Inner Child

Diskusi Emak Kekinian
Tgl: 25 Nov 2015
Boomber: Bunda Yeti (Psikolog)
Notulensi : Dewi Aprilia K.

Tema : Inner Child

🍨Menurut teorinya, diri kita ini memiliki ego state atau disebut juga mini personality. State ini memiliki perasaan dan pikiran sendiri. Ada state anak, orang tua dan orang dewasa.
🍧State anak itu sifatnya ada yang pemberontak, manja, tapi juga bisa kreatif, playful dan penuh rasa ingin tahu.
Itu yang disebut innerchild
🍧Ada state orangtua yang suka mengatur, memerintah tapi juga bisa penyayang dan pemelihara.
🍧State dewasa adalah state yang rasional dan bicara berdasar data.
Setiap state itu tidak muncul sejak lahir. Dia muncul ketika ada suatu peristiwa. Ada tujuan dan maksudnya. State bermanfaat bila ia digunakan pada saat yang tepat. Namun menjadi masalah ketika muncul di saat yang tidak tepat. State anak (innerchild) yang bermasalah, akan muncul kembali di masa depan ketika ada peristiwa yang memicunya.

Jadi misalnya ketika seseorang mengalami kekerasan atau dibully saat kecil dan menyebabkan munculnya state yang terpukul, sedih/depresif, maka state itu akan muncul di masa depan ketika dia menghadapi situadi yang sama/mirip dengan saat ia dibully.
🍨Cara menenangkan Innerchild
Penanganan innerchild kira2 sama dengan ketika kita menenangkan anak kecil. Bedanya kalau biasanya anak kecil itu ada di luar diri kita. Entah itu anak kita sendiri, murid atau anak orang lain, maka innerchild adalah anak yg berada dalam diri kita sendiri.
1. 😄Empty Chair. Jadi anda duduk di kursi kemudian sediakan kursi kosong di hadapan anda. Beri nama innerchild itu, misalnya namanya ‘TAKUT. Kemudian tanyakan perasaan si Takut tersebut. Ketika si Takut menjawab pertanyaan, maka anda harus pindah duduk di kursi si Takut. Biarkan si Takut mengungkapkan perasaannya yg terganjal selama ini. Ungkapkan juga pikiran2nya dan perkataan yg dulu tidak berani di sampaikan. Bila sudah, maka pindahlah ke kursi yang lain dan gunakan state penyayang. Dan katakan kata2 penerimaan, dukungan serta ‘peluklah’ hingga si Takut merasa tenang. Memeluk itu berarti ada dalam bayangan semuanya. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan membuat percakapan tertulis antara si Takut dengan ‘ibu’.
2. Introject. Introject adalah state ayah. Bukan ayah beneran. Jika anda bisa dan berani untuk sekarang ngomong langsung pada ayah sebetulnya boleh saja. Tapi kalau state penyanyi ini belum cukup kuat, maka bicara langsung dengan ayah akan menjadi kontraproduktif. Dalam banyak kasus berat, bahkan degan introject pun orang bisa sangat ketakutan. Maka introjectnya ‘diperkecil’ hingga sebesar ibu jari misalnya. Itu semua kerja di otak.
Ada banyak teknik lain, tapi prinsipnya adalah innerchild yang terluka ini diredakan emosinya.
🍨Ada sementara orang yang hanya bisa menangis atau curhat dalam hati kepada Allah. Ini tidak cukup. Karena emosi yang ditahan itu perlu diartikulasikan dengan bahasa atau kata2.
Ketika emosi diartikulasikan, maka otak korteks akan bekerja dan membuat seseorang menjadi lebih bisa berpikir. Kalau hanya menangis maka hanya otak limbik yang bekerja.
🍨Innerchild ituvkita ingat tadi adalah state anak. Apa saja sifat anak tersebut? Egosentris, hanya memikirkan diri sendiri, melihat dari sudut pandangnya sendiri, membutuhkan pemuasan keinginan dengan segera. Dan segala sifat anak kecil yg sedang marah. Dan anak kecil yg ngambek berarti perlu disayang. Gak akan mempan dinasihati. Sekalipun sdh banyak umurnya (saya gak pakai istilah ‘dewasa’), kalau state bocah ngambeknya keluar ya tetaplah bocah. Meskipun dia laki2.
🍨Emosi (kerja otak limbik) itu perlu diterima. Nasihat baru bisa diberikan ketika emosi reda. (Kerja otak korteks). Jadi dalam komunikasi ada istilah pacing-leading  Pacing artinya menyamakan perasaan kita.Jadi ketika seseorang berbicara tentang perasaannya, terima dulu. Misalnya berkata, ‘Oh iya ya … ‘ Dengarkan saja dia menyampaikan semua perasaannya. Kita paling hanya mengangguk dan mengatakan ‘ya’. Bukan untuk setuju, tapi untuk membuat pacing. Setelah terlihat orang tsb. Percaya pada kita, dan dia kelihatan sdh reda emosinya, baru kita ajak dia untuk berada dalam posisi ibunya dengan mengajukan pertanyaan, bukan dengan membuat kesimpulan. Seringkali bahkan, orang bisa menemukan kesimpulan sendiri setelah dia cerita panjang lebar.
🍨🍧🍦Jadi ajari anak kita untuk mengartikulasikan emosi/perasaan dan pikirannya. Sehingga ketika ia marah, sedih, kesal atau memendam perasaan tak nyaman lainnya, ia tidak menyimpannya dalam hati dan berpeluang menimbulkan masalah di masa depan.
Dan terimalah emosi anak. Tahan diri untuk tidak segera menasihati. Tunggu hingga benar2 reda emosinya.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s