Mengapa Harus Belajar jadi Ibu?

Sumber gambar : Google

Beberapa minggu terakhir ini saya mengikuti kelas tentang bagaimana menjadi ibu yang baik.

Apakah yang tidak mengikuti kelas ini berarti bukan ibu yang baik?

Tentu tidak, mungkin mereka sudah ada skill yang mumpuni untuk melakukan kegiatan seorang ibu yang bejibun. Tidak seperti saya yang masih semrawut, salah sana sini, perbaiki sana sini. Dan ternyata tidak hanya saya banyak sekali ibu-ibu muda yang seperti saya. Ini bukan hal membanggakan sebenarnya.


Klo diperhatikan, ibu-ibu yang mengikuti kelas online ini range usianya hampir sama, kelahiran tahun 80an-90an. Rata-rata mereka well educated, berpendidikan tinggi bahkan berkarir cemerlang, tapi yaaa mereka gagap dirumah, gagap menjalankan kewajiban yang seharusnya mereka jalani. Wegah menyusui, wegah mentatur, wegah menyediakan makanan bergizi dirumah, wegah menjadi manager rumah tangga mereka sendiri dan lebih nyaman dirumah orang tua agar supervisor rumah bisa sub kontrak kan pada orang tua mereka. Puluhan tahun mengurus kita dan sekarang harus mengurus rumah tangga kita juga. Ini tanda-tanda seorang wanita sudah jauh dari fitrahnya. Tentu penilaian ini tidak berlaku mutlak untuk semua (takutnya ada yang protes, nggak terima)


Pendidikan yang pernah saya ikuti dari TK sampai master tidak ada satu pun yang menyelipkan pendidikan mengelola rumah tangga. Saya masih ingat dulu Ibu saya pernah bercerita, dulu saat beliau sekolah pendidikan mengelola rumah tangga ini ada. Ditambah lagi dengan cara mendidik generasi kelahiran 80an-90an yang menitik beratkan pada pendidikan formal. Ada generasi dimana orang tuanya selalu berkata “ yang penting kamu fokus sekolah saja”.

Mungkin para orang tua dari generasi ini sudah mengajarkan bagaimana mengelola rumah tangga saat dirumah. Namun menjejalkan saja tidak cukup menjadikan generasi ini sadar mengapa mereka harus melakukan ini itu dirumah, kan sudah ada asisten rumah tangga. Ditambah lagi banyaknya les ini itu untuk menunjang pendidikan formal. Hampir tidak ada waktu untuk belajar mengelola rumah.


Apa ada yang salah dengan memfokuskan anak perempuan pada pendidikan formal? Apa mereka tidak boleh berpendidikan tinggi? Apa anak-anak perempuan hanya untuk mengurus rumah tangga saja?

Semua ini kesimpulan yang terburu-buru.


Semua orang di dunia ini diciptakan dengan peran peradaban mereka masing-masing. Apa peran peradaban perempuan?


Terbayang olehku bagaimana generasi nenek-nenek kita dulu begitu lincah menjadi manager rumah tangga, tidak semua mereka lakukan sendiri tapi mereka sendiri yang me-manage rumah tangga, segala keperluan rumah dan anak, dan tidak sedikit yang juga berperan diranah publik sebagai tenaga kesehatan, pengajar ataupun pedagang. Semua mereka lakukan tanpa belajar online dan segala informasi lewat internet. Intuisi yang kuat adalah andalan mereka.


Kenapa bisa? Bisa, karena fitrah perempuan memang lah diciptakan untuk menjadi manajer-manajer rumah tangga dengan talent multitasking. Ketika skill sebagai manajer rumah tangga ini diasah dengan baik dan bertemu dengan fitrah kita maka akan cemerlang hasilnya. Dengan terbiasa mengurus berbagai hal dirumah mereka cekatan juga saat harus diranah publik. Inilah yang disebut inside out, bukan menjejalkan atau outside in. Sebaliknya, fitrah pun bisa tertidur, pingsan, bahkan mati jika kita berjalan jauh dari amanah yang seharusnya kita jalani.


“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik” (Dodik Mardiyanto) 


Belum terlambat bagi ibu-ibu muda mengembalikan fitrah kita, tertatihlah dalam mengurus rumah kita sendiri agar terasah skill multitasking kita untuk menjadi manajer rumah tangga yang handal. Jadikan pendidikan pengelolaan rumah tangga sebagai kurikulum yang menyenangkan dan penuh value di rumah agar anak-anak kita tidak menjadi generasi yang jauh dari fitrahnya.