Pendidikan Berbasis Fitrah dan Peradaban

Diskusi Emak Kekinian
📆 4 Januari 2016
Tema : Pendidikan Berbasis Fitrah dan Peradaban
Topik : Memahami Fitrah Anak dan Home Education untuk Anak
Boomber : Ust. Harry Santosa (Integrator Konsep Pendidikan, Konsultan Knowledge Management, Pembicara Dosen dan Trainer)
Moderator : Zuhay dan Alberta

☕Saya akan mulai dengan apa itu home education
👉Sepanjang sejarah, pendidikan anak, sejak lahir sampai aqilbaligh hanya mensyaratkan 1 hal yaitu, ayah dan ibu.
👉Doa yang umum kita baca ttg orangtua berbunyi “….sayangilah mereka (keduaorangtua) sebagaimana mereka “menyayangi” kami di waktu kecil”. Padahal doanya berbunyi “kamaa robbayani shoghiro”, artinya bukan sebagaimana “menyayangi” kami di waktu kecil, tetapi sebagaimana “mendidik” kami di waktu kecil. Kata Robbayani adalah bermakna menumbuhkan atau mendidik, atau tarbiyah.
👉Karenanya Home Education adalah hal yang prinsip dan wajib bagi setiap orangtua. Apa yang diamanahkan utk dididik, dirawat, ditumbuhkan dan dimintai pertanggungjawab kelak di akhirat? Tentu saja Fitrah.
Karena “setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah, dan keduaorangtuanyalah yang merubahnya menjadi yahudi, nasrani maupun majusi”, maka kewajiban para orangtua utk tidak menyimpangkannya, dan wajib merawat dan menumbuhsuburkannya sampai anak anak kita aqilbaligh.
👉Tiada seorangpun yang akan ditanya ttg fitrah anak anaknya kelak di akhirat, kecuali kedua orangtuanya. Guru dan sekolah tdk akan ditanya di akhirat.
Dari doa di atas, maka akan sulit doa anak anak kita sampai kepada kita, jika kita tdk mendidiknya langsung. Sejak lahir sampai aqilbaligh. Maka semua pakar pendidikan maupun parenting sepakat bhw sebaiknya anak tidak dititipkan ke lembaga manapun, atau dalam bahasa yg lebih ekstem, jangan dibuang ke lembaga.
👉Apakah anak tidak boleh sekolah?
Home education bukan bicara sekolah atau tdk sekolah, tetapi bicara tanggungjawab penuh orangtua thd merawat dan menumbuhkan fitrah.Home Education, karenanya berbeda dengan Home Schooling.
Home education tidak memindahkan sekolah ke rumah, tidak banyak mengajar dan mengintervensi pada anak anak. HE lebih banyak menemani dan membangkitkan gairah fitrah, baik fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah seksualitas, fitrah sosial dstnya. Namun bukan tanpa kerangka kerja ya, dibiarkan begitu saja.
Berikut framework HE berbasis fitrah dan akhkak.

Sumber: Whatshap Boomber

☕Sesi Tanya Jawab
✅Bisakah kita maksimal dlm membangkitkan gairah tsb, sedang kita sbg ortu jg minim ilmu, bagaimana baiknya?
HE tidak membutuhkan ilmu yg banyak sebagaimana guru sekolah, tetapi HE membutuhkan keyakinan, keikhlashan, keridhaan, kebersyukuran atas semua fitrah anak anak kita, lalu rileks dan optimis menumbuhkannya.
👉Maka syarat memulai HE adalah tazkiyatunnafs, mensucikan diri, banyak mendekat kpd Allah swt agar diberikan Qoulan Sadida, yaitu tutur, gagasan dan tindakan yg “berbobot” ketika membangkitkan gairah fitrah.
👉Fitrah keimanan dibangkitkan dengan keteladanan dan atmosfir keshalihan di rumah, misalnya wajah yg ceria ketika mendengar adzan atau antusias dalam berinfaq, menolong sesama dan hal2 terkait kebenaran dan amal shalih lainnya dstnya.
👉Fitrah belajar dibangkitkan dengan idea2 dan gagasan2 menantang dari peristiwa keseharian atau masalah keseharian atau minat anak pd obyek belajar tertentu. Jangan banyak bertanya, tetapi pancinglah agar anak bertanya dan mencari jawabannya bersama
👉Fitrah bakat dibangkitkan dengan perbanyak aktifitas yg disukai lalu konsisten menjalaninya
👉Jika fitrah keimanan tumbuh subur maka anak akan beriman, ridha pada kebenaran dan mencintai Allah dan RasulNya sepanjang hayatnya, mendalami agama sebagai petunjuk hidup terpenting bukan sekedar hafalan dan jumlah pengetahuan yg dikuasai dsbnya.
Jika fitrah belajar tumbuh subur, mereka akan belajar mandiri dan inovatif sepanjang hayatnya.
Jika fitrah bakatnya tumbuh subur, mereka akan menemukan peran sejatinya yg merupakan panggilan hidupnya lalu bahagia menjalaninya sampai mati
Dstnya.

✅Ustadz pertanyaan saya, dalam rangka menumbuhkan fitrah keimanan anak, bagaimana soal kondisi lingkungan yg tidak bisa sepenuhnya steril ustadz?
Jika sejak kecil anak sdh berada di lingkungan heterogen (contoh : TV dgn tontonan yg tak kondusif, orang2 dengan bahasa yang tak selalu santun), bagaimanakah menjaga akhlaq mereka?
Sterilisasi sangat tdk sehat untuk anak kita kedepan, karena anak anak harus imun bukan steril terhadap lingkungannya. Imunitas lebih sehat utk fitrahnya, sterilitas malah akan membuatnya rentan.
Tentu saja usia di bawah 7 tahun sebaiknya dipilih yang cukup steril termasuk jauhkan tv dan visual juga pengajaran kognitif, tetapi di atas 7 tahun, terpapar keburukan sekitar tidak masalah sepanjang tdk kebanyakan ya. (Kalau kebanyakan ya harus hijrah)
Misalnya tiba tiba anak kita usia 6 tahun pulang bawa “kata2 kotor”, nah justru ini kesempatan untuk memberinya pilihan dengan membangkitkan fitrah keimanannya. “Ucapan itu buruk, Allah tidak suka, bukankah kata kata ini lebih baik…”, “…pernah ga Rasululullah ngomong kasar sama manusia?” dstnya, lakukan sekreatif mungkin dengan maksud mentweak kesadarannya tanpa harus menakut nakuti dengan neraka dsbnya. Nanti usia 7-10 baru bicara hukum dan ancaman dstnya.
👉Juga, perlu dicatat kadang2 perilaku baik dan buruk muncul begitu saja. Tiba tiba si upik yang 3 tahun minta dibelikan jilbab, tiba tiba si abang rajin ikut ayah ke masjid, menyimpan baju bagus utk anak yatim dsbnya. Tapi jangan kaget jika si upik yg 3 tahun tiba tiba memukul kepala dan bilang, “bunda bego banget”, atau si abang mencuri uang dalam dompet diam diam dstnya.
👉Karena selain fitrah, Allah juga ilhamkan kebaikan dan keburukan pd diri manusia (fa’alhamahaa fujurohaaa wataqwahaaa) agar manusia memilih dan menyadari kesalahannya.
👉Maka tetap rileks, tenang dan optimis, jangan gegabah dan lebay yg akan menciderai fitrah anak anak kita yg justru kerusakannya lebih fatal dari perbuatan salah yg mereka tdk sadar melakukannya .
👉Bunda Elly Risman menasehati, jika anak salah banyaklah diam, jika anak baik banyaklah bicara baik. Dibalik ya. Kita biasanya kalau anak salah, ember banget. Kalau anak baik, yah sudah seharusnya biarin ajah.
Nasehat ini sebenarnya agar kita tdk menciderai fitrahnya, krn fitrah yg cidera lumayan sulit recoverynya. Nabi SAW marah betul ketika ada ibunda yg menarik keras bayi dari pangkuan beliau krn ibunya merasa malu, Nabi dipipisin. “Wahai bunda, pipis ini kan bisa dibersihkan, tetapi perbuatan bunda menarik dengan keras akan diingat seumur hidupnya”
Karenanya jangan remehkan perasaan anak anak, bahkan ketika bermain bersamanya kita diminta merendah dan menjadi sepertinya. Ini pahalanya setara membebaskn budak. Jika bersendagurau dengan anak dan membuatnya bahagia maka pahalanya setara orang yg menangis krn takut api neraka.

✅Dalam framework, salah satu cara membangkitkan kesadaran “Allah sebagai Rabb” untuk usia 4th adalah ibadah. Pertanyaan saya, ibadah apa yang pas, agar anak menganal Robb-nya? Apakah harus saya disiplinkan shalat 5 waktu (meskipun cuma ikut gerakan shalat saja)?
Coba lihat lagi deh frameworknya? Usia 0-7 tahun, membangkitkan kesadaran bukan menyuruhnya beribadah ritualnya, krn sholat baru disampaikan sbg perintah di usia 7 tahun. Allah SWT tidak mengatakan perintahkan anak sholat sejak dini, kan? Tetapi ketika usi 7 tahun. Apakah Allah lalai? Subhanallah. Tentu tidak mungkin.
👉 Anak dibawah usia 7, tidak bisa diam lebih dari 1 menit, apalagi diminta gerakan sholat yg formal dan kaku yg memang diperuntukkan utk 7 tahun ke atas. Jika dipaksa maka mereka bisa membenci sholat seumur hidupnya. Tentu saja efeknya tdk saat ini, tetapi di usia 10 tahun ke atas.
👉Banyak orangtua yg curhat anaknya yg remaja malas sholat, ternyata usut punya usut, orangtuanya terlalu cepat mengajarkn sholat ketika usia sebelum 7 tahun.
👉Tentu saja, kita ingin anak yg shalih kan? Tetapi jika sesuatunya dipaksa sebelum waktunya, malah merusak fitrah keimanannya. Bayangkan biji cabe yang baru merekah mengeluarkan beberapa helai daun, lalu kita paksa agar berbuah cabe sgera dgn memberi pupuk dan air yg banyak tanpa sesuai tahapan perkembangannya. Apa yg terjadi? Alih2 berbuah cabe, malah akarnya akan membusuk dan mati. Maka shabr dan rilekslah, segala sesuatu akan indah pada masanya.
👉Lalu bagaimana membuat anak kelak ketika remaja mencintai Sholat dan melakukannya dengan setia dalam keadaan apapun?
Kuncinya adalah jadikan sholat sesuatu yg indah dan menyenangkan di mata, di imaji dan di perasaannya. Hiasilah wajah bunda dengan selalu sumringah dan senyum tulus setiap adzan berkumandang, lalu raih dan peluklah anak kita dengan antusia, ciumi bau tubuhnya dan bisikan bunda sayang kamu, Allah sayang kamu… lakukan tiap adzan berkumandang. Biarkan anak2 usia 0-7 “bermain main” dengan sholat  dalam batas wajar, targetnya bukan disiplin sholat, tetapi targetnya muncul imaji dan kesan mendalam bahwa sholat itu indah banget, keren banget, mengesankan banget dstnya. Hati2 mendoktrin hukuman dan tergesa melihat anak kita “berstatus nampak shalih” sebelum membangkitkan gairah cintanya pada Allah swt.
👉Usia 0-7 kita fasilitator, usia 7-10 kita guide, usia 10-14 kita coach, usia > 15 kita partner.
Disiplin bagi mereka yg sdh punya tanggungjawab, anak anak di awah 7 tahun belum punya tanggungjawab moral
😊🙏 shabar ya bunda, bukankah lebih baik daunnya sedikit tapi akarnya dalam, daripada nampak rimbun tapi akarnya tidak dalam dan keropos? Rileks dan optimis, pertimbangkan selalu tahapan perkembangan anak.

✅Bagaimana yg dimaksud dengan menjadi partner untuk anak usia > 15?
Ketika anak sudah berusia 14-15 asumsinya anak sudah bukan anak anak lagi  tetapi sudah pemuda. Dia sudah aqilbaligh dan sudah mukalaf, atau sudah harus mampu memikul beban syariah  bukan hanya sholat dan ibadah ritual lainnya, tetapi juga dalam nafkah, jihad, nikah dstnya.
Saat anak sdh wajib memikul beban syariah maka dia sudah setara dengan kedua orangtuanya, maka saat itu orangtua sdh tdk wajib lagi menafkahi dan kalaupun masih dinafkahi, itu bukan nafaqoh tetapi shodaqoh krn pemuda kita masih faqir miskin. Lihatlah sepanjang sejarah peradaban Islam, kita kaya dengan pemuda2 yang sdh punya peran peradaban di usia belasan tahun.
Maka peran kita bukan lagi sbg pendidik tetapi sbg partner dalam kehidupan, dalam business, dalam dakwah, dalam aktiftas sosial dstnya.
Sayangnya banyak ortu yg tdk sadar jika anaknya sdh bukan anak anak lagi  krn anggapan umum, anak kita terus anak anak sampai selesai kuliah dan bekerja di usia 23-26 tahun.
👉Pemuda usia 15 tahun ke atas, tidak bisa lagi diperlakukan spt anak anak. Pendidikan anak (pedagogi) sudah selesai. Yang ada sekarang model mendidik orang dewasa (andragogi). Islam tdk mengenal istilah remaja, bahkan dunia sampai abad ke 19.  Remaja adalah pembocahan (infantization)yg menyebabkan banyak penyimpangan fitrah generasi muda.

✅Bagaimana caranya agar anak tidak terpaksa melakukan sholat. Jika memang dari kecil tidak terlalu dibiasakan untuk beribadah?
Pembiasaan tidak selalu permanent dibanding dengan kesadaran. Banyak orang sholat tapi korupsi, itu karena sholatnya “kebiasaan” sejak dini, bukan kesadaran dan keridhaan. Kesadaran ini wilayah hati, tetapi kebiasaan ini wilayah fisik.
Jika sekarang sdh besar, maka prosesnya kembali diulang seperti mendidik fitrah keimanan saat usia dini  hanya saja keteladanan di luar rumah dan lingkungan orang2 shalihnya diperkaya.

✅ Tadi dikatakan bhw tdk butuh ilmu banyak utk HE. Bgmn dg keluarga yg terlanjur broken home. Atau Si ayah atau ibu atau keduanya be lum matang seutuhnya, krn pola asuh  yg kurang tepat dari pendahulunya, lebih mirip spt lingkaran setan, dan terpaparkan scr tdk sadar pula ke anak/ generasi selanjutnya?
Apakah produk anak tersebut akan dipastikan gagal tumbuh kembang dg baik /Atau minor akhlak?
Ada pepatah “raise your child, raise yourself”, dengan mendidik anak maka sejatinya kita sedang mendidik diri sendiri. Berapa banyak orang taubat dan menjadi berusaha baik krn ingin keturunannya baik. Dan anak anak itu so amazing, fitrahnya yg masih lurus sangat menginspirasi kebaikan dan mendorong taubat.
Lingkaran setan harus diputus, harus ada keluarga yg membantunya memberi keyakinan spt di atas. Allah tidak akan memanggil mereka yg mampu, tetapi memampukan mereka yg memenuhi panggilan Allah untuk merawat dan menumbuhkan fitrah anak anaknya.
Mendidik anak dengan perasaan, fikiran dan tangan sendiri adalah peluang memperbaiki diri sendiri.
Anak tdk mewariskan dosa kedua orangtuanya, jika ortunya menolak mendidik maka harus ada kekuarga besar yang mengadopsinya segera.

✅Dalam cara pendidikan yg dico.tohkan ali salah satunya usia 0-7th anggap anak sbg raja, dalam batasan apa saja anak diikuti kemauannya? saat berurusan dg adab dan karakter apakah bgmna cara menanamkan pd anak yg saat itu harus dianggap sbg raja?
Saya tidak menggunakan framework Sayidina Ali sepenuhnya. Pemilihan angka 7 karena ada perintah sholat. Angka 10 karena ada perintah boleh memukul jika meninggalkan sholat dan memisahkan kamar. Angka 14-15 karena kesempatan 4 tahun sejak usia 10 tahun untuk mandiri, sebagaimana para pemuda tempo dulu sejak pemuda di zaman Nabi SAW ketika Beliau menjelang tua dstnya.
Anak tdk diperlakukan sebagai raja dalam arti apa saja boleh, tetapi difasilitasi sepanjang sesuai dengan fitrah perkembangan. Jika tidak relevan atau belum waktunya, orangtua harus memiliki otoritas melarang. Misalnya calistung atau belajar kognitif formal, menonton tv, dstnya.
Mendidik adab mirip dengan mendidik fitrah keimanan, upayakan keteladanan dan suasana atau atmosfir keshalihan yang membuat mereka enjoy dan ridha melakukannya, bukan terpaksa, atau doktrin atau takut atau pembiasaan tanpa makna. Jangan berharap hasil yg segera di usia 0-7 tahun.

✅Saat home education dijalankan, bagaimana cara ortu mengevaluasi sejauh mana penyerapan ilmu yg diperoleh anak baik dalam hal akhlak, aqudah, dan ilmu umum? indikatornya spt apa?
Pendidikan fitrah, ukurannya bukan kognitif berupa penyerapan ilmu yg dikuasai  tetapi gairah. Ilmu sains/umum berubah setiap saat, yang diajarkan hari ini belum tentu berguna kelak, kepatuhan bisa bergeser. Aqidah juga sesuatu yang tidak bisa diukur dengan jumlah ilmu agama yg dikuasai. Maka ukuran terbaiknya adalah index gairah dari semua aspek fitrah: fitrah keimanan, fitrah belajar  fitrah keimanan dsbnya. Lihatlah dan amatilah, gairah anak kita dalam menjalankan  kebenaran, gairah dalam belajar dan bernalar, gairah dalam aktifitas yg sesuai bakat (sifat stau fisik).

✅ Bagaimana cara mnumbuhkan kecerdasan anak dalam membaca lingkungan sekitar, sehingga bs menciptakan karya/inovasi sbg solusi bagi permasalahan lingkungan? zaman dulu, banyak sekali cendekiawan muslim yg menjadi pencetus karya2 yg diakui dunia, rasanya saat mengalami penurunan, mungkin pendidikan berbasis fitrah bs memberikan solusi? seperti apa gambarannya?
Jika fitrah belajarnya bangkit sejak dini  maka ujungnya mereka akan jadi innovator bagi semesta alam..
Jika fitrah bakatnya bangkit dan tumbuh indah maka ujungnya mereka akan menjadi imama atau solution maker dan problem solver kehidupan.
Jika fitrah keimanannya bangkit mereka akan memiliki akhlakul karimah krn keridhaan dan kecintaannya pada alHaq.
Kadang kepanikan kita dengan menjejalkan segala sesuatu dengan segera, sebanyak mungkin, sedini mungkin, malah menghabisi fitrah2 anak anak kita.

✅Tipsnya bgmn utk setiap fitrah yg kurang terstimulan? Ustad td menyebut ” menjejalkan segala sesuatu sedini mngkin akan menghabisi fitrah anak kita”. Berarti Fitrah itu bisa habis? Berarti terlambat ? Org tua  tdk bisa memperbaiki anak yg fitrahnya kurang terstimulankah?
Pendidikan berlangsung sepanjang hayat, dan selama masih hayat dikandung badan maka masih ada peluang “kembali ke fitrah” (iedul fithrah). Tidak ada produk gagal selama mau kembali ke fitrah.
Walau kewajiban orangtua mendidik hanya sampai aqilbaligh (usia 14-15 tahun), tetapi kewajiban berdakwah dan menjaga keluarga dari api neraka berlangsung selamanya.
Anak yg sdh di atas 14-15 tahun pd ghalibnya bukan anak anak lagi, krn mereka sdh menjadi pemuda yg setara dengan kedua orangtuanya dalam kewajiban syariah dan sosialnya.
Fitrah dasarnya tidak berubah dan tdk habis, hanya tertutup dan tersimpangkan atau damage. Jika pemuda usia 15 tahun ke atas, nampak fitrahnya spt itu maka prosesnya harus diulang, tapi lebih intens (lihat framework) tapi menggunakan pendekatan pendidikan orangdewasa (andragogi). Memang recovery nya lebih sulit daripada menumbuhkan fitrah yang masih lurus pd anak anak. Tapi proses ini harus dilakukan agar siklus setannya terputus. Orangtua yg fitrahnya menyimpang berpotensi besar merusak fitrah anak2nya.
Karenanya syarat utama mendidik adalah para orangtua harus melakukan “tazkiyatunnafs” mensucikan diri, mendekat kpd Allah, berdoa yang banyak utk anak2, bermunajat setiap saat, berpuasa dstnya. Orangtua dulu menyebutnya “tirakat”. Agar Allah berikan lisan dan tutur yang lembut dan bijak, gagasan dan fikiran yang jernih dan positif serta optimis, tindakan yang tidak gegabah dan obsesif.
Untuk mendidik fitrah anak dengan baik, kita hanya memerlukan ilmu ttg merawat dan menumbuhkan fitrah dan dipandu dengan agama yg fitri agar tdk menyimpang.

☕Closing Statement
HE adalah prinsip dan bukan pilihan. HE bukan HS yang memindahkan sekolah ke rumah, tetapi fokus pada membangkitkan semua aspek fitrah. Anak bersekolah atau tidak, kewajiban HE ada di tangan para orangtua sejak anak dalam kandungan sampai aqilbaligh.
Maka sesungguhnya mendidik anak jadi shalih jauh lebih mudah dari mendidik anak jadi jahat, krn semua nya sudah Allah instal dalam fitrah. Kita hanya perlu yakin, syukur, ridha menemani anak kita membangkitkan fitrahnya dengan rilels, dan optimis. Semua metode yg ada dalam framework. Ingatlah selalu, jadilah petani bagi bunga bunga peradaban yang akan tumbuh indah mewangi apabila dirawat dan ditumbuhkan sesuai tahapannya dan keunikannya. Jadikan rumahmu dapur dapur peradaban yg akan melahirkan para khalifah peradaban sesuai fitrahnya. Jazakumullah khoiron jazaa’ .
Salam pendidikan peradaban.
Waswrwb 🙏😊

Diresume oleh : Dewi Aprilia Kurniawati
📖 : http://www.liyadewi.blogspot.com

*******************************
Alhamdulilah dapat kesempatan berdiskusi dengan pembicara yang ahli dibidang pendidikannya. Banyak sekali konsep tentang pendidikan untuk anak, mungkin kadang kita sulit mencernanya atau memahami apalagi mempraktekan. Tapi jangan lelah untuk belajar. Setiap kali kita berdiskusi dan belajar saat itu otak kita bekerja, mengevaluasi hal-hal yang mungkin kita lupa untuk kita lakukan ataupun tambahan ilmu baru.
Hal menarik yang dibahas pada diskusi diatas, kadang klo anak nakal kita ember tapi klo anak baik kita diam saja, ituuuu bener-bener salah tapiii bener-bener sering banget dilakukan orang tua seperti kebiasaan yang sudah ada tanpa sadar, aku pun mungkin masih sering lupa. Jadi diinget-inget lagi klo mengingatkan seseorang harus se private mungkin dan jika memuji orang baru boleh didepan orang banyak, kan begitu Rasulullah mengajarkan.
FYI, Ust. Harry Santosa juga ngeluarin buku ney

Klo liat buku baru bawaannya ngiler, trus ngelirik ke rak buku liat buku numpuk belom kebaca hehe.
Semoga bermanfaat resumenya yaaa see ya 😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s