Tempat Parkir, Penutup Pintu Rejeki


Ini bukan analogi, ini tulisan memang tentang tempat parkir yang ternyata bisa jadi penutup dan pembuka pintu rejeki

Sering nggak, kita mengalami kesulitan mencari tempat parkir, di daerah padat pertokoan? Sering pakek banget ya.

Sering nggak, kita parkir kendaraan di depan toko yang bukan tempat tujuan kita? Sering juga kan ya? Sama kalau begitu 😊

Sering nggak, ada perasaan sungkan sudah parkir di depan toko yang tidak menjadi tempat kunjungan kita? Sering kan ya, nggak enak gitu rasanya. 

Sering nggak, pada akhirnya meluangkan waktu untuk beli di toko dimana kita memarkirkan kendaraan, padahal sebelumnya tidak ada rencana untuk beli barang di toko itu? Sering ya, itung-itung bagi rejeki, rasa terimakasih, menutupi rasa sungkan kita tadi. 

Sayangnya tidak semua orang menyadari hal ini.

Siang ini, saya dan anak saya membeli jus buah di toko langganan. Letaknya didaerah pertokoan kecamatan Kebomas yang tidak pernah sepi. 

Mula-mula saya parkir di depan toko tambal ban yang selang satu toko dari toko jus buah, karena mau sekalian pompa ban motor saya. Hehe masih enak bikers saya. Ternyata tutup tokonya, yasudah saya berdoa ban motor aman sampai dirumah. 

Agar tidak terlalu jauh saya geser sedikit tempat saya memarkir motor. Saya perhatikan toko di depan tempat saya parkir, rupanya toko ini jual plastik dan gula, karena tokonya gelap dan meletakkan dagangan agak masuk jadi tidak nampak dari luar. Sepertinya, nanti mampir beli gula disini. Wah enak ney bisa dapat toko langganan gula disini, bisa belanja sambil beli jus, pikir saya begitu.

Seorang bapak-bapak mengamati saya memarkir motor, dan menyapa saya “arep tuku opo mbak?” (Mau beli apa mbak)

“Beli jus pak” balas saya senang karena sudah disapa. Kemudian bapak ini mengibaskan tangannya memberi isyarat agar saya memindahkan motor saya sambil memalingkan muka. 

Sempat saya berpikir beberapa detik, o saya disuruh pindah, aka diusir rupanya. Wah sudah geer disapa pemilik toko ternyata disuruh pindah hehe. Akhirnya saya pindah motor ke depan toko jus dengan berdesakan dengan motor yang lain. 

Singkat cerita saya sudah selesai dan beli jus di toko tersebut. Diperjalanan pulang saya baru ingat tadi seharusnya saya beli gula di toko sebelah toko jus tadi. 

Saya berpikir, seandainya si bapak dengan legowo meminjamkan parkiran barang beberapa menit mungkin ada rejeki yang mampir padanya lewat saya. Wah saya jadi perasaan enggan mendekati toko tersebut. 

Lalu saya amati toko-toko di sepanjang jalan ternyata memang ada beberapa toko yang memasang pembatas parkir untuk tokonya. Saya mencoba menggunakan pola pikir penjual toko. Mungkin mereka berpikir jika tidak ada lahan parkir maka orang enggan untuk datang dan membeli. Saya setuju dengan hal ini.

Namun saya berpikir kembali menggunakan pola pikir konsumen. Seorang konsumen ketika membutuhkan sesuatu dan dia tahu dimana mendapatkan barang tersebut, meskipun harus parkir lebih jauh dia tidak akan keberatan, bahkan sampai parkir di toko sebelah nya membayar parkir plus ongkos sungkan, dengan membeli barang tempat dia parkir. 

Nah ketika seseorang parkir di depan toko kita, mereka melihat etalase kita, barang apa saja yang ada disana, ini adalah proses edukasi kepada konsumen mengenai barang yang kita jual. Konsumen yang berdiri di depan toko kita jaraknya sangat dekat dengan etalase kita dan besar kemungkinan mereka mengamati apa yang kita jual. 

Lalu bagaimana membuat mereka yang numpang parkir ini akhirnya membeli? Salah satunya dengan kesungkanan hehe. Alih-alih kita mengusirnya dan berdampak seperti saya tadi enggan mampir dan artinya tidak mau beli, apalagi kalau tokonya ditulis di medsos hehe but I won’t, kenapa tidak kita sapa. “Mau cari apa mbak?” Dengan senyum 😊. Jika dia tidak mau membeli barang ditempat kita saat itu mungkin saat lain saat dia membutuhkan. Atau tawarkan new arrival atau barang yang sedang promo saat ini. “Lagi diskon pasmina mbak, mungkin mbaknya perlu untuk kondangan” klo lagi musim kondangan 😊. Sepertinya menyapa seperti itu lebih baik ya, untuk kesehatan jiwa kita kesehatan jiwa calon pelanggan, dan siapa tahu tiba-tiba Allah menitipkan rejeki kita pada pelanggan yang tidak kita duga. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s