My Parents and Me

Beberapa hal aku paham setelah hal itu lamaaa sekali dilewati.
Seperti saat-saat orang tua dan aku menjadi dua kubu yang saling berseberangan.

Pernah dengar teori generasi? Teori yang membagi generasi menjadi 4 kelompok.
Baby boomers, generasi Y, generasi X dan generasi C. Anak-anak seumuran aku itu termasuk generasi Y jadi orang tuanya rata-rata termasuk generasi baby boomers. Karakteristik generasi baby boomers yang menyukai harmony dan kedisiplinan bertemu dengan anak-anak penuh inovasi, ide-ide baru dan futuristik dimana dimasanya belum populer. Dari sini bisa kita lihat gap cara berpikir anak dan orang tua.

Meskipun berbeda cara berpikir, anak tetaplah cerminan dari orang tuanya. Cara bersikap, berperilaku dalam keseharian, berbicara, karena orang tuanya yang menjadi role model mereka. Sayangnya hal ini bisa mempertajam gap antara orang tua dan anak. 
Jika ada perbedaan pendapat tentang suatu hal orang tua berargumen dan sang anak dimana cerminan orang tuanya juga berargumen, begitu terus sampai muter-muter nggak ada habisnya hahaha.

Maka dari sini menurut saya gap antara anak dan orang tua itu wajar dan pasti pernah dialami siapa saja bahkan pada keluarga paling harmonis di dunia. Namun yang berbeda adalah cara kita menghadapinya.

Karena hal ini wajar maka tidak perlu yang namanya terlalu sedih berkepanjangan melihat kondisi ini jika kita sedang mengalaminya. 
Meskipun wajar bukan berarti tidak ada yang bisa mempersempit gap antara orang tua dan anak, mempersatukan keduanya sehingga menjadi harmonisasi yang indah. 
Hal itu bernama “Adab”.

Bukan kapasitas saya berbicara hal seberat tema adab ini, tapi ya anggap saja kita bercerita dari hati ke hati tsaah

Kita diajarkan tentang adab kepada orang tua. Dimana kita tetap diwajibkan berbakti kepada orang tua apapun kondisi mereka. Entah mereka berperangai baik ataupun buruk. Cocok nggak cocok pemikiran mereka dengan pendapat kita, dahulukan adab. 
Adab kita kepada orang tua itu dengan tidak berkata buruk atau tidak meninggikan suara, tidak melihat dengan tatapan tajam, tidak duduk ketika beliau berdiri, dan mendahulukan orang tua daripada diri sendiri untuk urusan duniawi. Cari sendiri sumber haditsnya ya…

Fitrah orang tua adalah mencintai anak-anak nya maka dengan menjalankan adab kepada orang tua sebaik-baiknya tentu bisa mencairkan setinggi-tingginya gunung es diantara orang tua dan anak.

Dan yang terakhir tapi perlu kita lakukan diawal, selalu dan terus menerus adalah tazkiyatun nafs. Si tazkiyatun nafs ini emang muncul terus-terusan ya. Karena ini benteng kita from bad demon. Biar syaitan yang nggak suka liat orang tua dan anak akur syuu syuuu go away.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s