Perbedaan Pembiasaan Ibadah dan Penanaman Value Ibadah Pada Anak

📚Resume Kulwap Diskusi Emak Kekinian📚
🌼Perbedaan Pembiasaan (conditioning) Ibadah dan Penanaman Value Ibadah Pada Anak🌼
📆14 Juni 2016
⌚16.15 WIB
👤Nara Sumber : Ustadz Adriano Rusfi
👥Moderator : Melinda Nurimmanisa
📝Notulen : Dewi Aprilia K.

👥Assalammualaikum warrahmatullah, selamat datang ust adriano rusfi.. 😃😊 Selamat datang di grup ibu-ibu yang haus ilmu untuk menjadi istri dan ibu terbaik.. 😊😊
Menanamkan keimanan dan kecintaan terhadap ibadah kepada anak memang merupakan tantangan tersendiri. Di satu sisi harus menjadikan anak terbiasa, dan di sisi lain harus tetap sarat makna agar ibadah tidak menjadi aktivitas ritualistik yang kehilangan jati dirinya.
Karena itu, di sore ini kita akan mengadakan diskusi mengenai:
Perbedaan pembiasaan (conditioning) ibadah dengan penanaman value ibadah pada anak,
Dipandu oleh bunda dessy sebagai moderator, dan saya Melinda sebagai co-momod.

👤Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ayahbunda sekalian yang baik, belakangan ini kita sering menyaksikan upaya-upaya untuk melakukan pembiasaan-pembiasaan syariat Islam yang dilakukan oleh para Ayahbunda. Ini adalah sebuah fenomena yang sangat menggembirakan, karena adanya kesadaran yang luar biasa dari para Ayahbunda agar anak-anak terbiasa dengan ajaran Islam

Namun demikian, program pembiasaan ini seringkali sifatnya hanyalah melatih alias kondisioning. Pada kondisioning anak-anak tidak diajarkan tentang makna, motivasi, alasan, fungsi dan manfaat dari sebuah ibadah. Mereka hanya dilatih, dilatih, dan dilatih supaya terbiasa

Perbedaan yang paling kentara antara conditioning dengan penyadaran adalah bahwa pada conditioning anak-anak tetap merasa terpaksa melakukan ibadah tersebut. Pada saat anak-anak telah dewasa biasanya pembiasaan-pembiasaan itu hilang dengan sendirinya, karena memang conditioning tidak pernah masuk ke dalam hati, hanya mempengaruhi fisik dan fikiran saja sehingga dia mudah sirna.

Berbeda dengan penanaman kesadaran, anak melakukan sesuatu karena cinta, dilakukan dengan sukarela dan atas keinginannya sendiri.

Ibadah yang tegak atas kesadaran ini, pertama tidak ada rasa berat untuk melakukannya dan biasanya ibadah yang didasari dengan kesadaran akan lebih awet karena dasarnya adalah cinta kepada yang memberikan perintah, yaitu Allah ✅

❓❓❓❓
1⃣Bunda Rita
❓Ustadz bagaimana mengembalikan hakikat ibadah kepada anak usia 15 th yg selama ini tlh terbiasa ibadah dg pola conditioning?
Terimakasih😊
👤Bunda Rita, ibadah itu adalah perintah Allah. Untuk itu, dekatkan dulu anak kita dengan Allah sebagai pemberi perintah. Jadikan mereka semakin mencintai Allah, sehingga tak mengalami kesulitan dalam mengeksekusi perintah Allah.

Setelah itu baru kita bicara tentang hakikat ibadah itu sendiri, tentang makna dan hikmahnya. Ibu juga bisa bercerita tentang pengalaman-pengalaman spiritual terhadap ibadah tertentu.

Saat terbaik untuk bercerita dan berbagi tentang hakikat ibadah adalah saat atau segera sesudah ibadah tertentu dilakukan. Misalnya, hakikat tentang shaum kita sampaikan saat shaum atau berbuka.

Pada dasarnya anak usia 15 tahun adalah generasi galau yang sangat rindu dengan sentuhan spiritual. Mari ceritakan hikmah ibadah tertentu untuk mengatasi kegalauannya 👌
❓3 th terakhir anak saya di boarding. Dan kalau pulang, ibadah yg biasa dilakukan disana, kalau di rumah ga lagi, kecuali yg ibadah wajib😓
Dia memang kelihatan galau. Seperti bingung mau ngapa ngapain. Termasuk lanjut sekolah atau tidak atau ambil kursus” pendek. Kasihan dan sedih lihatnya😞
👤Makna ibadah justru akan hilang ketika anak kita melakukan sesuatu tanpa makna. Dia akan melihatnya sebagai sebuah perbuatan sia-sia. Apalagi kalau dia lagi galau, tapi ternyata ibadah tak mampu mengatasi kegalauannya. Maka iapun makin melecehkan ibadahnya.

Untuk itu, mari ibu bantu anak ibu untuk menemukan jalan hidupnya. Ini adalah sangat tepat ia didekatkan dengan Allah. Karena orang galau sangat butuh pegangan 👌
2⃣Bunda Yanti
❓Mengajak (bukan menyuruh) anak sholat jama’ah ke masjid/mushola apakah termasuk conditioning Ustadz? Kalo iya, lalu seperti apakah contoh “best practice” dalam menanamkan kesadaran ini untuk anak di bawah 7 tahun?

Jazakalloh🙏
👤Mengajak, walau tak menyuruh, sebenarnya juga bagian dari conditioning. Namun mengajak yang disertai dengan penumbuhan nilai adalah bagian dari penyadaran.

Best practice untuk membuat anak mencintai shalat berjama’ah di masjid adalah dengan memberi keteladanan tentang shalat berjama’ah di masjid.

Tunjukkan kegembiraan saat ke masjid, sebagai ekspresi atas kecintaan pada Allah. Lalu setiap pulang dari masjid, biasakan berbagi makna dan kegembiraan atau hikmah shalat berjama’ah di masjid.

Misalnya tentang besarnya pahalah shalat berjamaah, manfaat berjamaah secara umum, dampak silaturrahim dari shalat berjama’ah barusan dsb.

Jika anak kita masih kecil, sesudah shalat berjama’ah bawakan untuknya makanan kesukaannya. Sehingga di alam bawah sadarnya ada asosiasi positif antara shalat berjama’ah, masjid dengan hal yang menyenangkan.

Usahakan pula jangan sampai anak memiliki pengalaman negatif dengan masjid, seperti speaker masjid yang memekakkan, dimarahi di masjid dsb. 👌
3⃣Bunda Widi
❓Sejak usia berapakah mulai di ajarkan penanaman kesadaran ibadah,dan bagaimana tahapannya?
Untuk usia balita yg udah sekolah tentu beda pengajarannya..
👤Penanaman kesadaran beribadah pondasinya sudah dapat kita lakukan sejak dini, yaitu dengan membuat anak cinta kepada Allah, RasulNya dan Islam. Walaupun kita belum bicara tentang ibadah, tapi kecintaan kepada AlMa’bud adalah kunci kesadaran.

Saat anak berusia tujuh tahun, pembentukan kesadaran beribadah lebih diarahkan pada ibadah itu sendiri. Saat anak berusia 7 sd 8 tahun penekanan lebih pada kesadaran daripada pelatihan. Karena pelatihan itu sebenarnya nggak sulit kok. 👌
Jika anak menyaksikan secara lahir dan bathin betapa kedua ayahbundanya beribadah dengan ikhlas dan konsisten, itu adalah pendidikan kesadaran beribadah yang luar biasa
4⃣Bunda Dila
❓Itu yg dibilang bun rita fenomena terjadi jg di keluargaku. Adek ku keluar pesantren kesadaran ibadahnya bhkan bisa dibilang lebih parah 😞
Fenomena serupa jg terjadi, dmn remaja mulai menurun kesadaran ibadahnya.. pdhl dr kecil jg lingkungannya islami..
Kenapa ya kira2 ust?
Sy lg evaluasi utk menanamkan kesadaran ibadah ini ke anak sy yg baru 2thn.. tidak mau hal2 serupa itu terulang..
🙏🙏Sy ga mau anak sy kelak ibadah krn ‘disuruh’. Di sekeliling sy kayaknya anak2 msh begitu. Ibadah krn disuruh..
👤Keteladanan adalah kuncinya. Tapi bukan hanya keteladanan lahir, yang lebih penting adalah keteladanan bathin, yaitu suasana, keikhlasan dan kegembiraan beribadah di rumah kita.

Boleh jadi aura kebahagiaan beribadah itu belum mampu “menyihir” anak-anak kita karena kita sendiri sebenarnya belum ikhlas beribadah. Kita sendir hanyalah produk conditioning dalam beribadah

Jadi, sekali lagi, cintailah Allah dengan tulus dan sepenuh cinta, karena ibadah itu hanyalah buah dari cinta. Ibadah yang lahir dari cinta akan punya “sihir” yang luar biasa bagi anak-anak kita 👌
Saya dulu punya kebiasaan : kalau ada masalah berat, lalu pulang, berwudhu, shalat lalu berdoa. Saya selalu merasa, saat galau hal terbaik yang saya lakukan adalah mengadu kepada Allah. Setelah itu saya bercerita kepada anak-istri tentang masalah saya

Ternyata itu berdampak positif terhadap anak-anak saya. Setiap mereka punya masalah, mereka shalat dan mengadu kepada Allah
5⃣Bunda Olla
❓Di borderline sekali yah ust aad. Jgn2 ortunya sendiri belum ikhlas dan bahagia dalam beribadah… sehingga keteladanan ortu pun tdk menyihir anak dlm beribadah
Ust aad.. saya mau ikutan bertanya..

1. Bagaimana dgn pembiasaan berjilbab pada anak sejak dini. Misalnya anak masih bayi dibiasakan berjilbab rapat.
2. Bagaimana dampak sekolah2 trutama sekolah yg membiasakan ibadah teratur seperti wajiba baca quran sblm bejalar, solat dhuha berjamaah dll.
3. Bagaimana dgn tugas wajib murid2 saat ramadan mengisi buku ramadan?
4. Apa yg harus sekolah lakukna untuk memperbaiki sistem tsb agar anak beribadah bukan hanya conditioning.. melainkan memang dr hati.
👤1. Jangan lupa bahwa anak-anak kita masih berhak untuk tak berhijab. Mari hormati hak anak-anak kita, agar kelak mereka juga menghormati hak-hak Allah.

2. Kalau toh sekolah melakukan conditioning, mari ayahbunda menekankan pada membangun kesadaran. Karena ayahbunda itu mendidik sedangkan sekolah itu mengajar.

3. Kita ini memang terbiasa dengan conditioning, termasuk mengisi buku Ramadhan tentang shalat tarawih dan mendengar ceramah. Yang wajib saja belum tuntas, yang tak wajib malah diwajibkan. Ini yang bikin anak benci dengan agama dan ibadah.

Jangan lupa, Imam Syafi’i tak mau shaum Ramadhan sebelum ia baligh, karena beliau sadar bahwa anak kecil belum wajib shaum.

4. Sekolah harus menjadi mitra rumah, agar berkolaborasi dalam pendidikan ibadah bagi anak. Jika kolaborasi sudah terjadi, sistem di sekolah bisa diubah. 👌

☕Diskusi Bebas☕
❓☝ust kalau boleh tanya lg nyambung pertanyaan uni ola,

Utk urusan puasa ramadhan.. sperti apa bentuk pembiasaanya. Klo td imam syafii tdk mw puasa sblm baligh, usia brp anak dilatih puasa full? Bentuknya gmn yah.. supaya g menyalahi fitrah “hak” mereka td yg mmg blm wajib.. 🙏
👤Bu Dilla, Ramadhan itu dimulai dari membangun suasana Ramadhan di Rumah kita. Dapat dimulai dari ucapan “Marhaban yaa Ramadhan” yang dipasang di pintu rumah, kaligrafi-kaligrafi di dinding-dinding, sampai indahnya sambutan berbuka untuk para shaa-imin, walau dalam bentuk kesederhanaan hidangan berbuka.

Jadikanlah berbuka puasa sebagai saat yang paling dinanti anak, sebagaimana Rasulullah SAW menyetarakan saat berbuka dengan melihat wajah Allah kelak di Surga.

Biasakan mengisi malam Ramadhan dengan dzikir, tadarus, tarawih dan bercengkrama, agar syahdunya lebih terasa. Tak ada kewajiban tarawih harus di masjid, jika di rumah terasa lebih mendidik

(Umar bin Khaththab ra, sang inisiator Tarawih, tak sekalipun tarawih di masjid)

Latihlah anak berpuasa sejak usia 7 tahun, walau hanya beberapa jam. Berikan hadiah bagi yang mampu berpuasa full. Namun jika telah berumur 10 tahun, biasakan mereka berpuasa full hanya mengharapkan hadiah dari Allah.
❓Ust aad.. maaf.. bolehkah tau referensi buku ttg iman syafi’i yg menolak puasa ramadan sebelum ia baligh?
👤Saya juga tahunya dari alumni AlAzhar, Kairo, Bu. Nggak punya referensi Buku
❓Klo yg Rasulullah puasa full sebulan cuma sekali, itu sumbernya drimana Ust. Aad?
👤Bukan puasanya Rasulullah SAW full hanya sekali dalam sebulan, namun dalam 8 kali Rasulullah bertemu Ramadhan, yang puasanya full (nggak ada yang batal) hanya satu kali Ramadhan.

Kita tahu kalau bulan Ramadhan kesibukan Rasulullah SAW bertambah luar biasa : berperang, musafir dsb, sehingga tak berpuasa.

Itu saya dengar beberapa kali dalam ceramah sejumlah ulama.

😊Semoga Bermanfaat😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s