Sebuah Metafora Kehidupan

Siang itu dadaku terasa panas, sepanas udara kota pahlawan kebanggaanku ini. Disusul degup jantung yang terasa lebih cepat, nafas mulai tersengal-sengal, disusul kepala yang mulai pening. Arrrrrghhhhh…

Klo digambarkan di komik-komik jepang, bola mataku sudah berubah jadi api yang membara lalu dsri kedua lubang hidungku keluar asap yang mengepul. Orang jawa bilang, kesetanen, sebutan untuk orang yang emosinya meluap-luap.

Jika tidak ingat ada anak yang meneladani tindak tanduk sudah meluncur 1001 kata pamungkas ala kota pahlawan. Jika tidak ingat kalimat thoyyibah sudah kusebut semua jenis hewan di kebun binatang. Dan akhirnya kepalaku makin sakiit, pening, menahan emosi dalam diriku sendiri. Arrrrghhhh, sambil menahan sakit kepala air mata bercucuran.

Tahukah kalian bahwa saptitank, tempat buang terakhir kotaran kamar mandi kalian memiliki lubang udara? Mengapa lubang udara itu dibuat? Ya, karena kotoran ini menghasilkan gas yang jika dalam waktu lama berada dalam ruangan tertutup akan menghasilkan ledakan. Sama seperti emosimu.

Bercerita tentang kehidupan keluarga kita merupakan membuka aib keluarga kita. Tapi apa jadinya jika luka ini di pendam, dan emosi ini terus menerus berada dalam tubuh kita tanpa tersalurkan? Tidak ada yang diajak diskusi, tidak boleh pasang status, tidak cerita dengan orang lain. Apa yang akan terjadi?

Bererita aib keluarga kita kepada orang lain belum tentu mendapatkan tanggapan yang kita harapkan, tapi bermu ajat pada-Nya dalam keadaan emosi meluap-meluap apakah mungkin?

Wah ini pasti gangguan syaithon, pikirku.

Bulan demi bulan pun berlalu.

Hari yang mengerikan itu berakhir dengan aku tidur karena kelelahan.

Tak terasa kini sudah sampai bulan Ramadhan. Dimana syaithan dibelenggu oleh Allah.

Seharusnya di bulan ini aku menjadi orang yang waras sepenuhnya. Karena tak ada satupun syaithan yang menggangguku.

Sampai pada malam itu tiba

Aku bahkan tak bisa mengingatnya persoalan awal tapi yang aku ingat, dadaku mulai panas, lagi, jatungku mulai berdegup kencang, lagi, nafas mulai tersengal-sengal, lagi, persis seperti siang itu.

Tunggu, ini Bulan Ramadhan, maka aku tidak bisa lagi meng kambing hitamkan syaithan atas kelakuanku. Ini adalah aku. Dan ah betapa memalukannya diriku. Ini adalah Ramadhan bulan dimana aku bisa melihat siapa diriku sebenarnya, bulan dimana aku tidak bis menyalahkan siapapun kecuali diriki sendiri atas segala maksiat yang aku lakukan. Ah maluuunya aku.

Aku pun tertunduk malu, tapi disisi diriku ada rasa tak berpuas diri jika tidak menyalurkan emosi dan menyikiti hati orang lain, sebagai balasannya hati ini yang merasa disakiti.

Nah siapa dia? Siapa yang memberikan bisikan jelek itu?

Sekali lagi aku tetunduk malu, itu diriku sendiri yang memberikan bisikan jelek. Karena dibulan ini aku tak bisa menyalahkan siapapun kecuali mengakui ya ini aku, yang hina.

Ini masih Ramadhan, aku masih bernafas, jantu gku masih berdetak, nampaknya Allah masih memberi aku kesempatan untuk mencuci bersih hatiku. Mengurung rapat-rapat diriku yang penuh kebencian itu.

Entah bagaiamana caranya

(Sebuah metafora kehidupan, by liya dewi 2018)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s