimulai dari situ keluarga kami berproses bersama dengan Framework FBE. Saya rasa framework ini bisa digunakan siapa saja karena framework berisi tentang arahan, goal apa saja yang seharusnya kami capai yang sesuai dengan fitrah diri pada diri kita, sedangkan perkara teknis, yang bisa disebut sebagai Personalized Curiculum/ Kurikulum yang Gue Banget/ Design Pembelajaran (selanjutnya dalam tulisan ini saya sebut sebagai Design Pembelajaran) disesuaikan dengan keunikan keluarga masing-masing.

Berikut ini adalah framework Fitrah Based Education yang berjalan didalam keluarga kami. Sumber gambar FB Ustadz Harry Santosa.

Untuk menyusun Design Pembelajaran butuh waktu pengamatan yang panjang. Dalam pengamatan di kurun waktu yang panjang ini yang kami lakukan adalah Emisol.

EmISol, Empati-Imajinasi-Solusi..ulangi🏆
(Menyerap-mengolah-menyajikan…mulai lagi dari menyerap).

EMPATI (menyerap) adalah kegiatan berkehendak (niat tulus) yang dilakukan dengan antusias dan rasa penasaran tinggi untuk mau menyerap semua masukan dari panca indera. Namun  seringnya kita beri kegiatan MENDENGAR.

IMAJINASI (mengolah), merupakan kegiatan berpikir dan membuka wawasan. Bukan berpikir dengan berkerut kening dan menopang dagu seperti yang digambarkan selama ini. Ini adalah kegiatan menghubung-hubungkan hasil serapan dengan keadaan sehari-hari.

Selanjutnya tentu kita akan penasaran untuk mencobanya, inilah tahapan SOLUSI (menyajikan). Tahapan yang didorong rasa penasaran untuk mencoba. Tahapan yang akan membuka pintu-pintu hikmah dan kebijaksanaan.
SOLUSI yang apapun hasilnya kita ulangi lagi masuk ke tahap EMPATI. Terus melingkar dan terus mekar🌻.( Oleh Achmad Verzal, dalam EmISol).

Dari proses emisol ini yang kami susun portofolio anak kami dalam bentuk kumpulan foto, video, dan beberapa keterangan nya dalam bentuk slide powerpoint. Dalah satu portofolio anak kami

Sebagian besar masih dalam bentuk file foto dan video yang masih berserakan. Semua catatan aktivitas anak kami menjadi bahan penyusunan Design Pembelajaran keluarga kami. Karena anak adalah cerminan orang tuanya maka cara belajar kami kurang lebih seperti apa yang saya lihat dari anak kami. Sejauh ini yang kami pahami, kami adalah pembelajar tipe visual yang sangat senang belajar melalui pengalaman dan melihat secara langsung.

Proses pengamatan ini akan terus berlangsung hingga kami menemukan rumus unik bagi Design Pembelajaran kami. 

Advertisements

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Sumber foto : Google
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggotanya menuju peran peradabannya” (NHW#3, IIP)

Kalimat ini menyadarkan saya bahwa betapa besar tanggung jawab saya. Ternyata hidup ini bukan “let it flow” tapi ada misi yang kita emban. Dimulai dari diri kita lalu melingkar mekar bersama keluarga kecil kita kemudian lingkungan disekitar kita.


Seperti yang sudah dijelaskam di postingan sebelumnya hal yang pertama pwrlu dilakukan adalah kita perlu mengenali diri sendiri. Kemudian kenali pasangan kita, anak-anak kita dan lingkungan kita. Pahami mengapa Allah menganugerahkan kita pasangan, anak dan lingkungan tempat kita tinggal sekarang. Dari situ kita bisa melihat apa misi Allah untuk kita.


Merenungkan setiap poin itu satu persatu dan saya menyadari beberapa hal, tentang…

Aku

Bagi saya untuk bisa menentukan misi peradaban dimulai dari mengenali keunikan diri sendiri. Tapi entah kenapa kali ini rasanya sulit, beda dengan beberapa tahun lalu di sesi wawancara open rekruitmen sebuah instansi. Dulu menggebu-gebu, kata Sheila On 7 “kesombongan dimasa muda yang indah…”.

Dengan bantuan tools st30 dari www.temubakat.com saya tahu beberapa bakat produktif dan kelemahan saya saat ini. Saya dibantu Bunda Rima Melanie, santri Abah Rama (Founder Temu Bakat), untuk membaca hasil analisa bakat produktif saya. Disitu sebutkan saya orang yang kreatif penuh banyak ide dan bisa mengorganisasikan hal-hal yang ada di sekeliling saya agar bisa merealisisai ide saya. Kedua saya senang menganalisa, teman saya juga pernah mengatakan saya suka mengamati. Ketika saya tidak memiliki waktu untuk mengamati sekitar saya merasa kehilangan peran. Kelemahan saya juga dua tidak konsisten dan susah memulai hal baru karena terlalu senang menganalisa.

Pasangan Hidup

Garwo niku siGARaning nyoWO. Suami itu separuh nyawa kita. Saya yang susah memulai hal yang baru diberikan Allah anugerah suami orang yang pandai memanage waktu, cepat memulai hal baru, rajin memotivasi saya untuk memulai ide-ide baru saya. Itulah kenapa.

Kesamaan kami adalah anak rumahan yang suka traveling. Bukan kegemaran kami berlama-lama nongkrong diluar bersama teman-teman, dirumah bersama keluarga lebih nyaman. Menjelajahi tempat-tempat baru adalah kegemaran kami. Dan hal ini menurun pada anak kami.

Permata hatiku

Anakku permata hatiku. Ada yang bilang dia nangisan, bagiku dia memiliki hati yang peka. Tidak mudah bagi dia berbaur dengan orang baru dia lebih nyaman bersama keluarga dekatnya. Mungkin itu yang disebut buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi dia bisa cepat beradaptasi dengan alam bebas di darat maupun air meskipun dia belom bisa berenang dia tidak pernah takut dengan air.

Memiliki lelaki yang tidak takut banyak hal membuat saya belajar untuk tidak banyak menunjukkan rasa takut saya pada beberapa hal trauma saya saat kecil seperti takut hewan, takut gelap dan takut ketinggian.

Bakat menganalisa atau mengamati orang sekitar dulu sebelum kenal dekat yang menurun pada anak saya membuat saya belajar bagaimana dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan agar bisa memberi tauladan bagi anak saya.

It Take A Vilage to Rise a Child

Ini yang saya liat dari lingkungan saya. Saya harus mengajak lingkungan saya untuk ikut mendidik anak saya.

Alhamdulillah Allah menganugerahkan saya lingkungan baru dengan jumlah penduduk yang masih sedikit dan usianya kebanyakan mayoritas kurang lebih sama dengan saya sehingga saya lebih percaya diri untuk beradaptasi. Belajar mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Harapannya kedepannya saya bisa mengajak mereka belajar bersama, anak-anak nya belajar dan bermain bersama. Setiap orang tua disini memiliki kesadaran yang sama bahwa it takes a vilage to raise a child.


Apakah Anda sudah memahami misi hidup Anda?